
Di saat Nyonya Jonathan dan Alexandria akan melangkah, dari ruang depan terdengar suara keributan, pintu depan yang terbuka dan tertutup dengan keras selanjutnya langkah kaki kaki mungil berlarian dan suara tawa mereka berdua yang tampak riang terpuaskan.
Alexandria dan Nyonya Jonathan pun tampak menghentikan langkahnya dan menoleh melihat ke arah ruang depan.
“Mama atu datan... (Mama aku datang...).” teriak mereka berdua dan sambil terus berlarian.
“Sayang kenapa kalian semua berlarian masuk rumah?” ucap Alexandria sambil melangkah mendekati kedua anaknya yang masih berlari menuju ke arah nya.
“Hi... hi.... hi.... hi.... “ tawa mereka berdua wajah nya tampak bahagia.
“Mana Oma William?” tanya Nyonya Jonathan sambil menatap ke arah ruang depan yang belum terlihat sosok Sang besan.
“Tidul.. (tidur).” Jawab mereka berdua masih di sela sela tawanya.
Sementara itu di dalam mobil Nyonya William masih tertidur nyenyak mungkin karena capek berjalan naik turun bukit. Tampak Pak Sopir yang akan memasukkan mobil ke garasi bingung untuk membangunkan. Sedangkan Richardo sudah masuk ke dalam rumah dengan membawa keranjang buah nya. Karena dia mengira Valexa dan Deondria sudah membangunkan Nyonya William akan tetapi Nyonya William susah dibangunkan.
“Hmmm bagaimana ini, marah tidak kalau dibangunkan. Pasti akan marah ke aku kalau bangun.” Gumam Pak Sopir dalam hati.
“Kalau mobil dimasukkan ke garasi dan Nyonya masih di dalam mobil tambah marah lagi.” Gumam Pak Sopir dalam hati sambil menggaruk garuk kepala nya yang tidak gatal.
Di saat Pak Sopir masih bingung, tampak Alexandria menggandeng tangan kedua anak nya kiri dan kanan melangkah mendekati mobil.
Alexandria lalu membuka pintu mobil.
“Ma...” ucap lirih Alexandria sambil menepuk nepuk pelan paha Nyonya William. Pak Sopir kini wajah nya tampak tenang.
“Hhhhmmmm.” Gumam Nyonya William yang matanya masih terpejam tampak Valexa dan Deondria tertawa kecil sambil menutup mulut degan tangan mungilnya.
“Ma, bangun sudah sampai rumah...” ucap Alexandria lebih keras dan menepuk nepuk paha Nyonya William lebih keras lagi.
“Ha? Mana tukang kebun nya sudah datang?” teriak Nyonya William yang kini sudah terbuka mata nya dan menegakkan tubuh nya. Ternyata dia bermimpi menunggu datang nya tukang kebun yang mengambilkan buah buah lezat di atas bukit.
Sementara itu Vadeo yang sudah di dalam kamar langsung menuju ke kamar mandi. Tidak lupa pintu kamar mandi dia kunci dengan sempurna
Vadeo lalu mengambil kotak perhiasan dari saku kemejanya.
“Hmmm ini kok seperti barang jaman dahulu kala dilihat dari bahan dan model nya.” Gumam Vadeo saat memegang dan melihat kotak perhiasan itu.
Dengan pelan pelan dia membuka kotak perhiasan itu dan matanya terbelalak saat melihat isi di dalam nya. Satu pasang cincin emas dengan hiasan batu permata langka dan mahal.
“Ini kan batu permata yang mahal sekali.” Gumam Vadeo sambil mengamati dua cincin itu.
“Mama Jo memang yang paham tentang batu batu perhiasan. Tapi besok saja kalau aku sudah menyerahkan cincin ini pada Alexandria.” Gumam Vadeo dalam hati karena dia pun sangat penasaran dengan barang pemberian ular besar itu.
“Dari mana barang ini di dapat dan siaoa sebenarnya ular besar itu. Kenapa dia begitu baik pada kedua anakku.” Gumam Vadeo dalam hati.
“Hmmm mungkin barang ini bisa untuk petunjuk siapa sebenarnya ular besar itu.” Gumam Vadeo dalam hati sambil mengangguk anggukkan kepalanya.
Saat Vadeo masih berpikir pikir, tiba tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar mandi.
