
Justin terus melangkah sambil menelan air liurnya, jakun nya terus saja naik turun.
Di saat sudah sampai di dekat tempat tidur Justin mengambil salah satu bantal lalu ditutupkan pada tubuh Wika. Itu hanya akal akalan Justin saja, jika Wika merespon dia akan marah marah. Namun jika Wika tidak merespon dia akan melanjutkan langkah berikutnya agar tangannya yang begitu ingin meraba tubuh mulus Wika bisa terlaksana.
Saat satu bantal ditaruh pada tubuh Wika, Wika hanya diam saja. Dengur halus suara dari mulut Wika terdengar di telinga Justin. Justin pun menaruh lagi satu bantal lainnya pada tubuh Wika, dan Wika masih saja tidak merubah posisi tidurnya , suara dengur halus juga masih didengar oleh Justin. Wika memang sudah benar benar tertidur pulas. Karena begitu capek nya dan masalah berat yang selama ini sudah teratasi Wika merasa plong hingga dia bisa tidur dengan pulas. Bagi Wika masalah terbesar nya adalah kejelasan jati diri Boy, tentang ayah kandungnya dan juga dokumen dokumen resmi Boy.
Melihat Wika yang tidak merespon dengan apa yang dilakukannya. Justin pun pelan pelan naik ke atas tempat tidur itu. Justin mulai membaringkan tubuhnya di samping Wika.
Aroma harum rambut Wika tercium di hidung Justin, semakin membuat gerakan reflek kepalanya mendekati pada sumber aroma itu. Pelan pelan Justin memegang rambut panjang Wika. Wika tetap diam saja.
“Hmmm dia benar benar tertidur, apa pura pura ya...” gumam Justin yang gelisah bingung sendiri.
Tangan Justin pun mulai mengambil bantal yang tadi dia taruh pada tubuh Wika. Pelan pelan jari jarinya menyentuh lengan Wika.
CLEGUK
Justin pun menelan air liurnya, melihat Wika yang masih diam saja. Justin meneruskan gerakan tangannya, dia mulai meraba raba dan menyentuh bagian tubuh Wika yang sangat menggoda nya. Jari jari tangannya sudah tidak hanya meraba raba pada lengan Wika akan tetapi sudah berpindah pada paha dan dada Wika. Gerakan tangan Justin pun semakin tidak terkontrol nafasnya memburu, G string yang dia kenakan semakin sesak.
Dan Wika pun terbangun.
“Tuan...” ucap Wika kaget saat mata terbuka Justin sudah berada di atas tempat tidur di samping dirinya dan tangannya sedang menjamah tubuh sensitifnya.
“Jangan teriak teriak. Tadi aku lihat ada semut di tubuhmu. Aku akan mengambil semut itu akan tetapi masuk ke situ.” Ucap Justin akal akalan karena gengsi.
Mendengar jika ada semut di tubuhnya apalagi semut menjalar masuk ke bagian tubuh sensitif nya. Wika pun langsung bangkit dari tidurnya dan membuka buka lingerie yang menutupi bagian tubuh sensitif nya. Melihat tubuh bagian sensitif Wika yang sesekali menyembul terlihat membuat Justin semakin bergairah.
“Aku bantu mencari semutnya.” Ucap Justin dengan suara parau dan tangannya pun secara paksa ikut membuka buka lingerie Wika sambil meraba raba.
Mendapat rabaan dari jari jari tangan Justin tubuh Wika yang sudah lama tidak mendapat sentuhan laki laki itu pun langsung bereaksi dan minta sentuhan yang lebih.
Wika pun sudah menggeliat liat tubuhnya karena tangan Justin mulai meremaas remaas dua bukit yang sudah sejak di kamar mandi menggoda Justin.
Dan Justin pun tidak mau kalah dengan Boy yang saat bayi menikmati bukit kembar itu. Kepala Justin pun mendekat pada bukit kembar itu dan selanjutnya dia pun melahap dengan rakus.
“Tuan....” suara lirih Wika dan tangan Justin pun sudah mulai mencari cari sarang hangat buat burung nya yang sudah sejak tadi menegang.
Sementara itu di mansion utama. Boy sedang di dalam kamarnya bersama sang pengasuh. Boy sudah disuruh istirahat oleh sang pengasuh nya sejak acara penyambutan selesai. Akan tetapi Boy tidak juga bisa tidur. Boy hanya berbaring di atas tempat tidur dengan mata yang berkedip kedip dan ekspresi wajahnya tampak khawatir.
“Tuan Kecil kenapa sejak tadi tidak juga tidur. Nanti malam Tuan Kecil ngantuk. Nanti kan akan diajak Tuan dan Nyonya Vadeo untuk membeli kebutuhan Tuan Kecil dan Mama Papa Tuan Kecil.” Ucap Sang pengasuh. Karena Vadeo dan Alexandria berencana akan mengajak tiga bocah itu untuk jalan jalan di mall karena kebutuhan Justin, Wika dan Boy belum lengkap. Sekalian agar Boy semakin senang.
“Aku tidak bisa tidur Nanny. Apa Mamaku baik baik saja bersama Papa Justin kenapa aku tidak boleh ikut pada mereka. Aku kan anaknya...” ucap Boy yang sebenarnya dia ingin bergabung di kamar Wika dan Justin.
“Hmmm biar mereka juga istirahat Tuan Kecil. Sama seperti Tuan Kecil, Nona Twins pun juga tidur di kamarnya sendiri.” Ucap Sang pengasuh karena dia tahu jika selama di rumah Ibu Rina, Boy tidur satu kamar dengan Wika.
“Nanny tapi tadi Aunty Dealova pesan agar raket nyamuk itu dibawa Mama. Tapi Mama lupa tidak mengambil nya.” Ucap Boy sambil menatap raket nyamuk dan hand phone Wika yang masih berada di atas meja di kamar itu. Boy yang sensitif perasaannya bisa merasakan jika Papa nya belum menyukai dirinya dan sang Mama. Apalagi ditambah Dealova memberikan senjata pada Sang Mama, semakin membuat Boy khawatir.
“Tenang saja, Tuan Muda Vadeo akan menjaga Mama Wika dengan aman. Seluruh Mansion ini dalam penjagaan aman.” Ucap Sang pengasuh sambil menatap wajah Boy yang tampak khawatir. Boy pun menjadi tenang dan lama lama tertidur.
Sedangkan di lain tempat di suatu rumah yang kecil. Riris dan temannya sedangkan menyusun rencana untuk memisahkan Justin dari Wika dan Boy.
“Kamu tenang saja Ris, kamu kan cinta pertama Justin dan kamu sudah intim lama. Pasti Justin juga akan kembali kepada kamu.” Ucap teman Riris yang tidak tega melihat wajah sembab Riris karena terus saja menangisi nasibnya.
“Aku tidak rela. Aku tahu Justin melakukan dengan Wika tidak ada rasa cinta. Gara gara bunting dan muncul anak akhirnya mereka menikah.” Ucap Riris dengan nada kesal dan kecewa.
“Kamu hubungi saja orang yang direkomendasikan oleh Amel.” Ucap teman Riris itu sambil menatap wajah Riris dan Riris menganggukkan kepalanya.