
“Kan kita tidak boleh masuk oleh twins.” ucap Bang Bule Vincent masih dengan ekspresi cemas.
“Papa tadi tan duda di yual.. (Papa tadi kan juga di luar).” Ucap Valexa yang masih dalam gendongan Vadeo.
“Tapi kenapa Aya belum juga keluar Nak. Papa khawatir karena di dalam ada Richie.” Ucap Vadeo sambil menatap Valexa dengan ekspresi wajah yang lebih cemas dari pada Bang Bule Vincent.
“Bro kami tadi jalannya muter karena bawa meja dorong tidak bisa lewat tangga dan tidak ada lift. Tapi Aya malah senang suruh pelan pelan mendorongnya.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menunjuk pada suatu koridor yang menuju ke lantai bawah lewat jalan alternatif yang bukan lewat tangga tapi lantai yang menurun melandai yang biasanya dipakai lewat oleh karyawan hotel untuk membawa barang barang yang memakai alat dorong. Dan bisa juga dipakai oleh pengunjung disabilitas yang menggunakan kursi roda.
Sesaat kemudian Valexa minta diturunkan dari gendongan nya. Dan dengan segera dia melangkah menuju ke pintu kamar tempat Richie berada dengan tangan mungilnya yang siap dengan senjata kecil miliknya.
“Papa tan Uncle tundu di yual... (Papa dan Uncle tunggu di luar).” Teriak Valexa lalu kaki mungilnya menendang pintu kamar itu dan pintu terbuka sosok Valexa pun segera masuk ke dalam kamar dan daun pintu tertutup kembali.
Saat Valexa sudah berada di dalam kamar itu tampak Deondria yang masih berdiri sambil memegang senjata kecil di tangannya dengan posisi tangan lurus mengarah pada orang orang yang membahayakan menoleh ke arah pintu kamar. Saat melihat saudara kembarnya yang masuk Deondria tersenyum.
Berbeda dengan situasi kamar di tempat Tuan Njun Liong. Kamar di tempat Richie sangat berantakan. Meja dorong terlihat menggelimpang dan semua menu makanan dan minuman berceceran di lantai kamar. Asbak, Vas bunga, bantal bantal dan guling guling pun juga berantakan di lantai sebab tadi Richie dan wanita wanita penghibur itu melempari benda benda itu semua ke arah Deondria. Kaca yang berada di belakang Deondria pun retak pecah berantakan. Suara akibat yang ditimbulkan oleh benda benda berantakan itu tidak sampai terdengar di luar kamar sebab kamar memakai peredam suara super.
“Siapa yang datang kenapa mataku semakin tidak bisa melihat.“ suara Richie dengan tangan mengarahkan senjata api yang dipegangnya ke arah pintu.
Richie masih berada di atas tempat tidur dengan tubuh bagian bawahnya tertutup selimut. Para wanita penghibur juga berada di atas tempat tidur itu tertutup selimut seluruh tubuhnya mereka semua ketakutan dan berpegangan pada kaki Richie. Sedangkan satu wanita penghibur yang tadi mengambil meja dorong sembunyi di dalam kamar mandi. Para wanita penghibur itu sangat ketakutan karena Richie sudah melepaskan peluru dari senjata apinya yang tidak bersuara dengan membabi buta mungkin karena pandangan matanya yang sudah kabur karena tembakan peluru rahasia dari Deondria.
“Tuan Yiki ini atu yan datan... (Tuan Richie ini aku yang datang).” Suara Valexa lalu tangan mungilnya yang sudah siap memegang senjata segera melepaskan peluru rahasia ke arah kepala Richie.
“Hah? Kamu anak anak nakal itu sudah berada di depanku tetapi kenapa dengan mataku ini? kenapa aku tidak bisa melihat sekarang bahkan wajah dan tubuhku gatal gatal.” Ucap Richie dengan tampak bingung tangan kirinya tampak mengusap usap matanya dengan maksud agar pandangan matanya kembali jelas. Tangan kanannya masih memegang senjata api mencari cari di mana sosok dua bocah sasarannya.
