
Siang hari pun tiba, Twins sudah dengan semangat berlari keluar dari kamar menuruni anak tangga. Dua pengasuh pun ikut berlari agar tidak ketinggalan langkah kaki mungil Twins yang terus berlarian. Mereka berdua takut jika Nona Nona itu terjatuh meskipun mereka sudah tahu andai terjatuh pun Nona Nona kecil itu baik baik saja. Memar sebentar dan akan pulih dengan cepat.
“Enti ayo cepat kita jemput Boy, Boy cangat ingin liyat pecawat Papa...” teriak Deondria saat melihat Eveline yang berdiri di bawah tangga.
“Kita tunggu Om Om pengawal yang akan ikut Nona. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke Mansion.” Ucap Eveline yang baru saja dihubungi oleh temannya yang bertugas untuk ikut mengawal mereka.
“Kita tunggu di mansen kelualga.” Ucap Valexa yang terus berjalan menuju ke pintu utama Mansion. Deondria pun juga melangkah di samping saudara kembarnya. Eveline pun mau tak mau harus mengikuti langkah kaki Twins. Tiga perempuan itu memakai pakaian yang sama. Celana cargo, t shirt dan jaket jeans. Dua pengasuh yang memakai seragam pengasuh juga berjalan di belakang mereka sambil membawa tas berisi keperluan Twins.
Saat sampai di luar tampak sudah ada beberapa mobil siap untuk menjemput orang orang yang akan tiba dari pulau Alexandria. Twins segera berlari menuju ke mobil yang biasa mengantar mereka yang di dalamnya pak sopir senior sudah duduk di atas jok kemudi.
Setelah Twins, Eveline dan dua pengasuh itu masuk ke dalam mobil, mobil yang dikemudikan oleh pak sopir senior itu berjalan pelan pelan menuju ke Mansion Keluarga. Satu mobil pun mengikuti berjalan di belakangnya. Sedang mobil lainnya masih menunggu perintah.
Sementara itu di kamar pengantin. Boy sudah tampil dengan pakaian sama seperti Twins mereka bertiga memang sudah janjian mengenakan baju dengan model yang sama. Wika pun tampil cantik dengan celana jeans dan baju atasan blues yang sopan. Sedangkan. Justin masih sibuk di depan lemari, Justin tampak bingung memilih baju untuk dirinya.
“Papa Nona Twins sudah menuju ke sini.” Ucap Wika yang sudah dihubungi oleh Eveline.
“Tolong pilihkan baju buat aku, agar tampak serasi dengan kamu, agar Papa Jo senang melihatnya.” Ucap Justin yang masih bingung memilih milih baju. Wika tersenyum lalu berjalan mendekati suaminya untuk memilihkan baju. Hanya masalah memilihkan baju akan tetapi itu bagi Wika sangat membuatnya senang sebab Justin sudah mulai membutuhkan dirinya tidak hanya untuk urusan ranjang.
Sesaat kemudian Justin pun sudah selesai berpakaian dan tampak serasi dengan Wika. Boy yang melihat Mama dan Papa nya memakai baju yang serasi seperti Uncle Deo dan Aunty Alexa tampak tersenyum lebar.
“Papa, apa Papa bisa mengemudikan mobil?” tanya Boy sambil menatap wajah Papanya yang terlihat sedikit tegang.
“Bisa.” Jawab Justin singkat.
“Nanti Papa yang kemudikan mobil aku duduk di depan ya? Orang jahatnya kan sudah ditangkap.” Ucap Boy selanjutnya.
“Surat izin mengemudi sudah tidak berlaku lagi punya Papa. Papa juga sudah lama tidak mengemudikan mobil, lalu lintas lima tahun lalu sudah beda dengan sekarang. Biar sopir saja yang bawa mobil.” Ucap Justin dan tampak wajah Boy kecewa.
“Jangankan bawa mobil Boy, Papa sebenarnya belum percaya diri untuk menemui orang orang nanti. Hmmm apalagi nanti harus bertemu dengan Tuan dan Nyonya William.” Gumam Justin dalam hati.
“Apa Tuan dan Nyonya William akan marah pada aku nanti ya. Aku sudah membuat ketiga puterinya bermasalah.” Gumam Justin yang ekspresi wajahnya masih tampak panik.
“Pa jangan diambil hati ucapan Boy, tidak semua keinginan nya harus dituruti.” Ucap Wika yang mengira wajah panik Justin karena sudah membuat Boy kecewa.
“Aku tidak apa apa kok Pa..” ucap Boy lalu memegang tangan Papanya untuk memastikan dia baik baik saja. Justin pun tersenyum menatap Boy akan tetapi hatinya masih khawatir jika nanti bertemu Tuan dan Nyonya William. Namun Justin hanya memendam sendiri di dalam hati.
Sesaat pintu kamar itu diketuk ketuk dari luar. Dan Boy pun segera berlari untuk membukakan pintu sebab dia sudah memastikan yang datang adalah Twins.
Dan benar saat pintu dibuka oleh Boy tampak Twins sudah berdiri dengan senyum an merekah di bibir nya.
“Ayo Boy, mobil cudah ciap...” suara Valexa dan Deondria secara bersamaan dan Boy pun menoleh ke arah orang tuanya lalu berjalan mengikuti Twins yang langsung membalikkan badan setelah memberi tahu pada Boy. Ketiga bocah itu pun berlarian meninggalkan pintu kamar menuju ke mobil.
“Ayo Pa, kasihan kalau mereka menunggu lama.” Ajak Wika pada Justin. Justin pun mengikuti langkah kaki Sang Istri. Jantung Justin berdebar debar lebih kencang karena akan berjumpa dengan Tuan dan Nyonya William.
“Hmmm terima saja apa yang akan terjadi nanti. Papa Jo pasti akan melindungi aku jika Tuan William akan memukulku.” Gumam Justin dalam hati. Dia pun sedikit membusungkan dadanya agar percaya dirinya sedikit muncul.
Beberapa menit kemudian mobil mobil sudah sampai di lapangan golf. Boy dan Twins segera turun dari mobil dan berlari menuju ke mobil golf yang siap mengantar menuju ke tempat pesawat mendarat. Ketiga bocah itu tampak riang gembira berbeda dengan Justin yang ekspresi wajahnya masih terlihat khawatir. Wika yang sejak tadi berada di sampingnya sesekali menoleh dan memperhatikan suaminya akan tetapi dia tidak berani menanyakan.
“Ayo Pa, anak anak sudah berlarian kita kan dipesan oleh Tuan dan Nyonya Vadeo untuk menjaga mereka meskipun sudah ada pengawal dan pengasuh mereka.” Ucap Wika lalu dia bergegas menyusul Boy dan Twins yang sudah berlari mendekati mobil golf. Dengan lesu karena jantung yang berdebar debar Justin pun mengikuti langkah istrinya. Para pengawal pun sudah ikut berlari mengejar Twins dan Boy.
Sesaat kemudian terdengar suara pesawat di atas langit lapangan golf.