
“Keputusan yang sangat tepat Nona.” Ucap Mr Le sambil tersenyum menatap Riris. Saat Riris mau membayar Mr Le dengan tubuh sexie nya.
“Malam ini bisa kita mulai kerja sama kita.” Ucap Mr Le kemudian tampak bersemangat dan tersenyum nakal menatap Riris.
“Tuan, apa yang Anda maksud?” tanya Riris tampak kaget melihat gestur Mr Le.
“Hmmm saya bisa melakukan pekerjaan saya jika sudah ada uang muka. Apa Nona masih belum jelas?” ucap Mr Le sambil masih tersenyum nakal menatap Riris.
“Tapi Tuan belum melakukan pekerjaan apa pun.” Ucap Riris yang berusaha untuk menunda memberikan tubuh sexie nya pada Mr Le. Sesungguhnya Riris tidak ada gairah dengan Mr Le yang kulitnya berwarna hitam gelap itu. Hidungnya besar dan bibir nya tebal. Mata nya lebar hingga tampak warna putih Mata nya sangat menonjol terpasang pada wajah hitamnya.
“Jika Nona tidak setuju dengan peraturan yang sudah saya buat. Bisa kita batalkan kerja sama kita.” Ucap Mr Le lalu mengambil gelas bir nya dan menegak hingga tuntas. Mr Le pun siap siap untuk bangkit berdiri.
“Ris, sudah jalankan saja. Ingat kamu harus merebut kembali Justin mu itu.” Bisik teman Riris mengingatkan tujuan utama Riris. Tampak Riris pun menggenggam erat telapak tangannya sendiri untuk menguatkan semangatnya.
“Tunggu Tuan, jangan pergi dulu. Saya akan melakukannya kapan Tuan menginginkan.” Ucap Riris kemudian saat melihat Mr Le sudah bangkit dari tempat duduknya.
“Hmmm begitu kan lebih baik Nona, agar saya bisa melakukan pekerjaan saya dengan lebih bersemangat.” Ucap Mr Le sambil tersenyum menatap Riris lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Riris bangkit dari tempat duduknya.
“Ris, aku pulang ya.” Ucap teman Riris saat melihat Riris sudah bangkit berdiri dan pinggangnya sudah dipeluk oleh Mr Le.
“Tunggu aku.” Ucap Riris sambil melangkah di dalam pelukan Mr Le. Teman Riris pun akhirnya tetap duduk di sofa menunggu Riris. Sebab dia tahu Riris tidak punya uang dan hand phone jika ditinggalkan begitu saja oleh Mr Le, Riris tidak bisa pulang ke rumah temannya
Riris dan Mr Le pun terus melangkah menuju pada suatu kamar yang sudah dipesan oleh Mr Le. Di dalam Cafe itu memang ada beberapa kamar yang bisa dipesan dan digunakan oleh Tamu. Mr Le sudah merupakan pelanggan tetap di Cafe itu. Dalam melakukan pekerjaannya Mr Le memakai orang lain untuk mengeksekusi targetnya. Dan Cafe itu pun milik jaringan kerjanya, jadi Mr Le pun aman di dalam Cafe yang tidak untuk sembarang orang itu.
Sesampai di depan pintu kamar yang sudah dipesan. Mr Le segera membuka pintu.
“Ayo honey.. “ ucap Mr Le sambil tangan kirinya masih memeluk pinggang Riris.
Mereka berdua pun segera memasuki kamar yang lampunya remang remang. Dinding kamar itu tampak sudah kusam. Ada tempat tidur luas dengan kasur ditutup oleh sprai berwarna putih yang tampak sudah kusam pula. Bangunan dan perabot perabot yang ada semua merupakan barang barang lama, akan tetapi tidak berdebu.
Jantung Riris berdebar debar. Baru kali ini setelah lima tahun mendekam di penjara berada satu kamar dengan seorang laki laki.
“Hmmm mau buka puasa aja sama laki laki asing kulit hitam lagi.” Gumam Riris dalam hati menangisi nasibnya berharap buka puasa dengan Justinnya tercinta malah dengan laki laki yang bukan seleranya.
Mr Le mulai membawa Riris berjalan menuju ke tempat tidur. Tangannya yang tadi memeluk pinggang Riris mulai menyibak rambut Riris dan membelai leher belakang dan punggung Riris. Riris tampak masih kaku dan tidak terbakar gairahnya.
