Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 214.


Setelah memakai gaunnya, Riris pun segera melangkah keluar dari kamar. Dia tidak bisa melangkah dengan cepat karena rasa sakit di tubuhnya masih mendera.


Saat sampai di ruangan di dalam Cafe. Mata Riris menangkap ada lima orang laki laki yang wajahnya tampak menyeramkan sedang duduk dan tampak berbicara dengan serius. Dan satu orang di antara lima orang itu adalah Mr Le.


“Hmm apa mereka teman teman Mr Le, yang akan membunuh Wika dan Boy.” Gumam Riris saat melihat Mr Le sudah duduk bersama laki laki yang berwajah menyeramkan.


“Ha... ha... pasti mereka semua memiliki nafsu yang brutal macam Mr Le, aku yakin Wika pasti akan dibunuh dengan nafsu brutal mereka.” Gumam Riris dalam hati sambil tertawa senang membayangkan Wika digarap oleh orang orang berwajah seram itu hingga membujur kaku.


Riris melangkah terus dengan tertatih tatih. Pandangan matanya mencari cari sosok temannya. Akan tetapi tidak ditemukannya.


“Di mana dia, apa sudah pulang. Sialan kalau dia sudah pulang. Mana aku ga punya hand phone.” Gumam Riris sambil celingukan mencari cari temannya.


“Honey ke sini aku kenalkan pada teman temanku.” Suara Mr Le yang melihat Riris berdiri celingukan. Dan Riris pun dengan takut takut melangkah mendekati satu set sofa yang di duduki oleh lima laki laki berwajah seram itu.


“Ini klien kita, dan sekaligus menjadi wanita ku selama kerja sama berlangsung.” Ucap Mr Le memperkenalkan Riris pada teman temannya. Tampak keempat orang itu menatap Riris.


“Mulai besok pagi kalian lihat lokasi yang biasa dua orang itu berada. Di rumah karyawan Jonathan Co itu dan juga di sekolah tempat anak itu berada. Kalian pakai orang lain untuk menggali informasi agar tidak mencurigakan.” Perintah Mr Le pada teman teman nya.


“Dengar Honey aku sudah perintahkan pada teman temanku. Ingat jika sewaktu waktu aku membutuhkan mu kamu harus siap.” Ucap Mr Le sambil menatap Riris.


“Tuan, apa lihat teman saya. Saya tidak punya hand phone yang saya pakai hand phone teman saya yang tadi menunggu di sini.” Ucap Riris dengan takut takut.


“Ha... ha... Aku kira itu hand phone kamu Honey, nanti kamu beli hand phone sendiri.” Ucap Mr Le lalu mengambil dompet nya lagi. Karena dia merasakan terpuaskan oleh Riris maka dia pun menjadi royal pada Riris.


“Tanya pelayan itu di mana teman kamu dibawa. Tadi aku kira dia seorang mata mata.” Ucap salah satu teman Mr Le.


Waktu pun terus berlalu dan pagi hari pun telah tiba. Teman teman Mr Le pun menjalankan perintah dari Mr Le. Mereka mengajak pelayan Cafe itu untuk menuju ke rumah Ibu Rina. Cafe itu kalau pagi dan siang hari tutup.


Sebuah mobil melaju kencang. Mobil yang membawa teman teman Mr Le dan satu orang pelayan yang kini sudah memakai pakaian t shirt dan celana kain biasa tampak seperti masyarakat biasa bukan kelompok pembunuh bayaran yang sekarang Bos mereka mendapat bayaran tubuh Riris.


Tujuan pertama mobil menuju ke rumah Ibu Rina. Mereka sudah mendapat informasi dari Riris jika Wika dan Boy tinggal di rumah Ibu Rina. Suasana di dalam mobil hening mereka hanya diam jika tidak ada hal penting yang perlu di sampaikan atau dipertanyakan.


Beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di dekat lokasi rumah Ibu Rina. Mobil pun berhenti agak jauh dari lokasi pintu gerbang rumah Ibu Rina agar tidak dicurigai.


