
Waktu pun terus berlalu. Di gedung Jonathan Co. Hari ini Vadeo terlihat benar benar sangat kusut wajahnya. Setelah acara meeting, dia membuka pesan chat dari Alexandria yang menyuruh dirinya untuk mengambil sampel rambut Justin dan juga perkiraan dari Si Kembar jika Riris masih berniat jahat.
“Tuan, ini berkas yang harus ditanda tangani hari ini.” Ucap Pak Rio sambil menyerahkan setumpuk berkas di hadapan Vadeo.
“Pak kantor lapas itu buka sampai jam berapa?” tanya Vadeo yang tidak tahu jadwal kunjung di lapas, sebab Vadeo selalu menolak jika diajak sang Papa untuk menengok Justin saudara sepupunya yang sudah membuatnya repot bukan kepayang.
“Tuan mau menjenguk Tuan Justin?” tanya Pak Rio.
“Iya sama tadi ditelpon oleh petugas untuk mengurus kebebasan setan alas itu.” Ucap Vadeo dengan nada kesal. Tampak Pak Rio lalu mengusap usap layar hand phone miliknya untuk mencari informasi tentang jam kerja petugas lapas dan jam jenguk pada penghuni lapas. Sebab dia pun juga belum pernah berkunjung ke lapas. Sesaat setelah mendapatkan jadwal kunjung dan jam kerja petugas lapas, Pak Rio membagikan informasi itu pada nomor hand phone milik Vadeo. Vadeo pun terlihat mengambil hand phone miliknya lalu segera membaca informasi itu.
“Ayo Pak Rio ikut aku. Aku tanda tangi berkas berkas ini di dalam mobil. Nanti bisa langsung Pak Rio bawa.” Ucap Vadeo setelah membaca jadwal kerja petugas lapas yang nyaris usai.
Mereka berdua segera bangkit berdiri dan meninggalkan ruang meeting itu. Mereka berjalan dengan cepat menuju ke lift yang akan mengantar mereka menuju ke lantai dasar tempat mobilnya terparkir.
Sesaat kemudian mereka sudah sampai di tempat parkir, Vadeo menuju ke mobil yang tadi mengantarnya dan Pak Rio yang tangannya membawa setumpuk berkas itu menaruh berkas berkas itu ke dalam mobil yang dinaiki oleh Vadeo, lalu dia berjalan menuju ke mobilnya.
“Hmmm setan alas itu benar benar merepotkan aku.” Ucap Vadeo lalu dia melanjutkan menanda tangani berkas berkas itu di dalam mobil yang sudah berjalan dari tempat parkir Jonathan Co menuju ke lapas tempat Justin mendekam. Mobil Pak Rio pun berjalan di belakangnya.
Beberapa menit kemudian dua mobil itu sudah memasuki halaman lapas. Pak Rio segera turun dari mobil dan berjalan menuju ke mobil yang membawa Vadeo.
“Apa semua berkas sudah ditanda tangani Tuan?” tanya Pak Rio setelah membukakan pintu mobil Vadeo.
“Kurang dikit. Coba kamu cek. Aku masuk menemui petugas lapas itu dulu.” Ucap Vadeo lalu melangkah keluar dari mobil menuju ke kantor lapas.
Vadeo segera melangkah menuju ke ruang tempat petugas yang tadi menghubungi dirinya.
“Silahkan masuk Tuan Vadeo.” Sosok seorang setengah baya dengan postur tubuh tinggi agak gemuk. Laki laki itu lalu mengenalkan kalau dia pimpinan lapas di situ. Dan setelahnya dia mempersilahkan Vadeo untuk duduk di kursi tamu yang ada di dalam ruangan itu.
“Tuan, tiga hari lagi Tuan Justin sudah bebas. Tuan Jonathan selalu berpesan pada saya agar membimbing Tuan Justin dengan baik. Dan dari hasil penilaian kami Tuan Justin menunjukkan sikap dan tingkah laku yang baik. Setelah dia bebas pihak keluarga yang berkewajiban untuk terus menjaga agar sikap dan tingkah lakunya tetap baik.” Ucap pimpinan lapas itu dengan nada serius. Dan selanjutnya Vadeo mewakili pihak keluarga menanda tangani beberapa surat surat.