Mr Le yang sudah tidak sabar, lalu segera menggendong tubuh Riris dan dengan cepat dia baringkan di atas tempat tidur.
“Aku sudah tidak sabar Honey.. “ suara Mr Le yang sudah mulai parau. Mr Le pun lalu melucuti gaun Riris. Dan Riris pun hanya bisa pasrah demi keinginnya untuk meniadakan Boy dan Wika orang orang yang dia anggap merebut kekasih hatinya.
Waktu pun terus berlalu. Sedangkan di lain tempat. Mobil yang dikemudikan oleh Vadeo sudah membelah jalan raya menuju ke mansion Jonathan. Kali ini Boy duduk di jok depan di samping Vadeo, dia yang meminta karena sangat ingin duduk di jok depan di samping Tuan Muda Vadeo.
“Bisa.” Jawab Vadeo sambil sekilas menoleh menatap Boy.
“Apa Papa Justin juga punya mobil?” tanya Boy lagi.
“Belum, Papa mu harus bekerja lagi yang benar agar bisa membeli mobil lagi.” Jawab Vadeo dengan nada serius.
“Aku akan membantu Papa bekerja. Agar Papa bisa membeli mobil dan aku ingin duduk di samping Papa saat Papa mengemudikan mobil.” Ucap Boy dengan serius dan semangat. Tangan kiri Vadeo sejenak melepas kemudi lalu mengacak acak rambut puncak kepala Boy dengan rasa penuh kasih sayang dan haru mendengar ucapan Boy yang sangat rindu akan sosok Papa. Mungkin Boy melihat banyak anak laki laki seusianya yang duduk di jok depan di samping Papa nya yang sedang mengemudikan mobilnya.
Mobil terus melaju. Valexa dan Deondria yang duduk di belakang jok kemudi di samping Sang Mama saling pandang dan bibir mereka berdua tersenyum. Sedangkan Richardo duduk tenang di jok paling belakang.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman Mansion Jonathan.
“Do nanti kamu bawa ke garasi ya. Belanjaan buat Justin dan Wika besok saja kamu antar. Belanjaan Boy yang kamu bawa ke kamar Boy.” Ucap Vadeo sambil menjalankan mobil menuju ke dekat pintu utama Mansion. Vadeo memang sengaja tidak menyuruh para pelayan memberikan baju yang benar di kamar pengantin dan mematikan telepon di kamar pengantin itu.
Setelah mobil berhenti, mereka semua segera turun dari mobil menuju ke dalam mansion Richardo kedua tangannya tampak membawa beberapa paper bag belanjaan untuk Boy.
Alexandria berjalan dengan cepat menuju ke kamarnya. Sedangkan Twins masih mampir di kamar Boy karena Boy mengajak mereka berdua untuk melihat barang barang baru Boy.
“Aku harus segera membuat aplikasi untuk melindungi Kak Deo dari perempuan itu.” Gumam Alexandria yang melangkah dengan sangat cepat sebab tadi Twins men dapatkan sinyal jika ada Riris yang masih membahayakan.
“Sayang... tunggu aku...” teriak Vadeo yang berjalan di belakang Alexandria dengan jarak yang agak jauh.
“Hati hati Sayang... kamu sedang hamil muda...” teriak Vadeo lagi karena Alexandria tampak masih berjalan dengan cepat dan mulai menaiki anak tangga. Vadeo yang khawatir dengan istrinya pun langsung berlari untuk mengejar istrinya.
“Ada apa dengan dia. Apa anak anakku di dalam perut ngambek karena tidak dibelikan.” Gumam Vadeo sambil terus berlari.
“Ma... “ ucap Vadeo saat sudah berada di samping istrinya sambil menggandeng lengan Alexandria.
“Kita belanja buat baby di perut besok besok saja...” Ucap Vadeo sambil melangkah di samping Alexandria.
“Iya Pa...” Ucap Alexandria singkat dan nada rendah. Dan terus melangkah dengan cepat menuju ke kamar nya.
“Mama tidak marah kan?” tanya Vadeo yang masih khawatir jika Alexandria marah pada dirinya.
“Tidak, Mama akan marah kalau Papa tergoda pada Riris.” Ucap Alexandria terus melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti baju.
“Aduh... Mama jangan khawatir Ma... tapi Papa suka kalau Mama cemburu he... he... he...” Ucap Vadeo sambil tertawa kecil dan mengikuti langkah sang isteri.
...