
“Ooowh.. aku kira Tuan para normal juga.” Gumam Mamah Mimi yang kemudian serius lagi menatap bola kristalnya dan kedua tangannya masih terus mengusap usap bola kristal miliknya itu tidak lupa mulut komat kamit serius membaca mantra mantra.
Keempat orang tamu yang duduk bersila di depan Mamah Mimi tampak serius menatap bola kristal itu. Sampai sampai mereka takut untuk berkedip karena khawatir jika saat berkedip bola kristal itu menampilkan sesuatu. Akan tetapi hingga beberapa menit Mamah Mimi tidak bisa memperlihatkan apa apa di dalam bola kristal nya.
“Hah? Mungkin kekuatan penunggu pulau keramat itu sudah melindungi dua bocah itu.” Gumam Mamah Mimi yang selalu gagal untuk memperlihatkan penampakan yang sebelumnya dia lihat pada bola kristal itu.
“Hmm perempuan itu sungguh sungguh para normal atau hanya tipu tipu saja yang juga berniat untuk mendapatkan harta karun itu. Aku pikir akan banyak orang yang akan memanfaatkan uangku untuk memenuhi ambisinya namun tidak punya modal.” Gumam Tuan Njun Liong yang mulai curiga pada Nyonya Siu Lie dan Mamah Mimi.
“Aku hanya akan membantu Nyonya Siu Lie temanku Tuan, kalau Anda tidak percaya tidak usah ikut pada cara kami ini.” Ucap Mamah Mimi yang bisa mengetahui kecurigaan Tuan Njun Liong. Tampak Tuan Njun Liong kaget karena Mamah Mimi tahu apa yang dia pikirkan baru saja.
“Liong apa kamu tidak percaya pada Mamah Mimi? Mamah Mimi bisa memperlihatkan kapal besar itu yang sekarang sedang berlayar.” Ucap Nyonya Siu Lie sambil menoleh ke arah Tuan Njun Liong.
“Tunjukkan pada dia Mamah Mimi. Agar mereka semua percaya pada kemampuan Mamah Mimi.” Ucap Nyonya Siu Lie sambil menatap Mamah Mimi dengan nada dan ekspresi penuh permohonan.
“Hmmm...” gumam Mamah Mimi lalu dia tampak serius menatap bola kristalnya tidak lupa mulutnya komat kamit membaca mantra. Dan sesaat kemudian di dalam bola kristal Mamah Mimi itu ada penampakan sebuah kapal besar, kapal yang begitu dikenal oleh Tuan Njun Liong dan Sang Pengawalnya juga Richie. Ketiga laki laki itu matanya melotot karena heran.
“Apa kamu juga ingin kapal kamu ini tenggelam? Aku tidak bisa membuat badai tetapi aku bisa membuat nahkoda merintih kesakitan dan selanjutnya kacau dalam mengendalikan laju kapal kamu itu.” Ucap Mamah Mimi yang sudah bisa memperlihatkan kapal besar milik Tuan Njun Liong di dalam bola kristalnya. Mamah Mimi menatap tajam ke arah Tuan Njun Liong yang mana ekspresi wajah Tuan Njun Liong masih tampak heran. Kapal besar nya tampak kecil di dalam bola kristal Mamah Mimi yang sedang berlayar tampak bagai mainan miniatur kapal besarnya saja.
“Tetapi kenapa Mamah Mimi tidak bisa memperlihatkan anak kecil yang membuat kapalku tenggelam. Apa Mamah bisa memperlihatkan pada kami kejadian saat hujan badai itu datang. Dan memperlihatkan pada kami apa yang sudah dilakukan anak kecil itu.” Ucap Tuan Njun Liong sambil menatap wajah Mamah Mimi.
“Itulah aku sudah tidak bisa lagi melihat dua bocah itu. Segala mantra sudah aku ucapkan akan tetapi aku tidak bisa lagi melihatnya. Kalau aku bisa melihatnya aku bisa menunjukkan pada kalian di bola kristal ajaibku ini.” Ucap Mamah Mimi dengan dengan nada dan ekspresi wajah menyesal dan sedih yang mendalam.
