
Setelah memutus sambungan telepon miliknya, Alexandria pun lalu melangkah meninggalkan dapur, dia berjalan dengan cepat menuju ke ruang kerja Vadeo.
“Nona Ixora cepat susul Nyonya Alexa, biar yang di dapur saya urus. Saya khawatir kalau Nyonya Alexa berpikir keras kandungannya akan berpengaruh.” Ucap Ibu pelayan sambil menatap Ixora yang juga sedang tampak bingung dan panik. Karena Ixora belum punya anak, banyak pelayan masih terbiasa memanggilnya dengan sebutan Nona.
Ixora pun langsung meletakkan semua yang tadi dipegangnya, dan setelah mencuci tangan dia pun melangkah meninggalkan dapur untuk menyusul Alexandria.
Beberapa menit kemudian Ixora sudah masuk ke dalam ruang kerja Vadeo. Alexa dan Richardo tampak serius menatap layar lap top yang berada di atas meja.
“Kamu hubungi orang orang yang menjaga pos terutama yang berada di pos pintu masuk utama. Saat kapal itu sudah du dalam jangkauan senjatanya segera lakukan serangan. Jangan sampai masuk ke pulau Alexandria. Aku sudah menyuruh agar pesawat tetap mendarat di pantai !” perintah Alexandria pada Richardo, lalu tampak Alexandria mulai menguasai lap top jari jarinya siap pada tuts tuts keyboard lap top. Dan Richardo sibuk mengusap usap layar hand phone miliknya untuk menghubungi semua orang orang yang bertugas di pos pos keamanan perbatasan.
Sementara itu di atas sana, di pesawat jet pribadi milik Vadeo, pesawat masih berputar putar pada ketinggian yang aman dan mencari lokasi lautan yang aman untuk melakukan pendaratan darurat.
Sedangkan Valexa dan Deondria yang kini sudah terbangun dan benar benar sudah tersadar seratus persen. Terlihat mereka berdua terus saling pandang. Tubuh mungil mereka sudah diberi pakaian pelindung oleh Vadeo dan Bang Bule Vincent. Valexa dan Deondria tampak terus saling pandang dengan tatapan yang sangat serius. Beberapa saat kemudian keduanya saling menganggukkan kepala, dan setelahnya...
“Pa, cuyuh Pak Piyot mendayattan pecawat di pantai Ayetandiya... (Pa, suruh Pak Pilot mendaratkan pesawat di pantai Alexandria....).” ucap Valexa dan Deondria sambil mendongak menatap wajah sang Papa. Sementara Vadeo yang ditatap tampak matanya terpejam dan ekspresi wajahnya terlihat sangat panik. Vadeo kini sedang berdoa.
“Pa, cuyuh Pak Piyot mendayattan pecawat di pantai tita... (Pa, suruh Pak Pilot mendaratkan pesawat di pantai kita...).” ucap Valexa sekali lagi sambil menggoyang goyang lengan Sang Papa. Vadeo yang sedang khusyuk berdoa pun membukakan matanya dan menunduk menatap Valexa.
“Apa Nak?” tanya Vadeo minta kejelasan
“Cuyuh pak Piyot mendayattan pecawat di pantai tita! (Suruh Pak Pilot mendaratkan pesawat di pantai kita).” Teriak Valexa dan Deondria dengan suara sangat lantang. Hingga semua penumpang dan kru pesawat yang berada di dalam kabin penumpang pesawat itu mendengar.
“Sayang tetapi kondisi bahaya, akan ada yang menembak pesawat kita.” Ucap Vadeo tampak semakin panik. Dan Si Kembar pun tetap menyuruh pesawat mendarat di pantai pulau Alexandria. Vadeo lalu menekan tombol yang ada di pegangan kursinya, dia memasang head set lalu berbicara agar pesawat kembali menuju ke pantai pulau Alexandria dan mendarat di sana seperti biasanya.
Setelah mendengar Sang Papa sudah memerintahkan apa yang mereka inginkan pada Pak pilot, tampak Valexa dan Deondria bersedekap kedua tangan mungilnya di dada, dan mata mereka berdua terpejam. Keduanya tampak serius bagai melakukan suatu telepati. Vadeo dan Bang Bule Vincent pun tidak berani mengganggu mereka berdua.
