
“Aca, Aya.. kalian tidak apa apa.” Suara Vadeo sambil menatap wajah kedua anaknya yang pipinya semburat berwarna merah jambu karena malu melihat keempat pemuda yang tanpa memakai baju.
“Papa cudah teyepon poyici (Papa sudah telepon polisi)?” Tanya Valexa dan Deondria sambil menatap Sang Papa. Vadeo pun lalu menoleh ke arah Eveline agar Eveline segera mengurus hal itu sebab Eveline yang telah berkomunikasi dengan pihak pemerintah dan jaringan kerja di sini.
“Tayo poyici cudah datan, tita macih ada tudas Pa.. (Kalau polisi sudsh datang, kita masih ada tugas Pa..).” Ucap Valexa dan Deondria selanjutnya.
Sementara itu Bang Bule Vincent mendekati keempat pemuda utusannya. Tampak mereka bercakap cakap serius. Lalu Bang Bule Vincent berjalan bersama keempat pemuda itu menuju ke kamar tempat keempat pemuda itu tinggal. Sedangkan Vadeo berjalan menuju ke ruang makan di rumah mewah Mamah Mimi itu lalu menarik taplak lebar yang menutupi meja makan itu dan setelahnya itu berjalan mendekati Mamah Mimi yang masih terkapar dan ditutupkan taplak besar lebar itu ke tubuh Mamah Mimi.
Valexa dan Deondria tampak tersenyum melihat ekspresi wajah Sang Papa. Mereka bertiga pun akhirnya berjalan mengikuti Bang Bule Vincent.
Saat sampai di dalam kamar keempat pemuda itu menceritakan jika tubuhnya terkena kontaminasi senjata rahasia buatan Ixora. Sedangkan satu pemuda pelamar dari kota tetangga yang berada satu kamar itu tampak wajahnya pucat pasi karena ketakutan.
“Bagaimana kalian bisa terkontaminasi?” ucap Bang Bule Vincent sambil mengeluarkan obat penawar dari saku celana cargonya.
“Bagaimana tidak terkontaminasi Bang. Nenek itu mengejar ngejar kami di dalam kamar mandi itu.” Ucap pengawal Dealova sambil membuka lagi bajunya. Valexa dan Deondria yang melihat langsung menutup kedua matanya dan menunduk.
“Kenapa kalian tidak lari saja dari kamar mandi? Apa kalian tidak mendengar ribut ribut di luar kamar mandi?” suara Bang Bule Vincent lagi sambil memberikan obat penawar pada tubuh salah satu utusannya itu.
“Bagaimana bisa keluar Bang. Pintu kamar mandi dikunci oleh Nenek itu. Kunci dia pegang malah dipakai untuk menggaruk garuk tubuhnya yang gatal gatal.” Saut pemuda tampan utusan Bang Bule Vincent lainnya, sambil juga membuka bajunya.
“Tidak apa Bang gatal gatal badanku yang penting burungku aman sentosa.” Ucap pengawal Dealova sambil tersenyum, sebab dia tadi sudah sangat takut saat sudah dimasukkan ke dalam bath up apalagi Mamah Mimi sudah siap siap akan turut serta masuk.
“Syukurlah kalau kalian selamat.” Ucap Bang Bule Vincent lalu memberikan obat penawar pada lainnya.
“Kak, Tuan apa sebenarnya yang sudah terjadi?” tanya pemuda pelamar dari kota tetangga itu. Bang Bule Vincent pun lalu menjelaskan pada pemuda itu. Setelah mendapat penjelasan tampak pemuda itu sangat kaget.
“Untung saya tidak menjadi korban dan baru disekap di dalam kamar saja. Tidak apa apa uang pendaftaran saya hilang yang penting saya selamat bisa kembali pulang.” Ucap pemuda pelamar itu dengan penuh rasa syukur.
“Dan ke depan jangan mudah lagi tertipu dengan iming iming gaji besar dan kerja ringan.” Saut Vadeo.
