Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 222.


Valexa dan Deondria tampak sedang sibuk. Boy melihat kedua saudara kembarnya itu dengan tatapan kagum dan heran, kepala Boy menoleh ke kiri dan ke kanan melihat jari jari mungil milik Twins yang sibuk dengan pekerjaan yang berbeda.


Sedangkan Vadeo dan Alexandria sibuk di meja kerja mereka.


Sesaat kemudian Valexa dan Deondria sudah menyelesaikan tugasnya.


“Hiiii menakutkan.” Ucap Boy saat melihat sketsa wajah seorang laki laki di atas kertas putih. Tampak sebuah sketsa wajah seorang laki laki dengan arsiran pensil yang tebal untuk menandakan orang tersebut berkulit hitam, hidung yang besar tidak proporsional dengan ukuran wajahnya, mata juga besar dan bibir yang tebal. Sungguh benar benar sangat mirip dengan wajah Mr Le.


“Ini oyang yang menembak mobil Om Yicado. Kalau kamu lihat oyang ini hayus cembunyi.” Ucap Deondria lalu dia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tempat meja kerja sang Papa. Valexa pun juga bangkit berdiri menuju ke tempat meja kerja sang Mama yang berdekatan dengan meja kerja Sang Papa.


“Terima kasih sayang...” Ucap Vadeo menerima kertas bergambar sketsa wajah Mr Le, lalu mencium pipi Deondria kiri dan kanan.


“Cama cama Papa...” Ucap Deondria sambil tersenyum manis dan memeluk tubuh Sang Papa. Demikian pula dengan Valexa setelah menyerahkan hand phone milik sang Mama dan memberi tahu nomor hand phone yang masih berhubungan dengan Riris, Valexa pun memeluk Sang Mama, setelah Sang Mama mengucapkan terima kasih dan mencium pipinya.


“Anak anak Mama memang hebat... Mama dan Papa kalah telak dech untuk urusan beginian..” Ucap Alexandria masih memeluk tubuh Valexa, Deondria yang masih bergelayut manja di tubuh Sang Papa pun tersenyum menatap Sang Mama.


“Papa dan Mama juga hebat...” Ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan.


“Aku tidak bica menguyus peyucahaaahaaaann...” Ucap Valexa sambil tersenyum bangga menatap Sang Mama.


“Suatu saat kalian juga harus bisa mengurus perusahaan warisan Opa Opa.” Ucap Alexandria sambil mengusap usap kepala Valexa lalu Alexandria pun menoleh ke arah Deondria.


“Aku juga Aunty...” teriak Boy yang duduk di sofa sambil menatap Alexandria penuh permohonan karena dia sangat ingin bekerja di gedung Jonathan Co yang megah agar bisa punya banyak uang dan tidak dirundung lagi oleh teman temannya.


“Iya Boy cayang tapi kamu hayus yajin belajal... (Iya Boy Sayang tapi kamu harus rajin belajar...).” Ucap Deondria sambil menoleh ke arah Boy.


“Okey Sayang, kalian sekarang makan siang dulu mau ke kantin atau pesan antar?” tanya Alexandria selanjutnya sedangkan Vadeo tampak sedang sibuk menghubungi Bang Bule Vincent.


“Ke kantin caja Ma...” Ucap Valexa dan Deondria pun setuju termasuk juga Boy.


“Kalian diantar Pak Rio ya.. Mama dan Papa masih harus kerja. Nanti bawakan Mama dan Papa makan ya...” Ucap Alexandria dan tampak ketiga bocah itu pun setuju. Pak Rio yang juga berada di ruang itu pun tanggap dan segera bangkit berdiri.


Setelah ketiga bocah bersama Pak Rio melangkah keluar dari ruang kerja Vadeo. Alexandria pun segera meretas nomor hand phone yang sudah dipilih oleh Valexa.


Beberapa menit kemudian..


“Pa, benar Riris memakai nomor hand phone ini untuk menghubungi orang yang dia suruh untuk menghabisi Boy dan Wika.” Ucap Alexandria yang masih sibuk dengan lap top nya. Jari jarinya sibuk pads tuts tuts key board lap top dan pandangan mata fokus pada layar monitor lap top.


