Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 41. Rencana Richie Kirim Barang Terlarang


“Bagaimana kalau sekarang kita mendatangi di kantor mereka.” Jawab Bang Bule Vincent malah balik bertanya.


“Hmmm kita belum makan siang.” Gumam Vadeo


“Atu ndak yapan Pa cudah maem tue tue..” ucap Valexa sambil menatap Sang Papa agar Sang Papa tidak mengkhawatirkan diri nya.


“Atu duda Pa..” ucap Deondria sambil memegang perut nya.


“Tapi Papa belum makan, Om Richardo juga belum makan. Kalian juga harus makan agar Oma tidak marah.” Ucap Vadeo sambil menatap wajah kedua anak nya secara bergantian.


“Ayo kita pulang dulu dan sebelah nya baru kita pergi ke kantor teman Uncle Vin itu.” Ucap Vadeo selanjutnya sambil bangkit berdiri.


“Ayo Bul, kasihan Oma jangan sampai dia nanti lapor pada Alexandria dan Alexandria marah marah ke aku.” Ucap Vadeo sambil terus melangkah menuju ke pintu kamar Bang Bule. Bang Bule Vincent pun juga ikut bangkit berdiri karena Valexa yang berada di dalam pangkuannya juga meronta ronta minta segera mengikuti langkah kaki Sang Papa nya.


Sementara itu di Mansion Jonathan tepatnya di kamar Atikah, terdengar suara dering hand phone. Atikah pun segera melangkah untuk mengambil hand phone yang berdering dari dalam tas nya.


“Hmmm itu pasti Richie.” Gumam Atikah dalam hati saat mendengar suara dering dari hand phone aslinya.


Dengan cepat Atikah mengambil hand phone nya dan benar tampak di layar nama kontak Richie melakukan panggilan suara.


“Hallo Rich.” Ucap Atikah setelah menggeser tombol hijau.


“Bagaimana apa rencana mu berjalan mulus?” tanya Richie sebab Atikah belum memberi tahu kabar berita nya karena masih memikirkan cara agar bisa mendekati Vadeo dan membawa lari Valexa dan Deondria.


“Gagal Rich, sebelum Pak Sopir senior tergoda dengan rabaan tangan ku ada petugas keamanan yang mendapati aku dan pak sopir di garasi itu.” Jawab Atikah dengan nada kesal mengingat rencana nya yang gagal.


“Hmmm.” Gumam Richie


“Aku masih cari cara lain Rich.” Ucap Atikah lagi.


“Okey lah tidak masalah. Gini aku mau kirim barang sudah banyak kolega yang menunggu.” Ucap Richie dengan suara melemah dan nada serius.


“Aku akan kirim ke alamat Jhon dan agar nanti Jhon mengirim bagian kamu ke alamat rumah mu.” Ucap Richie selanjutnya.


“Aku minta nomor hand phone Jhon.” Ucap Atikah dengan suara lirih pula agar suara nya tidak bisa terdengar ke luar kamar.


“Buat apa, aku sudah kirim alamat rumah kamu pada Jhon. Tinggal kamu hubungi orang rumah apa barang kamu sudah datang belum.” Ucap Richie yang keberatan membagi nomor hand phone anggota jaringan lainnya pada Atikah.


“Sudah. Aku tidak punya banyak waktu, dan cepat kamu bawa dua bocah itu ke tempatku.” Ucap Richie selanjutnya lalu sambungan panggilan suara itu terputus.


“Hmmm aku akan mendapatkan banyak uang lagi dengan menjual barang itu.” Gumam Atikah sambil tersenyum lebar membayangkan banyak keuntungan yang didapatkannya.


“Tapi bagaimana ya cara menyampaikan barang itu pada langgananku.” Gumam Atikah dalam hati sambil berpikir pikir sebab selama ini dia menyalurkan barang pesanan pelanggan dengan datang langsung ke club malam atau mall mall tempat untuk janjian pertemuan bertransaksi.


