
Bang Bule Vincent terus melangkah mendekati Nyonya William dan Nyonya Jonathan yang tidak melihat kehadirannya karena serius membuka buka lembar demi lembar manuskrip itu. Mungkin mereka berdua seperti Vadeo mencari cari jika ada gambar gambar di salah satu lembar nya, tetapi pasti bukan gambar ular besar yang dicari kedua Oma Oma itu.
“Ma, mana manuskrip itu.” Ucap Bang Bule Vincent saat sudah berada di dekat Nonya Jonathan dan Nyonya William sambil menengadahkan telapak tangannya.
“Sebentar...” ucap Nyonya William yang masih membuka buka lembar lembar manuskrip itu.
“Ma.. ditunggu Vadeo dan Tuan Rangga.” Ucap Bang Bule Vincent lagi dengn nada suara yang lebih tinggi.
“Hmmmm gini Bul, aku kasih manuskrip ini tapi bagai mana kalau kamu juga beri aku permata langka seperti punya Vadeo dan Alexandria itu.” Ucap Nyonya Jonathan sambil menatap Bang Bule Vincent dengan serius dan senyuman misterius.
“Benar Bul.” Ucap Nyonya William sambil menatap Bang Bule Vincent lalu menutup lembar lembar manuskrip itu .
“Tapi Ma..” ucap Bang Bule Vincent dengan nada suara dan ekspresi wajah bingung
“Bukannya tadi kamu bilang kamu dapat di museum Belanda.” Ucap Nyonya William dan Nyonya Jonathan secara bersamaan.
“Andai bukan permata langka tapi permata macam yang kamu berikan pada Ixora dulu itu Mama juga setuju.” Ucap Nyonya Jonathan dengan senyum lebar disertai tatapan mata berbinar binar.
“Betul Bul, kakak mu Jean kan juga ahli dalam memilih permata.” Ucap Nyonya William menambahkan .
“Gimana gimana?” tanya Nyonya William sambil membawa manuskrip dan menatap Bang Bule Vincent sambil tersenyum dan mata berkedip kedip lucu menggoda Bang Bule Vincent.
“Okey Ma.. mana manuskrip itu..” jawab Bang Bule Vincent menyetujui syarat dari Mama Mama itu agar manuskrip segera diberikan kepada nya.
“Awas kalau ingkar.” Ucap Nyonya William sambil menyerahkan manuskrip dan tas kerja Vadeo.
Vadeo pun lalu menerima manuskrip dan tas kerja Vadeo lalu segera membalikkan tubuh nya.
“Mama Mama kok ga temani Aca dan Aya?” tanya Bang Bule Vincent sambil melangkah
“Mereka minta bobok sudah sama pengasuh nya.” Jawab Nyonya Jonathan.
Bang Bule Vincent yang sudah membawa manuskrip itu segera melangkah menuju ke pintu utama Mansion. Saat sudah keluar dari pintu utama tampak Vadeo sedang berdiri di dekat mobil nya.
“Lama amat kamu Bul?” tanya Vadeo dengan suara keras dan nada kesal, dia yang tadi sudah masuk.ke dalam mobil kembali keluar dan akan menyusul Bang Bule Vincent.
“Hah butuh biaya Bro.” Ucap Bang Bule Vincent sambil membuka pintu depan mobil dan masuk ke dalam mobil dan duduk di jok depan di samping kemudi.
“Biaya apa?” tanya Vadeo sambil menyalakan mesin mobil nya sebab dia tidak memanggil pak sopir nya, dia biarkan pak sopir dan pengawal istirahat setelah makan siang.
“Manuskrip ini tadi ada di tangan Mama Mama kita. Mereka mau memberikan dengan syarat....” jawab Bang Bule Vincent yang sudah memangku manuskrip dan tas kerja Vadeo.
“Aku sudah tahu syarat nya... pasti permata....” saut Vadeo yang sudah hafal dengan kesukaan Sang Mama Jo dan akhirnya Mama William pun turut ketularan.
“Ha... Ha... Ha... iya aku nanti hubungi kak Jean, dan kamu yang transfer.” Suara Bang Bule Vincent sambil tertawa.
Dan mobil terus berjalan pelan pelan menuju ke paviliun tamu. Beberapa saat kemudian mobil sampai di depan paviliun tamu. Mereka berdua segera turun dari mobil dan melangkah menuju ke pintu paviliun tamu itu.
