
“Apa? Tita tan mau demput Mama... (Apa? Kita kan mau jemput Mama).” Ucap Valexa sambil mendongak menatap wajah Sang Papa.
“Udah ndak ada oyang dahat di cini... (Sudah tidak ada orang jahat di sini).” Suara Valexa dan Deondria secara bersamaan.
Mobil terus melaju kecepatannya pun semakin tinggi karena permintaan dari Valexa dan Deondria.
Di sepanjang perjalanan Valexa dan Deondria tampak riang gembira dan bernyanyi nyanyi Mama Pulang dengan syair dan lagu yang dia ciptakan sendiri secara dadakan.
Sesaat hand phone Vadeo yang ada di saku kemeja nya berdering kembali, Vadeo segera mengambil hand phone nya. Saat dilihat di layar hand phone nya, kontak nama Bang Bule sedang melakukan panggilan suara. Vadeo segera menggeser tombol hijau.
“Bagai mana Bro?” suara Bang Bule Vincent dari balik hand phone Vadeo.
“Mereka tidak mau diganggu kamu dengar kan, mereka sedang bernyanyi nyanyi. Kata nya sudah tidak ada orang jahat di sini.” Ucap Vadeo dengan suara agak keras agar terdengar oleh Bang Bule di seberang sana , karena suara nyanyian kedua anaknya itu sangat keras di dalam mobil yang sedang melaju.
“Kamu tunggu saja coba nanti kalau mood mereka sudah stabil, sekarang mereka sedang excited banget menyambut kedatangan Sang Mama.” Suara Vadeo lagi dengan masih keras salah satu tangannya pun menutup satu kuping nya agar bisa mendengar suara Bang Bule di balik hand phone nya.
“Okey Bro.. Aku tunggu ya.” Ucap Bang Bule dengan berteriak pula karena dia pun juga hanya sayup sayup mendengar suara Vadeo yang terkalahkan dengan suara nyanyian kedua keponakannya.
Sementara itu di belahan bumi lain, di benua Eropa. Richie kini sudah berada di suatu kota kecil kota lama yang jauh dari keramaian kehidupan glamour warga nya. Richie sudah menjual mobil nya dan dia menuju ke kota kecil itu dengan menggunakan transportasi umum, kereta api.
“Sial ! aku harus mulai dari enol lagi.” Gumam Richie sambil berjalan terpincang pincang keluar dari stasiun.
Richie akan mendatangi Patrick, salah satu temannya dulu waktu menjadi sesama nara pidana. Richie menyimpan alamat teman nya itu di dalam satu kertas kecil dan dia taruh di dalam dompet nya. Kini dia membuka lagi kertas kecil itu.
“Hmmm aku belum pernah di kota ini, pakai transport apa ya, hand phone pun aku kini tidak punya.” Gumam Richie dalam hati. Richie lalu bertanya pada petugas yang ada di pintu terluar di stasiun itu.
Saat sudah mendapatkan informasi transportasi yang harus di pakai untuk menuju ke alamat rumah Patrick, Richie lalu berjalan sambil terpincang pincang menuju ke halte bis yang ada di seberang jalan.
Beberapa menit kemudian bis yang menuju ke alamat rumah Patrick sudah tiba. Richie pun segera naik ke dalam bis itu. Richie mendapatkan pelayanan khusus sebagai penumpang difable. Richie tampak duduk dengan ekspresi wajah tampak berpikir serius.
Beberapa menit kemudian bis berhenti di halte yang harus dituruni oleh Richie. Richie pun turun dengan dibantu oleh petugas bis. Setelah turun dari bis, Richie menyusuri jalan untuk menuju ke alamat rumah Patrick.
Beberapa saat kemudian telah nampak sebuah rumah tua dengan nomor yang sama persis dengan alamat yang ada di kertas kecil milik Richie.
“Hmmm akhirnya ketemu juga.” Gumam Richie dalam hati sambil tersenyum.
Richie terus berjalan menuju rumah tua itu. Sesaat Richie sudah berada di depan pintu pagar. Rumah dengan halaman yang luas itu tampak sepi dan seram, sebab banyak teronggok barang barang kuno yang tidak terawat.
Richie mencari cari bel yang berada di dekat pintu pagar, dan tidak lama kemudian dia telah menemukan bel yang dicari, dengan segera Richie menekan tombol bel itu.
Beberapa menit kemudian muncul seorang laki laki yang kira kira berumur empat puluhan tahun. Wajahnya ditumbuhi bulu bulu, dia lah Patrick orang yang dicari oleh Richie.
“Haii Richie aku tidak menyangka akan kedatangan seorang Bos besar.” Suara lantang Patrick dengan senyuman lebar dan terus melangkah mendekati pintu pagar.