Sementara itu, di dalam pesawat itu juga namun di ruangan yang lain. Di ruang khusus awak pesawat. Pak Pilot yang mendengar perintah dari Vadeo tampak bingung karena apa yang diperintahkan oleh Vadeo bertentangan dengan SOP keselamatan penerbangan. Akan tetapi dia tidak bisa menolak perintah dari pemilik pesawat itu. Sang asisten pilot pun tampak keringat sudah mulai muncul di dahinya.
Pak Pilot mulai menjalankan lagi pesawat menuju ke pantai pulau Alexandria. Dan di saat pesawat mulai menurunkan tingkat ketinggian terdengar suara informasi dari petugas di pantai tempat pesawat akan mendarat. Agar pesawat tetap mendarat di tujuan pendaratan semula.
“Mungkin anak buah Tuan Vincent sudah melakukan perlindungan buat kita.” Gumam Pak Pilot kemudian dan selanjutnya Pak Pilot pun dengan percaya diri menjalankan pesawat menuju ke pantai Alexandria keburu bahan bakar habis di udara. Asisten pilot tampak menghapus keringat yang ada di dahinya.
Sementara itu kapal besar terus mendekat ke arah Pulau Alexandria kapal itu sudah mulai memasuki kawasan perairan pulau Alexandria. Suara sirine di pos keamanan pulau Alexandria pun sudah mulai terdengar.
“Tuan mereka sudah tahu akan kedatangan kita. Itu suara sirine sudah mereka buktikan.” Suara salah satu anak buah kapal sambil meneropong pos keamanan pulau Alexandria.
“Kamu tembak tempat pos keamanan itu jika senjata jarak jauhmu sudah menjangkau!” perintah Tuan Lim Neo.
“Siap Tuan.” Ucap anak buah kapal dia dengan alat teropong dan senjata jarak jauh mengarahkan ke target sasaran pos keamanan pulau Alexandria.
Akan tetapi sesaat kemudian mereka mendengar suara sayup sayup pesawat.
“Hah pesawat datang lagi.. kalian tembak keduanya pesawat dan pos keamanan!” perintah Tuan Lim Neo.
DORRRR
Sebuah tembakan meluncur dari senjata jarak jauh anak buah kapal besar itu. Akan tetapi karena konsentrasi terpecah tembakan meleset. Dan sesaat kemudian terdengar lagi suara tembakan dari jauh.
“Hah mereka juga melakukan tebakan jarak jauh ke arah kapal kita.” Suara Tuan Lim Neo. Tuan Lim Neo pun segera memerintahkan semua anak buahnya angkat senjata dan mulai melakukan penyerangan. Suara tembakan pun kini sudah terdengar berkali kali, baik dari arah kapal besar atau dari arah pos keamanan pulau Alexandria.
“Kurang ajar mereka melawan kita!” teriak Tuan Lim Neo dengan nada tinggi urat syaraf di wajahnya pun sudah mulai menegang karena beberapa kali kapal mereka terkena tembakan namun anak buahnya yang melakukan serangan dibalik perlindungan masih aman semua.
“Iya Tuan, kapal kita sudah beberapa kali terkena tembakan jarak jauh mereka.” Ucap anak buah kapal itu dengan nada panik sebab hampir saja dia terkena tembakan jika tidak berada di balik pelindung.
Dan sesaat kemudian mereka yang berada di butiran kapal itu mendengar suara pesawat yang semakin jelas. Salah satu anak buah kapal pun mengarahkan teropongnya ke atas.
“Tuan benar pesawat itu lagi datang. Sepertinya benar itu pesawat pemilik pulau Harta karun.” Teriak anak buah kapal setelah mendapatkan obyek yang diteropong.
“Hah! Mungkin dia sangat percaya diri jika petugas keamanan mereka bisa mengalahkan kita.” Suara Tuan Lim Neo dengan nada tinggi.
“Kalian arahkan tembakan pada pesawat itu!” perintah Tuan Lim Neo.
“Dan lepaskan bom pada pos keamanan pulau Harta karun itu. Agar mereka tidak kehabisan peluru sia sia ha.... Ha.. . !” perintah Tuan Lim Neo lagi sambil tertawa.