Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 223.


Sementara di gedung Jonathan Co, di ruang kerja Vadeo. Alexandria yang sedang meretas nomor hand phone milik Mr Le dan hand phone milik teman Riris. Tersenyum senang.


“Pa dua tikus itu siap ditangkap. Aku share lokasi tempat mereka akan ketemuan ke Bang Bule Vincent.” Ucap Alexandria yang sudah membagikan lokasi aparteman Mr Le ke nomor hand phone milik Bang Bule Vincent


“Okey, sip Sayang.. Kalian memang tim kerja handal.” Ucap Vadeo sambil menoleh ke arah Alexandria. Vadeo kini sudah sibuk dengan berkas berkas yang harus dia tanda tangani.


“Semoga segera tertangkap.” Gumam Alexandria setelah selesai dengan tugas meretas hand phone milik Mr Le dan temannya Riris.


Bang Bule Vincent yang mendapat kabar dari Alexa pun segera meluncur menuju ke tempat apartemen Mr Le. Kini Bang Bule Vincent berada di dalam mobil bersama Richardo. Richardo kini yang bertugas mengemudikan mobil.


“Setelah mereka tertangkap. Aku mau cuti Do. Aku mau menikmati masa masa Ixora hamil mudanya. Aku akan full mengurus isteriku yang sedang hamil muda itu.” Ucap Bang Bule Vincent yang sedang merencanakan cuti.


“Tolong kamu dan Eveline urus ya organisasi kita.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya sambil tersenyum membayangkan cuti dan waktunya full untuk isteri tercinta.


“Apa Bang Bule Vincent mau ke Belanda?” tanya Richardo dengan nada datar pandangan matanya pun lurus ke depan dia mengemudi kan mobil dengan kecepatan penuh. Di belakangnya ada mobil temannya, anak buah Bang Bule Vincent dan juga mobil polisi.


“Ahaiiii itu ide bagus Do. Aku pun kangen dengan sapi sapiku. Sesaat aku perlu membebaskan otakku untuk urusan orang orang jahat. Mengurus sapi sapi yang baik hati dan cemburuan ha.... ha....” Ucap Bang Bule Vincent sambil tertawa lebar membayangkan cuti berlibur ke Belanda mengurus sapi sapi dan bebas dari kebisingan kota. (cerita tentang Bang Bule Vincent saat mengawali mengurus sapi sapi di negeri Belanda, ada di novel Ixora Gadisnya Bang Bule).


“Bagamana sih Bang Bule ini, katanya cuti mau mengurus isteri kok malah mengurus sapi.” Ucap Richardo masih dengan nada datar dan tetap fokus pada kemudi mobilnya.


“Ha... ha... Mengurus sapi sambil mengurus isteri Do... Enggak lah Do, paling Cuma survey survey saja.. Aku kan sudah punya isteri dan sebentar lagi punya anak. Mana mungkin aku akan dapat hukuman lagi dari Mama dan Papa Jansen.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menepuk pundak Richardo.


Mobil terus meluncur menuju ke lokasi apartemen Mr Le.


Sementara itu, mobil taxi on line yang ditumpangi oleh Riris sudah memasuki halaman apartemen Mr Le.


Riris setelah keluar dari mobil langsung melangkah menuju ke pintu masuk gedung apartemen itu. Dia pun langsung menuju ke lift yang akan membawa ke lantai kamar apartement Mr Le.


Sesaat Riris sudah sampai di depan pintu kamar Mr Le. Mr Le yang sudah tidak sabar langsung membuka pintu kamarnya dan menarik tangan Riris hingga Riris pun tampak kaget.


“Tuan, membuat jantung saya mau copot.” Suara Riris saat sudah berada di dalam kamar apartemen Mr Le. Kekagetan Riris bertambah saat di dalam kamar itu tercium aroma alkohol yang menyengat. Aroma khas minuman beralkohol.


“Aku sudah tidak sabar Honey .. mendengar suara kamu lewat hand phone saja sudah menegang yang ada di bawah ini.” Ucap Mr Le lalu menggendong tubuh Riris di bawa masuk ke dalam kamarnya.


“Tuan apa yang akan Tuan lakukan pada saya?” tanya Riris tampak takut takut.


“Nona tenang saja. Kita nikmati sensasi permainan dengan cara lain.” Ucap Mr Le sambil tersenyum dan mulai mengambil rantai yang berada du atas tempat tidur itu.


“Tuan... tolong jangan bermain kasar, sudah cukup membuat tubuh saya sakit permainan tadi malam itu... jangan dibuat lebih sakit Tuan... hiks... hiks... hiks... “ ucap Riris yang mulai terisak isak menangis.


“Ha.... ha... ha.... ha....” Mr Le malah tertawa senang melihat Riris yang mulai menangis. Mr Le pun mulai memasang rantai pada kaki Riris. Riris berusaha menolak dan meronta ronta akan tetapi itu justru membuat Mr Le semakin bahagia.


Sementara itu mobil yang dikemudikan oleh Richardo pun sudah memasuki halaman apartemen Mr Le termasuk mobil anak buah Bang Bule Vincent lainnya dan mobil pak polisi.


Bang Bule Vincent yang sudah mendapat nomor hand phone milik Mr Le dari Alexandria. Langsung melacak beradaan Mr Le dari aplikasinya.


“Mereka di lantai ** dan di kamar ***** .“ Ucap Bang Bule Vincent pada anak buahnya dan pada Pak Polisi. Satu orang polisi pun sudah lebih dulu melangkah ke tempat pos satpam apartemen untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka. Pak satpam pun langsung menutup semua pintu akses keluar dari apartemen agar orang yang sedang dicari polisi tidak lari.


Bang Bule Vincent dan rombongan segera melangkah menuju ke lift satu satpam apartemen pun ikut serta.


“Apa Mr Le sudah lama tinggal di sini?” tanya Bang Bule Vincent pada Pak satpam yang ikut di litf yang dinaiki oleh Bang Bule Vincent.


“Penghuni kamar itu belum lama tinggal di sini Tuan.” Jawab Pak satpam jujur apa adanya. Mr Le memang belum lama tinggal di apartemen itu. Mr Le memang selalu berpindah pindah tempat dan berganti ganti mobil agar tidak bisa dilacak oleh polisi.


“Tapi sering ada tamu perempuan dan tamu perempuannya kalau pulang selalu digendongnya. Kami curiga tapi kami takut Tuan.” Ucap Pak satpam dengan ekspresi wajah takut.


“Apa perempuan perempuan itu tidak melaporkan?” Tanya Bang Bule Vincent yang semakin penasaran dengan ulah Mr Le.


“Tidak Tuan, kadang mereka datang lagi.” Ucap Pak satpam itu.


“Hmmm.” Gumam Bang Bule Vincent.


Dan sesaat kemudian terdengar suara alarm lift yang menunjukkan lift sudah sampai di lantai yang mereka tuju. Pak satpam pun berjalan paling depan untuk menunjukkan kamar Mr Le berada. Meskipun sebenarnya tanpa ditunjukkan oleh Pak Satpam, Bang Bule Vincent sudah tahu lewat aplikasi yang ada di dalam hand phone milik nya.