
Alexandria yang mendengar tampak terkejut. Dan dengan serta merta menatap sosok suaminya yang berjalan di barisan paling depan sambil menggandeng tangan mungil Boy.
“Diya tidak di mall ini Mama... (Dia tidak di mall ini Mama...).” ucap Deondria saat melihat wajah Sang Mama tampak mengkhawatirkan suaminya digoda oleh Riris di mall saat ini. Karena pengaruh hamil muda nya juga Alexandria sangat posesif pada suami. Apalagi lagi jika ingat Riris adalah mantan tunangan Vadeo dan Riris sangat agresif pada Vadeo.
“Aku harus buat aplikasi untuk keamanan Papa kalian dari gangguan perempuan itu. Dia mau melakukan apa saja agar keinginan tercapai.” Gumam Alexandria sambil tangan kanannya mengusap usap perut datarnya sedang tangan kirinya menggandeng salah satu anak kembarnya.
Mereka pun terus berjalan menuju sebuah restoran yang ada di dalam mall. Untuk memenuhi keinginan Boy untuk memakan suatu makanan yang begitu dia inginkan. Karena dulu teman temannya sering bercerita jika diajak orang tua nya makan du restoran di dalam mall. Sedangkan jika dia diajak ke mall dengan Wika hanya melihat saja restoran itu dari luar. Boy disuruh melihat foto foto menu makanan yang terpampang besar di luar restoran itu Dan membayangkan saja makan menu yang diinginkannya.
Saat Boy akan memasuki pintu kaca restoran itu telapak tangan Boy kembali terasa dingin. Vadeo merasakan dinginnya telapak mungil itu bukan akibat udara AC dari ruangan itu.
Vadeo pun menggenggam erat telapak mungil Boy agar Boy tidak takut atau minder berada di ruangan itu.
“Tuan harga makanan di sini sangat mahal ya?” bisik lirih Boy sebab Wika selalu mengatakan makanan di restoran itu mahal mahal satu menu makanan bisa untuk beli makanan di warung untuk beberapa hari. Sayang uang nya.
“Boy, kamu jangan panggil aku Tuan, panggil saja Uncle atau Om. Papa Deo juga boleh.” Bisik Vadeo sambil melangkah menuju satu set meja yang kosong.
“Dan kamu jangan pikirkan harga Aku dan Aunty Alexa yang akan membayar.” Ucap Vadeo sambil mengangkat tubuh mungil Boy dan didudukkan di kursi. Selanjutnya dia mengangkat tubuh mungil Deondria sedangkan Valexa sudah didudukkan oleh Richardo.
“Kalian harus belajar yang rajin dan setelah dewasa harus bekerja yang benar agar punya uang banyak. Kalian semua besok yang akan meneruskan pekerjaan Papa Deo dan Mama Alexa.” Ucap Vadeo sambil menatap serius pada ketiga bocah yang sudah duduk manis di kursi.
“Kalian berdua juga.” Ucap Vadeo selanjutnya sambil menoleh menatap perut Alexandria lalu mengusap usap perut datar Alexandria, yang sudah duduk di dekat Vadeo. Boy yang melihat tampak heran.
Sementara itu di lain tempat, di dalam kamar pengantin di Mansion keluarga Jonathan. Sepasang suami istri itu masih tertidur karena kecepekan. Dan tiba tiba terdengar suara....
KRUCUK KRUCUK KRUCUK KRUCUK KRUCUK
Bunyi suara di dalam perut Justin. Pertanya lambungnya minta diisi. Justin pun membukakan matanya. Dan betapa kagetnya karena suasana di kamar sudah gelap dan tangannya memegang sesuatu yang empuk empuk.
“Hah akhirnya aku tergoda pada perempuan ini.” Gumam Justin lalu menarik tangannya dari tubuh Wika yang tadi menumpang pada perut mulus Wika.
“Sudah cukup kali ini saja.” Ucap Justin lalu dia bangkit dari tidurnya. Sedangkan Wika masih tidur dengan pulas.
“Vadeo apa kamu akan menyiksa aku agar mati kelaparan di sini.” Gumam Justin karena tidak ada telepon yang berfungsi untuk memanggil pelayan.
Justin pun lalu berjalan cepat cepat menuju ke pintu. Dia akan berteriak teriak agar pelayan mendatangi dirinya yang sedang kelaparan. Saat sudah sampai di dekat pintu Justin membuka sedikit daun pintu itu.
“Ooo sudah tersedia makanan.” Gumam Justin lalu dia cepat cepat membuka daun pintu lebih lebar dan menarik meja dorong itu dengan cepat.
Dan Wika yang tidur saat hidungnya mencium mencium aroma makanan. Secara reflek kesadarannya muncul karena perutnya pun juga sudah minta diisi.
Wika membukakan matanya. Sama seperti Justin dia kaget karena hari sudah malam. Dan Wika tampak kaget saat melihat tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Wika bangun dari posisi tidurnya. Dia mengambil lingerie yang terongok di ujung tempat tidur, dan di saat akan memakainya lingeri itu sudah robek karena dibuka paksa oleh Justin yang sudah tidak sabar.
Wika pun turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke lemari sambil tangannya menutupi bagian tubuh sensitifnya. Lengan kirinya ditekuk untuk menutup dua bukit kembarnya dan telapak tangan kanannya menutup sarang hangat burung Justin. Dengan cepat Wika berjalan menuju ke lemari.
Justin yang sedang duduk di sofa sambil mengambil makanan melirik ke arah Wika.
“Tidak usah kamu kesenangan. Cukup satu kali saja aku menyentuh kamu. Aku tadi khilaf!” Suara Justin dengan nada kesal dan ketus.
“Gara gara semut tidak ada akhlak.” Ucap Justin lagi mencari cari alasan yang sebenarnya tidak ada semut di tubuh Wika. Hanya mata Justin saja yang kesemutan melihat tubuh molek Wika. He... He..
“Tuan bukan nya tadi tidak hanya satu kali saja? Tuan menyuruh saya nungging, duduk, dan macem macem...” gumam lirih Wika sambil memilih milih lingerie.
“Hah.. jangan banyak omong. Itu tetap satu kali. Satu kali paket.” Ucap Justin tidak mau kalah.
“Kalau kamu banyak omong tidak aku kasih kamu makan ini.” Ucap Justin lagi sambil mulai menikmati makan malamnya yang tertunda.
Sementara itu di tempat lain. Di sebuah Cafe. Riris pun terpaksa menerima tawaran Mr Le, karena dia tidak memiliki uang sama sekali. Uang teman teman Riris pun tidak cukup untuk membayar pembunuh bayaran itu.
....
Bersambung...