“Kalau kamu benar benar ingin kerja kenalan tuh sama Bos Vadeo ha... ha... ha...” ucap Bang Bule Vincent menatap Vadeo sambil tertawa dan terus melanjutkan mengobati pemuda pemuda utusannya itu. Pemuda tamoan pelamar kota tetangga itu pun menatap wajah Vadeo dengan tatapan penuh harap mendapatkan pekerjaan.
Beberapa menit kemudian terdengar mobil sirene polisi datang dan semakin mendekat ke arah rumah mewah Mamah Mimi. Dan mobil masuk ke dalam halaman rumah mewah Mamah Mimi. Di belakang mobil polisi yang berbunyi sirine nya ada dua mobil box berkerangkeng yang siap membawa Mamah Mimi dan orang orangnya.
Empat orang polisi turun dari mobil dan terus melangkah masuk. Mereka berempat akan menemui Eveline dan juga Vadeo maupun Bang Bule Vincent.
“Nona, Tuan terima kasih atas bantuannya.” Ucap salah satu polisi itu sambil menjabat tangan Eveline, Vadeo dan Bang Bule Vincent.
“Berterima kasih juga pada Nona Nona kecil ini Pak Polisi.” Ucap Eveline sambil tersenyum menatap Valexa dan Deondria yang kini sudah dalam gendongan Vadeo dan Bang Bule Vincent. Keempat polisi itu pun mengucapkan terima kasih pada Valexa dan Deondria. Akan tetapi mereka tidak tahu jika kedua bocah itu pimpinan tim misi kali ini.
“Kami sudah mencium kejahatan di rumah mewah ini. Tapi kami tidak bisa melawan kekuatan mistis Mamah Mimi.” Ucap salah satu polisi itu karena memang pernah ada anggotanya yang disantet oleh Mamah Mimi sebagai tanda peringatan agar tidak mengganggu Mamah Mimi dan orang orangnya.
“Okey, silahkan Bapak bapak urus mereka. Orang orang yang ada di dalam rumah ini ada merupakan korban dan ada yang sebenarnya korban tetapi karena takut menjadi orang orang yang membantu Mamah Mimi. Silahkan diproses sesuai dengan aturan.” Ucap Eveline sambil menatap polisi polisi itu.
“Geledah semua kamar di sini!” perintah Bang Bule Vincent yang teringat masih ada Nyonya Siu Lie yang berada di dalam kamar.
“Ayo Pa, Ante tebuyu padi.. (Ayo Pa, Uncle keburu pagi..).” Ucap Valexa dan Deondria bersamaan. Vadeo dan Bang Bule Vincent pun segera pamit pada keempat polisi itu sebab masih ada pekerjaan lagi.
“Pak yang di rumah praktik sudah ditangkap mereka semua sudah terkapar tapi masih hidup.” Ucap Vadeo sambil terus melangkah.
“Sudah Tuan.” Jawab salah satu polisi karena memang sudah ada mobil polisi yang menuju ke rumah praktik Mamah Mimi. Pak Polisi itu pun membungkus tubuh Mamah Mimi dengan taplak besar. Mamah Mimi masih saja menggaruk garuk tubuhnya yang sudah mulai keluar darah akibat dari goresan kuku kuku panjangnya yang dilakukan terus menerus. Mulut Mamah Mimi masih terus berteriak teriak dan menangis memanggil manggil leluhurnya dan terkadang kadang mulutnya merapalkan mantera mantra.
Waktu pun terus berlalu, beberapa ayam jantan sudah mulai ada yang berkokok. Karena hari pun sudah menjelang pagi. Sementara itu di lain tempat di hotel yang paling bagus di kota tempat Mamah Mimi tinggal. Tuan Njun Liong dan Richie sedang berada di masing masing kamarnya dengan ditemani wanita wanita penghibur. Mereka berdua benar benar bagai berbuka setelah puasa berhari hari lamanya tidak saling sentuh dan raba dengan wanita yang dilanjutkan dengan goyang goyang penyatuan dan pelepasan. Dan kini mereka lakukan dengan sepuas puasnya.