
“Aca, Aya... Ayo Sayang mau ke bukit tidak? Kalau mau ke bukit kita lebih dulu naik ke mobil.” Teriak Vadeo dengan lantang yang berdiri di samping Sang Istri sambil memandang kedua anak nya yang masih berlarian ke sana kemari di pantai ditemani oleh Richardo dan Dealova.
“Kalau tidak ya tidak apa apa main main dulu di pantai..” teriak Vadeo lagi yang kini tangan satunya memeluk pinggang ramping Alexandria dari samping.
“Te.. butit Pa... (ke bukit Pa..).” teriak Valexa dan Deondria secara bersamaan, lalu kedua anak itu berlari menuju ke arah orang tua nya.
“Deo aku ikut.” Ucap Nyonya William yang kini sudah berada di dekat Vadeo. Sedangkan Tuan William, Tuan Jonathan dan Nyonya Jonathan terlihat sudah berjalan menuju ke mobil besar yang akan mengantar ke rumah Vadeo.
“Ma.. jauh.. Ma perjalanan tiga jam lebih dari sini.” Ucap Vadeo dan Alexandria secara bersamaan sambil menoleh ke arah Nyonya William.
“Tidak apa apa, nanti kalau capek aku tidur di mobil.” Ucap Nyonya William yang sangat penasaran dengan bukit pohon asam.
Akhirnya mau tak mau Vadeo pun mengizinkan nya. Tampak Valexa dan Deondria pun sudah berada di dekat mereka. Kedua pengasuh Valexa dan Deondria tampak sibuk membersihkan kaki kaki mungil kedua anak itu yang basah dan kotor dengan pasir.
“Udah becih Nanny... (sudah bersih Nanny...).” ucap mereka berdua karena sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam mobil dan segera pergi ke bukit pohon asam.
Beberapa menit kemudian mereka sudah masuk ke dalam mobil. Nyonya William dan Alexandria tampak sibuk memasukkan perlengkapan dan bekal makanan dan minuman ke dalam mobil kecil itu yang juga dibantu oleh kedua pengasuh Valexa dan Deondria.
“Sudah lengkap.” Ucap Nyonya Willam, lalu dia ikut masuk ke dalam mobil.
“Hati hati ya Sayang, jangan lama lama di bukit .. Mama tunggu di rumah loh...” ucap Alexandria sambil mencondongkan tubuh nya ke dalam mobil yang pintu nya masih terbuka.
“Iya Mama...” jawab Valexa dan Deondria lalu mencium wajah Sang Mama. Alexandria pun memberi pesan pada Vadeo agar tidak lama lama dan menjaga Sang Mama dan kedua anak nya. Setelah nya Alexandria menutup pintu mobil itu dan berjalan menuju ke mobil besar yang masih menunggu nya.
Sementara itu di dalam mobil kecil, Pak Sopir sudah mulai menyalakan mesin mobil nya. Richardo duduk dengan tenang dan waspada di jok depan di samping kemudi.
“Oma Tucing mau itut te butit? (Oma Kucing mau ikut ke bukit)?” tanya Valexa dan Deondria yang duduk di pangkuan Sang Papa di jok di belakang kemudi.
“Iya anak kucing.” Jawab Nyonya William sambil meraih salah satu tubuh cucu nya untuk dipangku nya.
“Dauh loh... (jauh loh...).” ucap Valexa dan Deondria memberi tahu pada Sang Oma. Nyonya William hanya tersenyum sambil memeluk tubuh mungil Valexa yang ada di pangkuannya.
Mobil pun telah berjalan meninggalkan pantai. Kecepatan mobil terus bertambah.
Waktu pun terus berjalan mobil sudah berjalan meninggalkan mobil besar yang tadi jalan beriringan, jalan semakin menanjak.
Nyonya William pun paha nya sudah merasa capek karena memangku Valexa.
“Aca duduk sendiri ya .. atau di pangku Papa ya...” ucap Nyonya William dengan lembut sambil mengusap usap rambut kepala Valexa.
“Sini Ma...” ucap Vadeo sambil tangannya meraih tubuh mungil Valexa lalu didudukkan dalam pangkuannya. Kedua bocah itu pun duduk nyaman di dalam pangkuan Sang Papa sambil menyandarkan tubuhnya di dada bidang Sang Papa dan tatapan mata nya tertuju ke arah luar jendela mobil mereka berdua sangat menikmati perjalanan. Vadeo pun membuka sebagian jendela kaca mobil. AC di dalam mobil di matikan. Mereka menikmati udara bersih segar alam dan menikmati suara burung burung yang di atas pohon pohon besar du kanan kiri jalan yang mereka lewati.