Sesaat kemudian Vadeo mengetuk ngetuk pintu itu dan Bang Bule Vincent setia berdiri di samping Vadeo. Dan tidak lama kemudian pintu terbuka dan muncul sosok Juna berdiri dengan bibir tersenyum dan mengangguk sopan sambil mempersilakan masuk pada Vadeo dan Bang Bule Vincent.
Sesaat Vadeo dan Bang Bule Vincent melihat Tuan Rangga yang duduk di kursi roda sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Mata Tuan Rangga terlihat sayu macam terasa berat untuk terbuka kelopak matanya.
“Tuan Rangga jika mengantuk tidur saja dulu.” Ucap Vadeo yang tidak tega melihat wajah tua Tuan Rangga dengan mata yang sayu tampak mengantuk itu.
“Tidak anak muda, mari kita lanjutkan.” Suara Tuan Rangga sambil menegakkan punggung dan kepalanya.
“Kalau aku siang tidur nanti malah malam hari aku tidak bisa tidur.” Ucao Tuan Rangga lagi sambil tersenyum menatap Vadeo.
Vadeo dan Bang Bule Vincent pun lalu berjalan menuju ke kursi untuk menempatkan diri. Bang Bule Vincent menyerahkan manuskrip pada Vadeo yang sudah duduk di samping kursi roda Tuan Rangga.
“Tadi sampai mana?” tanya Tuan Rangga sambil menerima kaca pembesar dari Juna.
“Kerajaan besar menyerang.” Jawab Bang Bule Vincent yang sudah siap dengan hand phone nya.
“Tuan pertanyaan saya belum Tuan jawab apa puteri Raja Mahadiraja kembar?” tanya Vadeo sambil membuka lembar manuskrip.
“Hmmm belum tersebut kan.” Jawab Tuan Rangga
Vadeo lalu membuka lembar yang tadi terakhir diterjemahkan oleh Tuan Rangga. Tangan Tuan Rangga pun sudah memegang kaca pembesar. Bang Bule Vincent pun siap untuk mencatat di hand phone nya.
Tuan Rangga pun mulai menerjemahkan......
Dua kekuatan prajurit dan tentara kerajaan saling melawan. Dua kekuatan yang seimbang. Banyak prajurit yang terbunuh di Kedua kekuatan kerajaan itu.
Hingga kekuatan penyerang terdesak, karena kekurangan jumlah prajurit dan senjata. Akhirnya panglima perang kerajaan besar itu dan prajuritnya yang tersisa mundur dan kembali ke kerajaan nya. Mereka dengan kuda kuda nya lari tunggang langgang menuju ke kapal perang yang membawa bala tentara dan prajurit yang kini tinggal sedikit.
“Padahal menang.” Gumam Bang Bule Vincent sambil terus mengetik.
“Tuan bagaimana dengan kedua puteri Raja Mahadiraja?” tanya Vadeo yang dia berempati karena memiliki dua puteri juga.
“Buka lembar berikutnya. “ ucap Tuan Rangga dan Vadeo pun membuka lembar berikutnya.
Raja Mahadiraja dan seluruh rakyat bahagia atas mundur nya panglima perang kerajaan besar. Mereka mengadakan pesta syukur dan penguburan untuk para prajurit dan rakyat yang menjadi korban.
Akan tetapi tujuh hari berikutnya, di atas bumi pulau Kemakmuran itu terdengar ada suara mesin yang meraung raung di udara. Dan bersamaan itu jatuh serbuk serbuk putih dari langit.
Dan beberapa hari kemudian banyak mayat tergeletak di atas bumi pulau Kemakmuran.
Mendengar dan melihat hal itu Raja Mahadiraja murka, dan menyuruh para ahli ahli dan penasehat kerajaan Asasta untuk mencari tahu penyebab kematian para rakyat nya yang terus bertambah dari hari ke hari.
“Hah kerajaan besar itu pasti menyebar racun.” Gumam Vadeo dengan nada kesal.
“Bro, dengar aja dulu napa? Bikin bingung aku yang nyatat.” Ucap Bang Bule Vincent yang selalu stand by mencatat.
“Lanjut Kek...” ucap Bang Bule Vincent
...