
Akhirnya Atikah bisa menghubungi nomor hand phone Richie. Atikah langsung menyampaikan rasa kekhawatiran nya pada Richie jika barang tidak bisa masuk ke Mansion Jonathan.
“Ha... ha.... kamu tenang saja Mel. Saat di Singapore semua barang sudah dikemas dengan alat anti terlacak detektor. Aku punya orang yang sangat bisa diandalkan di sana. Kamu tenang saja, pasti barang akan bisa aman sampai di tangan kamu.” Ucap Richie dengan suara tampak bahagia. Sebab dia sudah menghubungi Jhon dan semua barang sudah terkirim ke alamat pengedar.
“Okey lah Rich..” ucap Atikah sambil tersenyum dia membayangkan jika rencana nya akan berhasil.
“Okey Mel aku masih sabar menunggu saat nya kamu bisa mengantar dua bocah itu ke hadapanku. Aku sadar semua butuh proses ha... ha... ha... ha.... “ ucap Richie lagi sambil tertawa terbahak bahak.
“Yang terpenting mereka setiap hari mengonsumsi kiriman dari ku itu, nanti lama lama mereka akan dengan suka rela mendatangi aku mengemis ngemis pada ku ha... ha... ha...” suara Richie lagi dengan tawa yang masih terbahak bahak bahagia.
“Hmmm aku juga harus berusaha agar Vadeo segera mengonsumsi kiriman mu itu. Aku sudah tidak sabar membayangkan Vadeo mengemis ngemis pada ku ha... ha....” ucap Amelia yang masih berpenampilan sebagai Atikah itu dan juga tertawa terbahak bahak. Akan tetapi tiba tiba dia menghentikan suara tawa nya sebab sadar takut jika ada yang mendengarnya.
“Sudah Rich, aku putus.” Ucap Atikah lalu memutus sambungan teleponnya. Dia tidak ingin ada orang yang mencurigai nya.
“Hmmm jika begitu semua nya akan aman.” Ucap Atikah lalu dia menaruh hand phone nya di dalam lemari tidak lupa sudah menon aktifkan lagi. Dia pun segera berbaring di atas tempat tidur nya dan berharap hari segera berganti dan segera mendapatkan barang kiriman dari Zulfa lalu segera melancarkan rencana nya.
“Aku tinggal mencari cara untuk bisa masuk ke dalam dapur.” Gumam Atikah sambil memejamkan mata nya.
Sementara itu di Mansion William di dalam kamar Alexandria. Kedua anak nya Vadeo, Valexa dan Deondria masih menunggu telepon dari Sang Mama. Sejak tadi sang Papa tidak boleh meminta hand phone yang dalam kekuasaan mereka berdua. Padahal Vadeo akan menelepon Bang Bule. Vadeo pun tidak boleh jauh jauh dari mereka berdua. Pokok nya menunggu sampai Mama menelepon. Sampai sampai makan malam pun diantar oleh pelayan ke dalam kamar nya.
Dan sesaat waktu menunjukkan jam yang mana di belahan benua Amerika di tempat Alexandria bekerja akan tiba saat nya waktu beristirahat alias tea break di pagi hari.
Vadeo pun juga turut menunggu panggilan dari Sang isteri di hand phone nya. Agar dia bisa segera mandi, dan kedua anaknya segera tidur dan dia akan segera menghubungi Bang Bule.
“Sayang coba miss call ke Mama jangan sampai Mama lupa. Ini sudah jam istirahat.” Ucap Vadeo sambil melihat kedua anaknya yang kini sudah berganti baju piyama tidur dan sudah terbaring di tempat tidur sambil memegangi hand phone. Sementara Vadeo sudah memakai tshirt dan celana boxer namun belum boleh mandi oleh kedua anak nya.
Saat Deondria akan melakukan panggilan video pada Sang Mama. Layar hand phone yang dipegang nya berkedip kedip tampak Sang Mama sedang melakukan panggilan video. Mereka berdua tampak saling berebut untuk menerima panggilan video dari Sang Mama dan juga berebut untuk memegang hand phone.
“Jangan berebut.” Ucap Vadeo yang sejak tadi berada di dekat mereka.
“Sayang... kalian masih menunggu Mama. Aku kira sudah bobok.” Suara Alexandria saat Deondria sudah menggeser tombol hijau.
