
“Bisa aku yakin kamu akan segera menjadi bos besar lagi ha... ha....” ucap Patrick sambil tertawa. Lalu dia menghisap cerutu nya lagi dalam dalam sebab tinggal hisapan terakhir dan selanjutnya dia menaruh cerutu nya di asbak dengan mematikan api nya dulu di asbak itu.
“Dia kadang ada proyek untuk mencari harta karun.” Ucap Patrick lagi dan tampak Richie tersenyum senang.
“Tapi aku masih harus waspada karena pasti polisi dan agen rahasia masih mencari aku.” Ucap Richie dengan ekspresi wajah serius..
“Hmm aku harus pakai cara lain untuk membalas dendam ku pada Alexandria. Dia mungkin dengan keahliannya bisa menangkap semua orang orang ku, meretas nomor ku dan semua rekening bank ku..” gumam Richie dalam hati yang mengira Alexandria yang sudah meretas nomor nya, padahal yang melakukan Bang Bule meskipun juga karena aplikasi buatan Alexandria. Dan tertangkap nya semua anak buah nya adalah karena kemampuan Valexa dan Deondria.
....
Sementara itu di negara Indonesia Valexa dan Deondria teramat bahagia karena Sang Mama sudah berada di tengah tengah mereka.
Dan benar Sang Papa tidak boleh ikut tidur di tempat tidur yang super luas itu. Sang Papa disuruh tidur di sofa.
Valexa dan Deondria memeluk tubuh Sang Mama yang berada di antara mereka dengan sangat erat. Salah satu kaki mungil mereka berdua pun ditumpangkan di tubuh Sang Mama. Dan mulut mulut mungil itu terus saja masih bercerita tentang Atikah yang berusaha untuk menggoda sang Papa.
“Tita mendada Papa teyus loh Ma.. ( kita menjaga Papa terus loh Ma..).” Ucap mereka berdua.
“Terima kasih ya Sayang...” ucap Alexandria sambil mencium wajah kedua anak nya secara bergantian.
“Dia itu teman Papa duyu Ma, nama aceli na Ameyiya... (Dia itu teman Papa dan Mama dulu nama asli nya Amelia).” Ucap Valexa sambil masih terus memeluk tubuh Sang Mama
“Dia dadi coping dadungan denan nama Atikah.. ( Dia jadi sopir gadungan dengan nama Atikah).” Saut Deondria yang juga masih memeluk tubuh Sang Mama.
“Amelia? Mama tidak mengenal nya. Beda kelas dengan Mama mungkin, saat itu Mama juga masih kecil dan hanya sebentar di sekolah itu.” Ucap Alexandria lalu dia sedikit mengangkat kepala dan melihat Sang suami yang main game on line di hand phone nya.
“Siapa Pa? Apa pacar Papa dulu?” tanya Alexandria selanjutnya.
Vadeo tampak menghentikan permainan game nya dan mulai bangkit berdiri.
“Papa omong dayi citu aja... (Papa omong dari situ saja).” Teriak Valexa dan Deondria secara bersamaan yang tahu Papa nya akan menuju ke tempat tidur.
Vadeo pun kembali mendudukkan pantatnya di sofa sebab nekat pun juga percuma.
“Aku juga tidak begitu mengenalnya, aku sudah lupa bukan nya setelah lulus aku juga keluar negeri mencari kamu. Setelah di Indonesia pun aku sibuk dengan pekerjaan tidak ikut sibuk dengan reuni reuni.” Ucap Vadeo sambil menatap Alexandria dengan penuh kerinduan. Meskipun orang yang dia rindu ada di depan matanya akan tetapi dihalangi oleh kedua anak nya.
“Sayang biar Papa ikut gabung di sini ya.. kasihan tuh Papa...” ucap Alexandria yang dia pun juga sama perasaan nya dengan Vadeo , sangat rindu pada pasangan hidup nya itu.
“Iya boyeh.... (Iya boleh).” Ucap mereka berdua sambil tersenyum menatap Sang Papa.
Saat Vadeo akan melangkah hand phone yang dia bawa sejak tadi berdering saat dilihat Bang Bule Vincent melakukan panggilan suara. Vadeo pun menggeser tombol hijau.
