
“Awas lampu merah!” teriak pelayan bagian logistik karena Atikah tidak mengurangi kecepatan laju mobilnya. Mata Atikah pun langsung melotot dan....
Ciiiiiiiittttttttt
Atikah mengerem mobil dengan mendadak karena dia baru sadar ternyata lampu lalu lintas sudah menyala menjadi merah. Dan mobil di depan nya pun sudah berhenti.
“Kamu itu nyetir tidak konsentrasi. Mau bikin masalah lagi?” tanya Pelayan bagian logistik dengan nada khawatir bercampur dengan kesal.
“Maaf.” Ucap Atikah pelan, keringat di dahi nya pun mulai bermunculan.
“Untung aku tidak ikut melamun.” Gumam Pelayan bagian logistik itu.
Di saat Atikah masih mengusap keringat di dahi nya dengan telapak tangannya. Tiba tiba jendela mobilnya terdengar suara ketukan dengan pelan pelan. Atikah pun menoleh ke arah suara ketukan jendela kaca mobil itu. Pelayan bagian logistik yang juga mendengar suara ketukan jendela kaca mobil itu pun juga turut menoleh.
Betapa kagetnya Atikah saat melihat sosok laki laki memakai baju seragam polisi berdiri di samping jendela mobil nya. Keringat Atikah kini tidak hanya di dahi nya akan tetapi di sekujur tubuh nya sudah mulai berkeringat.
“Buka.” Suara laki laki berseragam polisi itu.
Atikah dengan gemetar membuka kaca jendela mobil.
“Selamat pagi...” ucap laki laki berpakaian seragam polisi itu dengan suara berat.
“Selamat pagi..” ucap Atikah dan pelayan bagian logistik secara bersamaan. Cuma suara nya terdengar berbeda, suara pelayan bagian logistik biasa biasa saja sedang suara Atikah terdengar nada kekhawatiran nya.
“Tunjukkan surat surat ijin nya.” Suara laki laki berseragam polisi itu.
Atikah pun segera mengambil surat mobil dari dash board mobil dan surat ijin mengemudinya dari dalam dompet nya. Laki laki berseragam polisi itu pun segera mengecek semua surat surat yang diterima dari tangan Atikah.
“Lain kali konsentrasi dalam mengemudi kalau sakit jangan paksakan menjalankan kendaraan di jalan raya. Selain membahayakan diri sendiri juga membahayakan orang lain.” Ucap laki laki berpakaian seragam polisi itu sambil menyerahkan surat surat itu pada Atikah. Atikah pun menganggukkan kepala nya dengan lega. Laki laki berpakaian seragam polisi itu pun berjalan meninggalkan mobil yang dikemudikan oleh Atikah melangkah menuju ke pos polisi di dekat lampu merah.
“Hmmm hanya polisi lalu lintas.” Gumam Atikah dalam hati sambil menjalankan mobilnya sebab lampu lalu lintas sudah kembali menyala berwarna hijau.
Sementara itu, di belahan bumi Eropa. Waktu menunjukkan tengah malam hari. Richie yang sedang berada di salah satu ruangan mewah di gedung yang megah sedang tertawa senang. Dia sedang merayakan pesta sukses nya pengiriman barang barang nya ke Indonesia. Richie duduk di sofa dengan dikelilingi oleh wanita wanita cantik, bertubuh sexy dengan baju baju minim bahan.
“Lagi Tuan?” tanya salah satu wanita sambil menuang sebuah botol minuman beralkohol ke dalam gelas Richie.
“Hmmm ...” gumam Richie sambil mengisap satu batang cerutu.
Dua wanita yang berada di samping kanan dan kiri nya tampak mengusap usap punggung dan tengkuk Richie. Tangan Richie pun sesekali memeluk tubuh wanita wanita yang ada di dekatnya itu. Sedangkan wanita wanita yang duduk di sofa lainnya tampak bibir nya tersenyum memandang Richie sambil menikmati minuman beralkohol.
“Hmmm aku tinggal menunggu hasil dan datangnya dua bocah itu.” Gumam Richie setelah menghisap cerutu nya dalam dalam.