“Deo... Deo... kamu kenapa?” suara Nyonya Jonathan sambil mengetuk ngetuk pintu. Tadi dia memang sudah berbagi tugas dengan Alexandria, kalau dia yang akan melihat Vadeo dan Alexandria yang melihat Nyonya William yang masih tidur di dalam mobil.
“Deo buka pintu nya, apa kamu sakit?” teriak Nyonya Jonathan lagi dengan nada khawatir.
“Iya Ma, bentar baru selesai. “ ucap Vadeo lalu tampak dia berjalan pelan pelan menuju kloset dan dia tekan tombol air penguyur.
“Cepat Deo, apa kamu kebanyakan makan durian di sana?” teriak Nyonya Jonathan lagi.
Sesaat kemudian pintu kamar mandi itu sudah terbuka dan tampak sosok Vadeo sambil tersenyum bibir nya.
“Aku tidak sakit Ma.” Ucap Vadeo sambil memegang kedua bahu Sang Mama nya itu, agar Sang Mama tidak mengkhawatirkan diri nya.
“Syukurlah.” Ucap Nyonya Jonathan sambil mengamati anak nya.
“Kalau ada apa apa bilang pada Mama dan istri mu, jangan disimpan sendiri.” Ucap Nyonya Jonathan lagi.
“Iya Ma.” Jawab Vadeo lalu menggandeng tangan Sang Mama untuk melangkah meninggalkan area depan kamar mandi.
“Apa Mama sudah tahu ya, apa dia tadi mengintip tapi dari mana semua tertutup rapat.” Gumam Vadeo dalam hati.
“Sebenarnya juga ingin segera tanya ke Mama tentang perhiasan ini.” Gumam Vadeo lagi dan tentunya masih di dalam hati.
“Ma....” ucap Vadeo selanjutnya yang kini berjalan sambil memeluk pundak Sang Mama.
“Apa?” Ucap Nyonya Jonathan
“Mama tidak ingin makan buah durian dari bukit?” ucap Vadeo yang merasa bingung bagaimana untuk memulai bertanya tentang perhiasan yang tiba tiba ada di dalam tangan nya itu.
“Ih bingung bagaimana kalau Mama juga minta dibelikan kalau aku bilang beli.” Gumam Vadeo dalam hati.
“Iya nanti, Mama memastikan dulu kalau kamu baik baik saja.” Ucap Nyonya Jonathan yang sambil berjalan di samping Vadeo.
“Iya Ma, aku baik baik saja.” Jawab Vadeo terharu dengan perhatian dan kekhawatiran Sang Mama, meskipun kini dirinya sudah menjadi pria dewasa beranak istri, perhatian Sang Mama tidak berkurang.
“Kamu tidak menyembunyikan sakit dari Mama dan istri mu kan? Mama khawatir kamu tadi memegangi dada kamu. Kalau kamu kebelet buang air kenapa tidak di toilet bawah?” tanya Nyonya Jonathan sambil menoleh menatap Vadeo.
“Tidak Ma, tapi...” ucap Vadeo dan langkah kaki kedua orang itu pun terhenti.
“Tapi apa, katakan pada Mama.” Saut Nyonya Jonathan saat Vadeo belum melanjutkan kalimatnya.
“Ma, aku dapat hadiah untuk ulang tahun pernikahan ku dengan Alexa, sepasang cincin dengan hiasan batu permata yang sangat indah...” ucap Vadeo akhirnya berterus terang pada Sang Mama.
“Coba lihat..” ucap Nyonya Jonathan sambil mengulurkan tangannya, jiwa penggemar perhiasannya meronta ronta kepo ingin melihat saat Vadeo mengatakan permata yang sangat indah.
Vadeo pun pelan pelan mengambil kotak perhiasan dari dalam saku celana nya. Baru melihat kotak perhiasan nya saja mata Nyonya Jonathan melotot karena antara kaget dan kagum. Dan dengan pelan pelan juga Vadeo membuka kotak perhiasan itu. Mata Nyonya Jonathan terus tertuju pada kotak perhiasan itu.
Dan sesaat kemudian....
“Deo ini luar biasa....” ucap Nyonya Jonathan yang langsung mengambil salah satu cincin itu dan mengamat amati batu permata nya.
“Ini barang langka Deo, dan setahu ku batu permata ini simbol dari suatu kekuasaan. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan batu permata ini.” Ucap Nyonya Jonathan dengan mata berbinar binar.
....