“Patrick tolong aku, aku jadi buronan dan aku sekarang sudah menjadi orang miskin.” Suara Richie pelan saat Patrick sudah membukakan pintu buat diri nya. Richie pun lalu masuk ke halaman rumah Patrick dan Patrick kembali menutup pintu pagar nya.
“Aku hanya punya uang dari hasil jual mobil yang ku jual murah sebelum mobilku dikejar oleh polisi.” Ucap Richie sambil berjalan di samping Patrick.
“Tolong aku ya, aku akan sembunyi dulu di sini aku rasa kota ini aman buat aku.” Ucap Richie saat sudah berada di depan pintu rumah Patrick.
Patrick hanya diam saja lalu dia membuka pintu rumah nya. Tampak di dalam rumah tua Patrick itu banyak benda benda antik dari banyak negara.
“Kamu sekarang jadi kolektor benda antik?” tanya Richie sambil mengedarkan pandangan matanya ke dalam rumah Patrick.
“Begitulah.” Ucap Patrick sambil terus berjalan dan mempersilahkan Richie duduk di kursi.
“Rumahku terbuka buat kamu Rich silakan kamu sembunyi di sini.” Ucap Patrick selanjutnya sambil mendudukkan pantatnya.
“Terima kasih.” Ucap Richie yang juga mendudukkan di kursi kayu tidak jauh dari Patrick.
“By the way bagaimana ceritanya kamu bisa jadi kolektor benda benda antik?” tanya Richie sambil menatap Patrick lalu mengedarkan pandangan nya lagi untuk melihat benda benda antik di sekitar tempat dia duduk.
“Sesungguhnya aku bukan kolektor ha... ha...” jawab Patrick sambil tertawa lalu menyulutkan api pada satu batang cerutu.
“Itu semua akan ku jadikan uang.” Ucap Patrick selanjutnya dan seterusnya dia menghisap cerutu nya.
“Hah? Benarkah?” tanya Richie minta kepastian.
“Iya. Selepas dari penjara, aku kesulitan mendapat pekerjaan. Mau jadi perampok lagi juga sudah susah sekarang pengamanan bank ketat. Mau merampok lewat on line aku tidak punya kemampuan.” Ucap Patrick sambil tersenyum.
“Aku akhirnya jadi tukang bersih bersih di kota ini. Dan suatu saat aku menemukan sebuah guci yang dibuang oleh pemiliknya karena retak. Aku bawa pulang aku foto dan aku posting di fb ku.” Ucap Patrick lagi lalu dia terdiam dan menghisap cerutu nya lagi. Richie masih terus menatapnya menunggu kelanjutan cerita nya.
“Beberapa hari setelah nya ada yang menghubungi aku, menanyakan apa guci itu masih di tempatku. Dan beberapa hari kemudian dia datang untuk melihat guci itu.” Ucap Patrick selanjutnya
“Dan kamu tahu? Dia membeli mahal guci itu. Dan aku disuruh mencari cari barang barang antik dia yang membelinya, dan jadilah seperti sekarang ini.” Ucap Patrick lagi sambil tersenyum lebar.
“Apa kamu juga mencuri barang barang di museum?” tanya Richie dengan senyum licik dan mata berbinar binar.
“Tidak Rich aku sudah menjalani hidup baik baik, aku kini sudah punya isteri dan sebentar lagi aku akan menjadi ayah.” Ucap Patrick dengan nada serius dan selanjutnya dia tersenyum bahagia sebab sebentar lagi dia akan mendapatkan anak di usia yang tidak lagi muda.
“Di mana isterimu?” tanya Richie sambil pandangan mata melihat ke rumah bagian belakang.
“Untuk sementara dia tinggal di apartemen. Menurut dia kata nya tidak baik hamil tinggal di antara benda benda antik ini ha... ha... Dia percaya dengan hal hal mistik itu.” Jawab Patrick sambil tertawa.
“Dia orang Asia, aku kenal dia karena orang yang membeli guci itu. Entah lah mungkin memang itu guci keberuntungan.” Ucap Patrick lagi dengan senyum bahagia.
“Apa yang membeli guci mu itu orang Asia?” tanya Richie dan Patrick pun menjawab dengan menganggukkan kepala nya sambil menghisap cerutu nya lagi.
“Apa kamu bisa mengenalkan aku pada orang yang sudah membeli guci mu itu?” tanya Richie dia pun ingin berkecimpung di bisnis benda benda antik. Dia pun berharap bisa menjelajah dengan aman ke Asia.
“Aku pun ingin mencoba peruntungan di dunia usahamu itu.” Ucap Richie lagi sambil tersenyum.
....