Richie lalu tampak mengambil hand phone dari saku jas nya dan dia dengan segera mengusap usap layar hand phone nya, dia akan menghubungi seseorang akan tetapi bukan Amelia.
Beberapa saat kemudian di saat sambungan telepon sudah terhubung dengan orang yang dituju.
“Secepatnya!” Ucap nya lagi dengan nada tinggi. Tampak Richie lalu mendengarkan suara lawan bicaranya.
“Ke Philipina, aku juga akan segera mengirim barang ke sana.” Ucap Richie selanjutnya dan lalu dia memutus sambungan teleponnya dengan Jhon. Richie tampak masih sibuk dengan layar hand phone nya.
“Sabar honey...” ucap Richie saat salah satu wanita yang berada di dekatnya sudah mulai mencumbui wajah Richie.
Richie tampak mengusap usap layar hand phone nya. Dia menghubungi jaringan bisnis nya yang berada di Philipina agar menyiapkan kedatangan John dan selanjutnya mengatur peredaran barang di sana.
“Hmmm beres semua persiapan di sana juga sudah matang. Kini saat nya kita berpesta.” Ucap Richie lalu mematikan api cerutu nya pada asbak yang berada di depan nya.
Dua wanita di dekatnya lalu membuka jas yang dikenakan oleh Richie. Dan Richie pun mulai mencumbui salah satu wanita itu. Wanita yang dicumbui oleh Richie yang sudah berhasrat sejak tadi pun dengan panas membalas cumbuan dari Richie, jari jari lentiknya pun mulai membuka kancing baju Richie satu persatu. Wanita satunya yang juga duduk di samping Richie pun tidak tahan melihat satu pasang yang bergelora, dia pun segera menundukkan badannya dan mulai mencumbui bagian bawah tubuh Richie. Dan selanjutnya ketiga orang itu pun sudah terlepas semua pakaiannya dan saling mencumbui di atas sofa panjang dan lebar itu.
Sedangkan wanita wanita lainya masih menikmati minumannya sambil menunggu gilirannya.
Malam pun semakin panas bergelora hingga pagi hari.
Sedangkan di mansion William, terjadi kehebohan dan keributan di pagi hari.
“Sayang pakai baju yang ada di sini ya.. “ bujuk Vadeo saat kedua anaknya meminta memakai baju yang ada di Mansion Jonathan.
“Atu mau pate badu ceyagam Pa.. (Aku mau pakai baju seragam Pa...)” suara mereka berdua dengan bibir cemberut, kedua nya masih memakai pakaian dalam saja, singlet dan celana dalem.
“Hari ini kan tidak memakai seragam Sayang.. hari ini jadwal kalian tour loh... kalian akan mengunjungi museum kota.” Ucap Vadeo sambil mencoba memakaikan baju pada anak anaknya.
“Atu tuh mayas te cetoyah (Aku tuh malas ke sekolah).” Ucap Valexa sambil mempermainkan rambut Sang Papa yang berjongkok di depan nya sedang memakaikan bajunya.
“Iya Pa, atu mau te yumah Ante Pin, ada yan pencing.. (iya Pa, aku mau ke rumah Uncle Vin, ada yang penting).” Ucap Deondria sambil menatap Sang Papa.
“Iya nanti sehabis pulang sekolah kalian boleh ke rumah Uncle Vin. “ ucap Vadeo sambil merapikan pakaian yang sudah dikenakan oleh Valexa.
“Tapi na pengen na cetayang... (Tapi nya pengen nya sekarang).” Suara Valexa dan Deondria dengan lantang.
Sesaat pintu kamar Alexandria terdengar suara ketukan.
TOK TOK TOK TOK
“Aca ... Aya... sudah selesai belum.. Om Richardo sudah menjemput loh....” suara cempreng Dealova di balik pintu. Kedua anak itu pun menoleh ke arah pintu.
“Cebental... (sebentar).” Teriak mereka berdua dengan lantang sampai Vadeo yang masih jongkok memakaikan baju Deondria terkaget.
...