
“Aku akan lakukan uji DNA pada anak Wika itu. Dan jika benar benar itu adalah anak kamu. Kamu harus menikahi Wika. Dan selanjutnya kamu harus menghidupi anak istri kamu itu dengan rejeki halal.” Ucap Vadeo yang masih memegang beberapa helai rambut Justin. Dia terlihat bingung untuk menyimpan rambut rambut itu. Bapak pimpinan lapas yang mendengar akan keperluan rambut untuk uji DNA. Lalu memerintahkan petugas bawahannya untuk mengambilkan kantong plastik. Dan setelah kantong plastik ada di atas meja. Vadeo memasukkan rambut rambut Justin itu ke dalam kantong plastik lalu ditaruhnya kantong plastik itu ke dalam saku celananya.
“Deo, aku tidak yakin kalau dia anakku.” Ucap Justin lagi dengan nada serius.
“Maka kita buktikan dengan uji DNA.” Ucap Vadeo masih dengan nada kesal pada Justin.
“Sudah aku pamit masih ada pekerjaan.” Ucap Vadeo lalu dia pun pamit pada bapak pimpinan lapas.
“Deo, besok jemput aku ya...” ucap Justin yang juga ikut bangkit berdiri saat Vadeo dan bapak pimpinan lapas itu bangkit berdiri dan saling berjabat tangan.
“Wika dan Boy yang akan menjemputmu.” Ucap Vadeo lalu dia melangkah meninggalkan ruang kunjung itu sambil diantar oleh bapak pimpinan lapas. Sedangkan Justin kembali dibawa petugas lapas masuk ke dalam sel.
Vadeo terus melangkah menuju ke mobil miliknya yang terparkir. Tampak Pak Rio masih menunggu di sana.
“Tuan, maaf masih ada berkas yang belum Tuan tanda tangani. Silahkan Tuan tanda tangani di sini. Nanti semua berkas bisa saya langsung bawa ke kantor dan Tuan bisa langsung pulang tidak usah ke kantor lagi.”
“Okey okey..” ucap Vadeo lalu dia menanda tangani beberapa berkas yang masih belum selesai. Dan setelahnya Vadeo masuk mobil dan Pak Rio berjalan menuju ke mobilnya sambil membawa setumpuk berkas.
Mobil yang ditumpangi Vadeo pelan pelan meninggalkan halaman lapas tempat Justin mendekam.
“Tuan sekarang ke mana?” tanya Pak Sopir sambil terus mengemudikan mobil membelah jalan raya.
“Mansion, aku ingin istirahat.” Jawab Vadeo lalu dia menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran jok dengan rileks.
“Hmmm apa Justin aku suruh saja mengurus kebun kelapa sawit, warisan orang tuanya yang dipakai untuk bayar denda dia.” Gumam Vadeo dalam hati karena melihat Justin tadi berkebun di lahan lapas. Kebun kelapa sawit warisan Justin sudah menjadi milik Vadeo karena untuk membayar semua kejahatan yang sudah dilakukan oleh Justin pada Jonathan Co.
“Hmm nanti coba aku diskusikan dengan Alexa.” Gumam Vadeo dalam hati lagi. Dan sesaat dia mengambil hand phone miliknya dia akan menghubungi Alexa karena tiba tiba dia sudah sangat rindu dengan istrinya.
Sementara itu di Mansion Jonathan, tepatnya di kamar Valexa dan Deondria. Alexandria sedang memberi pelajaran pengenalan huruf huruf pada kedua bocah itu. Menggunakan sebuah aplikasi dan selanjutnya anak anaknya disuruh menulis pada buku tulis menggunakan pensil.
“Mama atu cetayang bica menuyis yebih banak.. (Mama aku sekarang bisa menulis lebih banyak).” Teriak Valexa yang sebelumnya baru bisa menulis nama dirinya dan nama nama anggota keluarga.
“Atu duda Ma, cudah bica menuyis denis denis buwah tan binatang... (Aku juga Ma, sudsh bisa menulis jenis jenis buwah dan binatang).” Ucap Deondria tidak mau kalah.