“Kurang ajar. Itu bisa untuk bukti melaporkan dia.” Suara Vadeo dengan kesal sambil menoleh ke arah Sang istri sedangkan tangannya masih memegang hand phone karena masih mendengarkan suara Bang Bule Vincent di balik layar hand phone miliknya. Bang Bule Vincent di seberang sana pun kaget mendengar umpatan Vadeo.


“Okey Ma, foto sketsa wajah buatan Aya juga sudah aku kirim ke Bang Bule Vincent. Dia akan mencocokkan dengan orang orang daftar hitam.” Ucap Vadeo yang sudah memotret gambar sketsa wajah Mr Le dan mengirimkan nya pada Bang Bule Vincent. Dan Vadeo sudah menaruh hand phone miliknya di meja karena sambungan panggilan suaranya dengan Bang Bule Vincent sudah diputus.


Sementara itu di lain tempat di rumah temannya Riris. Riris masih tertidur karena kelelahan dan kurang tidur saat tadi malam melayani Mr Le. Tubuhnya terasa remuk hingga dia pun belum sempat membeli hand phone seperti permintaan Mr Le agar dia mempunyai hand phone sendiri.


Di saat Riris masih tertidur dengan pulas. Teman Riris langsung masuk ke dalam kamar yang sedang ditempati oleh Riris.


“Ris.. Bangun! Mr Le menghubungi nih...” teriak temannya Riris sambil menggoyang goyang tubuh Riris. Riris pun membukakan matanya dan wajahnya kesal karena tidur nya diganggu.


“Ah kamu itu mengganggu tidur ku saja. Aku kan sudah kasih uang buat kamu. Jangan ganggu aku. Aku capek banget tubuhku rasanya remuk. Gila benar orang itu, bener bener maniak dan psikopat saat aku tak berdaya dia tampak senang sekali.” Ucap Riris yang masih enggan bangun.


Akan tetapi tiba terdengar suara dering hand phone di dalam kamar itu. Hand phone yang dibawa oleh temannya Riris.


“Nih, Mr Le menghubungi.” Ucap temannya Riris sambil menyerahkan hand phone milik nya kepada Riris yang masih terbaring di tempat tidur.


“Kamu terima saja.” Ucap Riris dengan malas.


“Sudah tadi, dia mau bicara langsung sama kamu.” Ucap teman Riris sambil terus menyodorkan hand phone miliknya yang masih berdering pada Riris.


Dengan malas Riris pun lalu menerima hand phone yang masih ber dering itu.


“Hallo Tuan..” suara Riris yang masih bersuara khas orang bangun tidur, dan justru semakin terdengar sexie di telinga Mr Le.


“Nona, aku sudah bekerja keras sejak pagi. Aku sudah menemukan di mana orang yang kamu inginkan itu mati.” Ucap Mr Le membanggakan diri.


“Benarkah Tuan apa mereka sudah mampus ?” tanya Riris dengan penuh semangat Riris pun menegakkan tubuhnya tidak malas malas berbaring lagi.


“Masih dalam proses Nona. Tolong sekarang juga Nona ke apartemen saya. Kita bersenang senang untuk hasil kerja kita hari ini.” Ucap Mr Le sambil tersenyum mesum di seberang sana akan tetapi senyumnya tidak dilihat oleh Riris sebab dia hanya melakukan panggilan suara.


Riris yang mendengar Wika dan Boy sudah dalam proses kerja Mr Le, tampak tersenyum senang.


“Okey Tuan, saya segera meluncur ke apartemen Tuan. Share lokasi Tuan ke hand phone ini. Maaf Tuan saya belum beli hand phone. Belum sempat.” Ucap Riris dengan serius.


“Tidak apa Nona, kalau Nona sekarang datang ke apartemen saya. Nanti saya beri hadiah hand phone baru seri terbaru. Saya belikan lewat on line.” Suara Mr Le di seberang sana yang sudah tidak sabar untuk bersenang senang dengan wanita barunya.


“Okey Tuan tunggu saya.” Ucap Riris lalu menyerahkan hand phone milik temannya itu.