“Hmmm aku izin saja nanti kalau barang itu sudah datang. Gampang lah nanti cari alasan nya.” Gumam Atikah lagi lalu dia menaruh hand phone ke dalam tas nya.


Atikah lalu berjalan keluar dari kamar, dia akan menuju ke ruang makan yang ada di dalam gedung tempat tinggal para karyawan dan pelayan itu. Dia memang sengaja akan datang ke ruang makan di waktu akan usai jam makan siang saat suasana sepi sambil mencari inspirasi agar mendapatkan strategi.


Atikah terus melangkah menuju ke ruang makan yang berada di lantai satu. Dia sengaja tidak memakai lift agar bisa melihat lihat situasi dan berharap saat di tangga bertemu dengan orang yang bisa di ajak untuk bekerja sama.


Saat Atikah menuruni anak tangga orang orang yang berpapasan dengan dirinya terlihat cuek cuek saja. Tampak mereka berjalan dengan tergesa gesa karena akan melanjutkan pekerjaannya.


“Hmmm apa iya orang sebanyak ini di dalam mansion Jonathan tidak ada yang bisa diajak bekerja sama. Apa mereka semua sudah cukup gajinya dan tidak ingin uang tambahan.” Gumam Atikah dalam hati sambil terus melanjutkan langkah nya.


Dan saat sampai di ruang makan dan sudah masuk ke dalam ruang makan betapa kaget nya Atikah sebab tidak seperti dalam bayangannya. Kini di ruang makan itu justru ada orang orang yang tidak ingin dia temui. Di situ ada Ibu kepala pelayan, pelayan bagian logistik, Pak Sopir senior, petugas keamanan masih duduk di kursi makan akan tetapi di meja makan sudah tampak bersih tidak ada piring makan satu pun di atas nya. Tampak mereka sedang bicara dengan serius.


“Kamu itu datang lagi ke sini mau makan lagi atau memang belum makan?” tanya pelayan bagian logistik dengan nada ketus saat melihat Atikah berjalan masuk ke dalam ruang makan.


“Maaf, belum.” Jawab Atikah dengan suara lemah.


“Hmmm besok lagi kalau jam makan segera masuk ruang makan jangan menunda nunda.” Ucap Ibu kepala pelayan sambil menatap Atikah dengan tajam.


“Iya Bu.” Jawab Atikah lalu berjalan untuk mengambil makan siang nya yang tampak petugas di ruang makan itu sudah mulai membersihkan segala peralatan makan dan minum.


“Hmmm sial. Tapi mereka sedang membicarakan apa ya kok tampak nya serius.” Gumam Atikah dalam hati. Lalu dia yang kepo pun setelah mengambil nasi dengan segala perlengkapan nya dia berjalan menuju ke meja yang tidak jauh dari tempat ibu kepala pelayan dan lain lainnya yang masih berbicara dengan serius.


“Sudah begitu saja, sekarang kita kembali pada pekerjaan kita masing masing.” Ucap Ibu kepala pelayan lalu bangkit berdiri Dan melangkah meninggalkan meja makan itu untuk segera keluar dari ruang makan. Yang lain pun juga ikut bangkit berdiri dan mengikuti langkah ibu kepala pelayan. Mereka meninggalkan Atikah yang duduk makan dan masih penasaran dengan apa yang sudah mereka bicarakan.


“Hmmm apa mereka membicarakan aku ya.” Gumam Atikah dalam hati sambil pandangan mata nya tertuju pada pada pintu ruang makan.


Dan tiba tiba pak sopir senior yang berjalan paling belakang menoleh ke arah nya dan tersenyum pada diri nya. Atikah pun membalas dengan senyuman termanis nya.


“Hmmm apa pak sopir senior itu tergoda dengan rabaan tanganku tadi malam ya?” gumam Atikah dalam hati sambil tersenyum dia sangat berharap jerat hasrat dari nya pada pak sopir senior berhasil.


....