Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 179.


Setelah menurunkan Nyonya Jonathan dan Nyonya William juga barang barang mereka berdua. Mobil kembali berjalan menuju ke guest house untuk mengantar dua pengawal dan satu ekor anjing pelacak permata. Mereka semua beristirahat di guest house. Mereka akan dihubungi oleh Nyonya Jonathan jika nanti waktunya untuk mengantar ke bukit tempat permata langka.


Pintu rumah Vadeo dan Alexandria itu terbuka dan muncul sosok ibu pelayan yang berjalan dengan tergopoh gopoh menyambut dua Nyonya Senior itu.


“Nyonya apa tidak ketemu dengan mobil mereka. Mereka sudah pergi ke pantai.” Ucap Ibu pelayan itu sambil menarik dua koper besar setelah dia menjabat tangan Nyonya Jonathan dan Nyonya William.


“Tidak mobil kami tadi belok ke cabang jalan sebentar untuk cari tempat anjing buang kotoran.” Jawab Nyonya Jonathan lalu melangkah masuk. Nyonya William pun juga terus melangkah masuk dan selanjutnya kedua Nyonya itu berjalan menuju ke kamarnya.


Beberapa menit kemudian Nyonya Jonathan sudah siap dengan pakaian casual dan sepatu sport untuk jalan kaki. Dia pun segera keluar dari pintu kamarnya menuju ke kamar Sang besan perempuan.


TOK TOK TOK


TOK TOK TOK


“Oma.. sudah siap belum?” suara Nyonya Jonathan sambil masih mengetuk ngetuk pintu kamar Nyonya William. Tidak lama kemudian pintu sudah terbuka dan muncul sosok Nyonya William yang juga dengan kostum yang sama, pakaian casual dan sepatu sport untuk jalan kaki.


“Oma Jo sudah bawa jas hujan belum?” tanya Nyonya William untuk mengingatkan sang besan perempuan.


“Aku sudah taruh jas hujan di dalam tasku. Pengalamanku waktu aku ke bukit itu tiba tiba langit mendung kita sudah lari lari turun tetapi sampai di bawah ternyata tidak jadi hujan.” Ucap Nyonya William kemudian sambil menutup pintu kamar.


“Haduh aku Cuma bawa payung kecil untuk jaga jaga kalau panas nanti. Kalau pakai payung masih tampias ya kalau hujan. Aku tanya Ibu pelayan saja biar carikan jas hujan.” Ucap Nyonya Jonathan lalu mereka berdua turun ke lantai dasar lewat lift.


Setelah sampai di lantai dasar Nyonya Jonathan segera menuju ke dapur untuk mencari sang pelayan agar menyiapkan bekal makan mereka untuk dibawa ke bukit dan mencarikan jas hujan. Sedangkan Nyonya William menghubungi sopir dan pengawal agar segera datang ke rumah untuk mengantar mereka berdua menuju ke bukit pohon asam.


“Nyonya saya belum pernah ke bukit itu.” Suara Pak Sopir dari balik hand phone milik Nyonya William. Pak Sopir mengatakan hal yang sejujurnya sebab dia seringnya bertugas di sekitar pantai paling jauh menuju ke tengah daratan ya ke rumah Vadeo dan Alexandria.


“Kamu tenang saja, aku pernah ke sana. Setahuku juga cuma ada satu jalan saja.” Ucap Nyonya William dengan penuh percaya diri, lalu Nyonya William memutus sambungan teleponnya dengan Pak Sopir. Nyonya William selanjutnya pergi ke dapur untuk mengecek bekal makanan yang disediakan oleh Ibu pelayan.


Beberapa menit kemudian terdengar suara mobil masuk ke dalam halaman rumah Vadeo dan Alexandria.


“Itu mereka sudah datang. Cepat Bu.” Ucap Nyonya William pada Ibu pelayan yang belum selesai menyiapkan bekal makanan karena tadi lama dalam mencari jas hujan. Nyonya Jonathan dan Nyonya William pun sibuk membantu ibu pelayan.


Tidak lama kemudian mereka bertiga sudah selesai menyiapkan bekal makanan. Mereka pun segera melangkah meninggalkan dapur untuk menuju ke tempat mobil yang sudah menunggu.


“Nyonya hati hati ya.. yang biasa ke bukit itu Nona Twins dan Tuan Vadeo juga Tuan Richardo. Kenapa tidak menunggu mereka saja.” Ucap Ibu pelayan sambil berjalan di belakang Nyonya Jonathan dan Nyonya William.


“Terlalu lama Bu menunggu mereka. Oma William kan sudah pernah ke sana.” Ucap Nyonya Jonathan sambil terus melangkah. Ibu pelayan itu masih saja tampak khawatir.