“Kalian kenapa tidak bantu aku! Tangkap anak anak itu aku tidak bisa melihat!” teriak Richie sambil menendang dua wanita penghibur yang meringkuk di bawah selimut. Richie yang masih memegang senjata api itu pun kembali melepaskan peluru asal asalan. Valexa dan Deondria terus saja menghindar. Wanita penghibur itu pun semakin memegang erat kaki Richie karena takut menjadi sasaran tembak Richie.
“Tayian cedeya pate badu! (Kalian segera pakai baju).” Teriak Valexa dan Deondria lalu kedua bocah itu berjalan menuju ke pintu kamar.
Valexa dan Deondria segera membuka pintu kamar itu. Tampak Vadeo dan Bang Bule Vincent berdiri di depan pintu dengan ekspresi wajah cemas. Di belakang Vadeo dan Bang Bule Vincent juga berdiri beberapa petugas keamanan dan beberapa orang tamu hotel. Mungkin mereka penasaran dengan hal yang terjadi di kamar Richie. Mungkin meskipun sudah diberi peredam suara super kamar di sebelah masih mendengar suara gaduh. Atau entahlah.
“Sayang bagaimana?” tanya Vadeo dan Bang Bule Vincent sambil meraih tubuh mungil Valexa dan Deondria lalu digendongnya.
“Cudah ceyesai.. Bial meyeta pate badu duyu Pak... (Sudah selesai .. biar mereka pakai baju dulu Pak..).” ucap Valexa dan Deondria sambil tersenyum menatap petugas keamanan. Petugas keamanan itu pun mengangguk sambil tersenyum tidak lupa mengucapkan terima kasih pada Valexa dan Deondria.
“Tuan pimpinan kami sudah menghubungi polisi. Katanya orang yang ada di dalam kamar ini adalah buronan pengedar narkoba tingkat internasional yang melarikan diri.” Ucap petugas keamanan itu sambil menatap Vadeo dan Bang Bule Vincent.
Para tamu hotel yang berdiri di dekat situ tampak kaget mendengar ucapan petugas keamanan itu. Apalagi melihat yang menangkap buronan tingkat dunia dua anak balita. Mereka pun lalu mengarahkan kamera hand phone miliknya ke arah wajah Valexa dan Deondria. Namun Valexa dan Deondria segera menyembunyikan wajah nya pada bahu kekar Vadeo dan Bang Bule Vincent.
“Ayo tepat peldi! (Ayo cepat pergi)!” suara Valexa dan Deondria. Vadeo dan Bang Bule Vincent yang paham pun segera pergi meninggalkan tempat itu.
Orang orang itu masih saja mengikuti langkah kaki Vadeo dan Bang Bule Vincent yang berjalan dengan cepat sambil menggendong Valexa dan Deondria. Sementara Valexa dan Deondria terus saja menyembunyikan wajahnya di bahu Vadeo dan Bang Bule Vincent.
“Tolong jangan ikuti kami atau kalian aku laporkan pada polisi karena sudah mengganggu tugas kami!” bentak Bang Bule Vincent dengan nada tinggi.
“Awas kalau kalian posting apa yang sudah kalian rekam untuk konten aku tuntut kalian semua!” bentak Vadeo tidak kalah keras dari suara Bang Bule Vincent. Orang orang yang mengikuti langkah Vadeo dan Bang Bule Vincent lalu berhenti.
Vadeo dan Bang Bule Vincent segera berjalan menuju ke ruang bagian pantry untuk melepas baju seragam nya. Saat mereka sudah berada di ruang ganti, tiba tiba hand phone milik Vadeo dan Bang Bule Vincent berdering. Vadeo segera mengambil hand phone demikian juga Bang Bule Vincent.
“Richardo” gumam Bang Bule Vincent saat melihat di layar hand phone miliknya nama kontak Richardo sedang menghubungi dirinya.