“Iya kalian memang pintar. Tapi besok tidak boleh malas ke sekolah biar kalian bertemu dengan teman teman dan Ibu Guru.” Ucap Alexandria sambil menatap kedua anaknya yang sedang sibuk menulis.
“Ma.. Boy bial cetoyah di tempat tita aja.. (Ma .. Boy biar sekolah di tempat kita saja...).” ucap Valexa dan Deondria secara tiba tiba.
Sesaat terdengar bunyi dering hand phone di saku celana kulot Alexandria. Alexandria pun segera mengambil hand phone miliknya.
“Papa baru aja diomongi ngebel.” Ucap Alexandria saat di layar hand phone miliknya tertera nama kontak Sang suami Vadeo sedang melakukan panggilan video. Alexandria segera menggeser tombol hijau.
“Ma, sedang apa? Mana anak anak?” suara Vadeo di balik hand phone milik Alexandria, pandangan mata Vadeo tampak sedang mencari cari.
“Papa... atu cudah bica nuyis banak.. (Papa... aku sudah bisa nulis banyak.. )” suara Valexa dan Deondria yang juga kini sudah berada di dekat Alexandria. Wajah kedua anaknya pun kini sudah terlihat di layar hand phone milik Vadeo.
“Pintar... Tapi lebih pintar kalau sudah tidak cedal alias celat... he... he.... he..” ucap Vadeo sambil tertawa kecil. Sedangkan Valexa dan Deondria tampak cemberut. Dan Vadeo malah semakin senang sudah bisa menggoda kedua buah hatinya itu, merupakan hiburan karena penatnya tubuh akibat banyak pekerjaan.
“Ya sudah Papa sudah on the way menuju Mansion, tadi baru saja dari tempat uncle Justin.” Ucap Vadeo setelah habis tawanya.
“Papa tidak lupa kan rambut Justin.” Saut Alexandria sebelum Vadeo memutus sambungan teleponnya.
“Tidak Sayang... sudah aku jebol rambut Justin.” Ucap Vadeo lalu sambungan telepon pun diputusnya. Karena Vadeo juga akan menghubungi Sang Papa Tuan Jonathan.
Akan tetapi saat sudah mencoba menghubungi nomor hand phone Tuan Jonathan, tidak bisa terhubung. Nomor hand phone Tuan Jonathan masih tidak aktif. Vadeo lalu berganti mencoba menghubungi nomor hand phone Sang Mama, sama saja tidak aktif. Demikian juga nomor Papa mertua dan Mama Mertua.
“Kenapa tidak aktif semua. Harusnya mereka sudah tiba di pulau Alexandria sejak tadi. Harusnya hand phone sudah aktif. Mereka juga tidak mengabari sudah sampai rumah tidak. Bagaimana Tuan Rangga.” Gumam Vadeo lalu dia mengusap usap hand phone miliknya untuk menghubungi nomor milik Juna. Vadeo tampak lega saat nomor milik Juna aktif.
“Selamat sore Tuan.” Sapa Juna setelah menggeser tombol hijau.
“Jun, kalian di mana?” tanya Vadeo dengan tidak sabar.
“Di Villa pantai Tuan. Kakek ingin istirahat di pantai dulu. Tidak kuat jika melanjutkan perjalanan.” Suara Juna di balik hand phone milik Vadeo.
“Terus Tuan Jonathan dan Tuan William beserta istrinya apa juga tinggal di villa pantai?” tanya Vadeo kemudian.
“Iya Tuan, mereka juga masih di villa pantai menunggu Kakek bisa melanjutkan perjalanan. Katanya besok pagi akan berangkat dan langsung menuju ke tempat pusat kerajaan Asasta.” Suara Juna dengan tenang akan tetapi membuat Vadeo menegang urat uratnya.
“Hah? Mereka akan ke bukit?” suara Vadeo dengan nada tinggi.
“Bukan Tuan ke pusat kerajaan Asasta.” Ucap Juna lagi yang tidak tahu jika pusat kerajaan Asasta ada di bukit pohon asam.
“Jun, baru saja Oma Oma itu pingsan saat naik ke bukit tempat pusat kerajaan itu. Jangan kamu antar Kekekmu itu ke bukit. Aku juga akan melarang Papa.” Ucap Vadeo lalu memutus sambungan teleponnya.