Setelah mereka semua masuk ke dalam mobil. Mobil pun berjalan meninggalkan halaman rumah Vadeo dan Alexandria. Ibu pelayan juga berjalan menuju ke pos pintu gerbang.


“Iya Bu, mereka semua belum pernah ke sana Cuma Nyonya William itu pun baru satu kali.” Ucap Bapak petugas keamanan. Ibu pelayan pun lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke dalam rumah.


Sementara itu mobil terus melaju meninggalkan rumah Vadeo dan Alexandria.


“Sudah pokoknya terus saja jalan, sampai mentok nanti ada batu besar berhenti.” Ucap Nyonya William pada Pak Sopir dengan penuh percaya diri, padahal dia lupa saat di perjalanan dulu dia tidur dengan nyenyak.


Mobil terus melaju di atas jalan aspal yang lumayan mulus. Nyonya Jonathan dan Nyonya William pun akhirnya tertidur di dalam perjalanan.


“Hmmm Nyonya tidur padahal di depan ada jalan cabang.” Gumam Pak sopir tampak mulai bingung.


“Nyonya ini selanjutnya ke mana?” tanya Pak Sopir tanpa menoleh.


“Pokoknya terus, berhenti di batu besar.” Jawab Nyonya William masih dengan mata terpejam. Mobil terus berjalan sesuai dengan perintah Nyonya William.


Sedangkan di lain tempat dua mobil yang ditumpangi oleh keluarga Vadeo dan Bang Bule Vincent sudah memasuki kawasan pantai Alexandria. Bibir Alexandria selalu tersenyum dia sudah tidak sabar untuk segera turun. Sedangkan Valexa dan Deondria terlihat tertidur dengan pulas. Vadeo menoleh ke arah belakang dia sebenarnya ingin memangku kedua bocah itu, tetapi selalu saja mereka berdua menolak.


Tidak lama kemudian mobil sudah berhenti di depan Villa. Tampak mobil yang ditumpangi oleh Bang Bule Vincent dan Ixora pintu sudah terbuka. Bang Bule Vincent dan Ixora pun terlihat segera turun dari mobil, sesaat kemudian dua pengasuh Valexa dan Deondria yang ikut di mobil itu juga turun lalu berjalan menuju ke mobil yang ditumpangi oleh Vadeo.


“Akhirnya sampai juga.” Ucap Alexandria dengan lega sambil membuka pintu mobil. Vadeo pun tersenyum melihat Sang istri bahagia dan membayangkan enak enak bersesi sesi. Sambil masih dengan bibir tersenyum Vadeo meraih tubuh mungil anak anaknya lalu diserahkan pada pengasuh pengasuh mereka.


Mereka semua lalu turun dari mobil, dua pengasuh itu pun telah menggendong tubuh Valexa dan Deondria berjalan menuju ke bangunan Villa. Bangunan Villa itu menghadap ke arah pemandangan laut Angin laut semilir menerpa permukaan kulit dan suara deburan ombak sudah terdengar di telinga mereka.


Alexandria masih berdiri sambil membentangkan tangannya, bibirnya masih tersenyum. Sementara Vadeo masih membantu menurunkan barang barang bersama Richardo. Bang Bule Vincent dan Ixora tampak sudah berjalan sambil membawa koper mereka menuju ke bangunan Villa.


“Selamat datang Tuan dan Nyonya.” Ucap petugas penjaga Villa yang baru saja datang mendekati Vadeo dan Alexandria.


“Bagaimana kabar di sini apa sudah aman?” tanya Vadeo pada laki laki penjaga Villa itu.


“Sudah Tuan, tapi beberapa jam yang lalu terjadi baku tembak. Tiba tiba ada ombak besar datang selanjutnya sudah tidak lagi terdengar suara tembakan dan terdengar suara pengumuman kondisi sudah aman.” Jawab petugas penjaga Villa pantai itu dengan nada serius.


“Tapi Tuan...” ucap petugas penjaga Villa pantai itu kemudian.


“Tapi apa?” saut Vadeo dengan nada khawatir.


“Saya sudah siapkan kamar buat Nyonya Jonathan dan Nyonya William, tapi sampai saat ini belum datang, Saya hubungi Pak Sopir selalu jawabnya sedang dalam perjalanan.” Ucap petugas penjaga Villa itu dengan ekspresi wajah kuatir.


“Iya mereka sudah ke rumah, tidak apa apa. Nyonya Alexa sedang ngidam ingin istirahat di pantai maka kami tetap ke sini.” Jawab Vadeo dengan tenang sebab dia masih mengira Mama Mamanya akan istirahat manis di rumah tidak pergi ke bukit pohon asam.