“Kita tunggu dua orang itu keluar dari rumah. Berdasar informasi klien mereka berdua jika pagi hari ke sekolah TK yang tidak jauh dari sini.” Ucap salah satu teman Mr Le.


Akan tetapi beberapa menit menunggu orang yang ditunggu tidak juga keluar dari pintu gerbang. Dan sesaat kemudian pintu gerbang terbuka.


Sesaat sebuah mobil ke luar dari pintu gerbang. Mobil yang dikendarai oleh Ibu Rina. Ibu Rina tidak begitu memperhatikan ada sebuah mobil yang berhenti dan mengincar nyawa Wika dan Boy.


“Mobil hanya berisi satu orang pengemudi perempuan tua.” Gumam salah satu dari mereka.


“Ini sudah jam segini. Kamu lihat itu sudah banyak orang lewat mengantar anak anak sekolah.” Ucap yang lainnya.


“Okey kita langsung ke lokasi ke dua. Mungkin mereka sudah di sana.” Ucap yang bertugas mengemudikan mobil lalu mobil pun berjalan menuju ke lokasi TK PKK yang tidak jauh dari rumah Ibu Rina.


Beberapa saat mobil sudah sampai di dekat lokasi sekolah TK PKK, tampak banyak anak anak masih berada di halaman sekolah itu. Beberapa ibu ibu muda pun tampak masih berada di atas motor mereka karena baru saja mengantar anak anak mereka. Para ibu ibu muda itu masih tampak ramai ngobrol berbincang bincang entah apa topik yang mereka perbincangkan.


Orang orang di dalam mobil itu mengamati satu per satu anak anak dan ibu ibu muda, mereka membanding bandingkan wajah orang orang yang berada di lokasi sekolah itu dengan wajah Boy dan Wika yang berada di dalam galery photo di hand phone mereka.


“Kok tidak ada yang sama.” Gumam salah satu dari mereka, yang lain pun menyetujuinya.


“Kamu turun, katakan kamu saudara nya dari luar kota mencari itu Boy dan Wika.” Ucap salah satu dari mereka dan menyuruh pelayan Cafe itu turun untuk menggali informasi tentang keberadaan Boy dan Wika.


Pelayan itu pun segera membuka pintu mobil dan segera turun dari mobil. Tidak lupa dia membawa hand phone miliknya yang sudah ada foto Boy dan Wika di dalam galery nya.


Dia melangkah dengan santai menuju ke tempat ibu ibu muda yang masih nongkrong duduk di atas jok sepeda motor mereka.


“Selamat pagi Ibu ibu, maaf saya akan menanyakan apa anak ini sudah masuk ke dalam kelas?” tanya pelayan itu sambil menunjukkan foto Boy dan Wika yang ada di layar hand phone nya.


“Boy mah sudah pindah dari sini beberapa hari yang lalu Om.” Ucap salah satu ibu muda yang melihat foto Boy dan Wika di layar hand phone milik pelayan Cafe itu.


“Situ siapa? Bapak nya?” tanya nya kemudian.


“Iya Bu, pindah di mana ya?” jawab pelayan Cafe dan bertanya lagi.


“Bapaknya kok tidak tahu pindah di mana. Piye tho.” Saut ibu muda yang lainnya


“Bapaknya saja tidak tahu kemana Boy, pindah apalagi kita kita, saudara juga enggak.” Ucap ibu muda yang posisinya paling dekat dengan pelayan Cafe itu.


“Ha... ha... ha...” suara tawa mereka semua para ibu muda muda.


“Hah, sialan aku salah jawab.” Gumam pelayan Cafe itu lalu melangkah meninggalkan tempat ibu ibu itu nongkrong. Dia tidak mau disalahkan oleh orang orang serem yang berada di dalam mobil. Pelayan cafe itu pun melangkah memasuki halaman TK PKK itu untuk menemui guru TK itu.