Sedangkan Nyonya William tampak tertidur pulas.
Setelah perjalanan memakan waktu tiga jam lebih . Mobil sudah sampai di depan batu besar tempat terakhir kali mobil bisa berjalan. Pak Sopir pun lalu menghentikan mobil dan mematikan mesin mobil.
“Ooo Sudah sampai? Kok cepet? Paling ga nyampek tiga jam...” ucap Nyonya William sambil menegakkan badannya saat menyadari mobil sudah berhenti.
“Lha iya Oma tan tidul duwa jam yebih ( lha iya Oma kan tidur dua jam lebih).” Ucap Valexa dan Deondria sambil menatap Sang Oma dan lalu kedua anak itu menepuk jidat nya sendiri.
“Masak sih rasa nya Oma tidur hanya lima menit.” Ucap Nyonya William sambil tersenyum menatap kedua cucu nya.
Valexa dan Deondria pun jari jari mungilnya mencubit kecil lengan Sang Oma dan Nyonya William hanya tertawa
Vadeo tampak sudah membuka pintu dan melangkahkan kaki keluar dari mobil. Sedangkan Richardo sudah lebih dulu keluar dari mobil dan kini membukakan pintu buat Nyonya William Valexa dan Deondria segera turun dari pintu yang tadi dilewati oleh Sang Papa. Kedua anak itu pun segera berlari menuju ke jalan setapak menuju ke bukit.
“Do, kamu ikuti mereka. Biar aku nemani Mama jalan.” Perintah Vadeo pada Richardo dan Richardo pun segera melangkah mengikuti Valexa dan Deondria.
“Tuan, saya nunggu di mobil ya..” ucap sang sopir yang juga sudah membuka pintu.
“Kenapa kamu tidak ikut?” tanya Nyonya William yang masih sibuk memperbaiki penampilan.
“Jauh Nyonya.” Jawab Pak Sopir.
Setelah Nyonya William sudah merasa penampilan nya telah rapi kembali , dia pun melangkah keluar dari mobil dan berjalan menuju ke jalan setapak di samping Vadeo.
Mereka berdua terus melangkah. Nyonya William berjalan dengan hati hati dan pelan pelan terkadang menggandeng lengan kekar Vadeo sebab jalan kadang mendaki. Sedangkan Valexa, Deondria dan Richardo sudah tidak tampak sosoknya.
“Deo Apa benar benar jauh? Kenapa kamu tidak membuat jalan untuk mobil ke sana.” Ucap Nyonya William yang kini minta berhenti untuk istirahat sejenak.
“Topografi nya tidak memungkinkan Ma, akan merusak dan membuat longsor kata ahli nya.” Jawab Vadeo yang dengan sabar menemani Mama Mertua
“Kalau dibuat mutar mutar juga tetap saja akan ada yang rusak dan banyak pohon ditebangi. Anak anak juga suka dengan jalan setapak ini. Saat membicarakan pembuatan jalan anak anak tidak setuju katanya asyik dengan jalan kaki.” Ucap Vadeo lagi.
“Untung aku ga pakai high heel. “ saut Nyonya William.
Sementara itu di atas bukit, Valexa dan Deondria sudah duduk manis di kursi Singgasana nya yang di taruh di bawah pohon asam yang besar tinggi dan rimbun sangat teduh itu. Sedangkan Richardo tampak duduk di bawah.
Beberapa saat kemudian ular besar tampak berjalan melata di atas tanah yang banyak ditumbuhi rumput rumput dan daun daun kering berjatuhan. Ular besar itu terus menggeser tubuhnya mendekati kursi singga sana Valexa dan Deondria.
Richardo yang kini sudah mengenal ular besar itu kini sudah tidak lagi takut dan pucat pasi.
“Haiii tamu cudah datan... (hai kamu sudah datang..).” ucap Valexa dan Deondria sambil menatap ular besar yang mulai mendekati mereka berdua.
Dan ular besar itu pun kini sudah berada di bawah kursi Singgasana milik Valexa dan Deondria, ular besar itu tampak menunduk lalu menjilat jilat telapak kaki Valexa dan Deondria.
“Nanti Oma Tucing te cini tamu cembunyi duyu ya... (Nanti Oma Kucing ke sini kamu sembunyi dulu ya...).” ucap Valexa dan Deondria sambil tangan mungil nya mengusap usap kepala ular itu.
....