“Bro apa mereka sudah bisa ditanya?” tanya Bang Bule Vincent di balik hand phone Vadeo.
“Aca, Aya .. Uncle Vin ....” ucap Vadeo
“Cudah dibiyang ndak ada oyang dahat di cini.... (Sudah dibilang tidak ada orang jahat di sini...).” teriak Valexa dan Deondria secara bersamaan sepertinya mereka berdua tidak mau diganggu saat saat bahagianya memeluk Sang Mama yang begitu kerja rindukan.
“Tayo Papa tana yadi.. bobok di copa yadi loh...( kalau Papa tanya lagi.. bobok di sofa lagi loh...).” ancam Valexa
Vadeo pun tidak mau kehilangan kesempatan dia pun segera memutus sambungan teleponnya dengan Bang Bule Vincent. Tidak hanya itu Vadeo pun juga menon aktifkan hand phone nya. Hand phone dia taruh di atas nakas dekat tempat tidur. Dan dia langsung meloncat naik ke tempat tidur dan memeluk tubuh Alexandria yang tentu saja tubuh mungil salah satu anaknya kegencet di tengah tengah.
“Tuh tan tayo Papa boyeh tidul di cini atu cecak ndak bica napas.. ,( tuh kan kalau Papa boleh tidur di sini aku sesak ndak bisa nafas..).” Teriak Deondria sambil mendorong tubuh Sang Papa.
“Sayang kamu tidur di atas Mama sini..” ucap Alexandria sambil meraih tubuh mungil Deondria
“Aku Sayang?” ucap Vadeo dengan semangat sambil mendudukkan diri dari terbaring nya.
“Deondria Pa he... he.. “ jawab Alexandria sambil tertawa kecil.
“Acccikkkk “ teriak Deondria yang lalu tidur tengkurap di atas tubuh Sang Mama. Dia sangat senang sekali sambil berkali kali menciumi wajah Sang Mama. Valexa yang juga bisa memeluk tubuh Sang Mama tidak iri pada saudara kembar nya yang tidur tengkurap di atas tubuh Sang Mama.
Sementara itu di lain tempat. Bang Bule Vincent masih gelisah menunggu informasi dari kedua ponakan nya.
“Kok diputus dan ga aktif lagi sih hand phone Vadeo.” Ucap Bang Bule Vincent karena sudah berkali kali menghubungi kontak Vadeo tetap saja tidak bisa terhubung karena off.
“Hmmm.. Apa aku hubungi hand phone Alexandria.” Gumam Bang Bule Vincent lalu dia kembali mengusap usap hand phone nya.
Berkali kali Bang Bule Vincent menghubungi nomor hand phone Alexandria akan tetapi sama saja nonor hand phone Alexandria juga off.
“Apa Vadeo dan Alexandria sedang tidak mau diganggu ya. Pasti mereka sedang melepas rindu.” Gumam Bang Bule dalam hati.
Sesaat pintu kamar Bang Bule Vincent terdengar suara ketukan. Bang Bule Vincent pun segera melangkah menuju ke pintu kamar nya. Saat pintu dibuka muncul sosok salah satu anak buah nya.
“Ada apa?” tanya Bang Bule Vincent.
“Bang Nona Ixora baru saja menghubungi aku, katanya menghubungi Bang Bule sibuk terus hand phone nya...” ucap anak buah Bang Bule itu.
“Haduh... iya iya.. Aku lupa saat nya menjemput isteriku.” Ucap Bang Bule Vincent lalu dia segera melangkah keluar dari kamarnya untuk menuju ke mobil nya guna menjemput Ixora. Karena memang dia yang menghendaki untuk mengantar jemput Ixora sang isteri tercinta dan agar disayang oleh mertua.
Saat Bang Bule melangkah menuju ke tempat mobil nya tiba tiba hand phone berdering. Bang Bule Vincent pun segera mengambil hand phone dari saku celana cargo nya. Berharap Vadeo yang menghubungi atau istri tercinta menghubunginya lagi.
Akan tetapi saat dilihat di layar hand phone nya nama pimpinan tim misi yang menghubunginya. Bang Bule Vincent pun segera menggeser tombol hijau.