“Mama tepat puyang... (Mama cepat pulang...)” teriak mereka berdua dengan lantang.
“Iya Sayang, presentasi Mama sudah sukses tadi. Mama akan segera pulang..” ucap Alexandria sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi yang putih bersih dan tersusun rapi.
“Acccciiiiikkkk...” teriak mereka berdua tampak bahagia wajahnya pun sudah mulai ceria. Vadeo yang mendengar suara ceria dan melihat wajah ceria anak anak nya tampak tersenyum bahagia.
“Danan yama yama ya Ma... (Jangan lama lama ya Ma...).” teriak mereka berdua lagi.
“Iya kalian jangan nakal ya.. harus nurut pada Papa ya...” Ucap Alexandria sambil menatap wajah anak anak nya yang juga sudah sangat dirindunya.
“Kalian bobok ya, Papa mau mandi dulu.” Ucap Vadeo sambil menatap wajah kedua anak nya yang sudah tidak lagi terlihat sendu. Mereka berdua memang minta tidur di kamar Sang Mama di Mansion William karena sangat rindu pada Sang Mama.
Sedangkan Richardo disuruh pulang ke rumah Bang Bule dan disuruh oleh Nyonya William untuk mengambil paket skin care milik nya yang sudah di bawa pulang lagi oleh Bang Bule.
“Pokok nya besok pagi kamu ke sini menjemput Aca dan Aya harus dengan membawa paket skin care ku itu.” Ucap Nyonya William saat Richardo akan pulang ke rumah Bang Bule.
“Mantu kurang ajar, sudah memberi oleh oleh kok dibawa pulang lagi.. tidak iklas apa.” Suara Nyonya William menggerutu sambil melangkahkan kaki akan menuju ke kamar nya.
“Mosok gagal kedua dua nya, gagal menjadi menejer artis dan gagal mendapat skin care.” Gumam Nyonya William lagi. Dealova yang sejak tadi dengan senang hati menemani Richardo hanya bisa senyum dikulum.
“Kamu itu tidak cekatan mengambil dan membawanya ke kamar ku.” Ucap Nyonya William dengan nada kesal sambil menoleh ke arah Dealova yang masih duduk di sofa ruang keluarga.
Sedangkan Bang Bule di dalam kamar nya di rumahnya masih sibuk dengan layar lap top nya. Dia berusaha melacak barang kiriman lewat program program yang terinstal di lap top nya. Akan tetapi hasil nya nihil.
“Hmmm nomor hand phone Amelia yang ada di data alumni sudah tidak aktif lama. Dan nomor baru nya atas nama akun Atikah tidak ada informasi yang mencurigakan.” Gumam Bang Bule yang sudah minta nomor hand phone Atikah pada pak sopir senior.
“Gara gara Mama Mertua dua bocah itu tidak bisa diajak bekerja sama.” Gumam Bang Bule lagi sambil memijit mijit pelipis nya.
Sesaat pintu kamar Bang Bule terdengar suara ketukan.
TOK TOK TOK TOK
“Ixora apa ya..” gumam Bang Bule dalam hati sebab Ixora belum pulang karena ada tugas di rumah sakit.
“Beb, kamu sudah pulang kok tidak mengabari aku dulu.” Teriak Bang Bule Vincent sambil bangkit berdiri.
Dengan langkah lebarnya Bang Bule segera berjalan menuju ke pintu kamar nya. Dan saat sampai di depan pintu dengan cepat Bang Bule Vincent segera membuka kunci.
Saat pintu sudah dibuka Bang Bule Vincent tampak kecewa, sebab sosok yang ada di depan nya bukan Ixora , isteri tercinta yang dia rindu.
“Kamu, untung tidak segera aku peluk.” Suara Bang Bule Vincent sambil menatap tajam sosok di depan nya.
“Bang.” suara Richardo sambil senyum dikulum.
“Apa mereka sudah pulang ke Mansion Jonathan? Apa mereka sudah tidak bersedih lagi? Apa mereka berdua sudah tidur?” tanya Bang Bule Vincent selanjutnya sambil menatap tajam ke arah Richardo karena ingin segera tahu perkembangan kondisi Valexa dan Deondria.
....