“Coba nanti aku lihat lagi. Kalian sekarang istirahat saja dulu.” Ucap Mamah Mimi selanjutnya
“Melakukan apa?” tanya Tuan Njun Liong sambil menatap Nyonya Siu Lie
“Hmmm membunuh dua bocah itu dengan cara Mamah Mimi. Karena menurut Mamah Mimi kekuatan penunggu pulau itu ditransfer pada kedua bocah itu. Jika dua bocah itu mati, kesedihan akan menguasai seluruh pulau itu dan pulau itu bisa kita kuasai ha.... ha... ha....” Ucap Nyonya Siu Lie tertawa terbahak bahak bahagia. Dia sudah berencana jika telah berhasil menguasai pulau Alexandria akan membunuh juga Tuan Njun Liong dan seluruh anak buahnya. Mamah Mimi sudah menyediakan boneka boneka santet yang banyak untuk media dalam membunuh mereka semua.
Sementara itu di pulau Alexandria. Valexa dan Deondria sudah berada di kerajaan bawah tanah. Mereka berdua berada di dalam salah satu kamar yang dulu milik salah satu puteri kerajaan Asasta. Vadeo dan Bang Bule Vincent pun ikut menemani di dalam kamar itu. Bang Bule Vincent sudah membersihkan kamar itu dan sumber air pun masih berfungsi bagus setelah Vadeo dan Bang Bule Vincent membersihkan dari kotoran kotoran debu dan daun daun yang jatuh. Sedangkan ular besar setelah mengantar mereka dan menunjukkan tempat tempat fasilitas vital yang dibutuhkan oleh mereka. Ular besar itu kembali ke atas tanah lewat jalan pintas. Dan dia menjaga di bawah pohon asam.
“Bul, coba kamu keluar cari jaringan yang baik dan hubungi Richardo tanya situasi di atas tanah ..” Ucap Vadeo yang baru saja selesai mengisi bak mandi dengan aliran air yang baru saja dia bersihkan dengan Bang Bule Vincent.
“Iya aku juga akan membuat makanan di luar, tadi ular besar itu sudah menyediakan kelinci dan ubi. Aku akan membuat sate kelinci.” Ucap Bang Bule Vincent sambil berjalan keluar dari kamar itu, karena perutnya sudah merasakan lapar.
Sementara itu Valexa dan Deondria tampak duduk di atas tempat tidur yang beralaskan kain beludru yang lembut dan halus berwarna putih. Yang di tepinya ada hiasan renda renda indah. Mereka berdua yang mengambil dari dalam lemari yang ada di dalam kamar itu, untuk menggantikan kain sprai penutup yang telah kotor dan terkoyak. Kain kain yang ada di dalam lemari itu masih bagus dan harum aroma akar wangi. Mungkin ular besar itu masih terus merawat dengan memberikan akar wangi di dalam lemari lemari yang ada di dalam kerajaan itu.
“Papa untuk cementaya tita aman di sini.. (Papa untuk sementara kita aman di sini).” Ucap Valexa sambil menatap wajah Sang Papa yang tampak lelah.
“Atu mau belpikil duyu.. Papa mandi yayu itut Ante Pin, tan teyepon Mama.. (Aku mau berpikir dulu.. Papa mandi lalu ikut Uncle Vin, dan telepon Mama..).” Saut Deondria sambil menatap juga sang Papa.
“Sayang Papa tidak tega meninggalkan kalian berdua di sini.” Ucap Vadeo yang tidak sampai hati meninggalkan kedua anaknya di dalam kamar yang luas, megah dan elegan itu.
“Atu tan Aya aman di cini Papa.. Papa duda tidak dauh menucul Ante Pin, anya di yual caja.. (Aku dan Aya aman di sini Papa.. Papa juga tidak jauh menyusul Uncle Vin, hanya di luar saja).” Ucap Valexa. Karena dia dan saudara kembarnya akan berpikir untuk mencari cara berikut nya, agar tidak diganggu oleh Sang Papa.
“Nanti talo cudah celece, atu pandil Papa.. (nanti kalau sudah selesai aku panggil Papa..).” Ucap Deondria selanjutnya.