“Apa saya boleh melihat orang itu Pak?” tanya Vadeo pada bapak pimpinan lapas itu.
“Kelompok Tuan Justin sedang melakukan kegiatan berkebun. Mari kita menuju ke kebun milik lapas ini.” Ucap Bapak pimpinan lapas itu sambil berjalan keluar ruang kerja nya dan terus melangkah melewati ruang ruang yang ada di dalam gedung itu lalu bapak pimpinan itu membuka sebuah pintu yang sangat tinggi lebar dan kuat. Saat pintu terbuka tampak sebuah hamparan tanah dengan segala macam tanaman sayur sayuran. Dan di ujung sana tampak sekelompok orang laki laki dengan seragam napi sedang sibuk bekerja ada yang mencangkul , ada yang menanam ada menyiram tanaman.
Vadeo dan bapak pimpinan lapas itu berjalan menuju ke arah mereka. Vadeo mencari cari sosok Justin.
“Itu Tuan Justin sedang berjalan membawa pupuk itu.” Ucap Bapak pimpinan lapas sambil menunjuk pada sosok laki laki yang sedang mendorong kereta beroda alias angkong yang berisi pupuk kandang.
“Justin, setan alas itu mau angkut angkut pupuk dan bertani..” gumam Vadeo yang pangling melihat sosok Justin yang kini kulitnya sedikit menghitam.
“Iya Tuan dia rajin katanya sekalian olah raga.” Ucap Bapak pimpinan lapas itu. Dan selanjutnya dia bertepuk tangan tiga kali. Para napi yang bekerja itu semua menoleh ke arah pimpinan lapas dan Vadeo. Justin di ujung sana pun melihat sosok Vadeo.
“Deo.” Gumam Justin di ujung sana. Justin tidak pangling pada sosok Vadeo. Vadeo tetap saja gagah, tampan dan keren dan bahkan semakin memesona sejak memiliki anak.
Bapak pimpinan lapas itu lalu melambaikan tangan pada Justin agar mendekat. Justin pun lalu meninggalkan kereta dorong dan melangkah menuju ke arah Vadeo dan bapak pimpinan lapas yang masih berdiri menunggu.
“Deo..” ucap Justin saat sudah berada di dekat Vadeo, dia akan memeluk Vadeo akan tatapi Vadeo mundur dengan cepat.
“Hah, kamu habis memegang kotoran hewan. Cuci tangan dulu yang bersih!” perintah Vadeo sambil menatap wajah Justin yang kini terlihat hitam mungkin karena terpapar sinar matahari saat berkebun atau aktivitas lapas lainnya.
“Iya Tuan Justin cuci tangan dan ganti baju dulu lalu datanglah ke tempat ruang kunjungan.” Ucap Bapak pimpinan lapas itu. Justin pun melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri . Sementara Vadeo dan bapak pimpinan lapas berjalan menuju ke ruang kunjung.
“Dia tampaknya sudah berubah Pak.” Ucao Vadeo sambil duduk di kursi ruang kunjung.
“Benar Tuan. Saya lihat Tuan Jonathan sering menasihati dia jika berkunjung ke sini. Dan Tuan Jonathan pernah membawa seorang perempuan dan anak laki laki untuk mengunjungi Tuan Justin. Kata perempuan itu anak laki laki yang dia bawa itu anak Tuan Justin. Tapi Tuan Justin tidak yakin.” Ucap Bapak pimpinan lapas itu, dan di saat yang bersamaan Justin sudah masuk ke dalam ruang kunjung itu.
“Belum tentu dia anakku Deo, Wika melakukan juga dengan laki laki lain. Pasti perempuan itu menginginkan menjadi bagian dari keluarga Jonathan.” Ucap Justin sambil mendudukkan pantatnya di kursi dekat Vadeo.
Tanpa bicara sepatah kata pun Vadeo yang teringat akan pesan dari Alexandria, segera terulur tangannya dan mencabut beberapa rambut Justin dengan paksa.
“Deo, apa yang kamu lakukan. Sakit.” Teriak Justin dengan wajah meringis lalu mengusap usap kepalanya pada tempat yang rambutnya habis dicabut Vadeo dengan paksa.