Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 71. Rahasia


“Ke mana awan awan tadi pergi nya kok tiba tiba langit kembali biru cerah.” Gumam Richardo dalam hati dan selanjutnya dia meneruskan langkah nya mendekati Valexa dan Deondria yang masih berdiri menunggui nya.


Sesaat kemudian mereka bertiga terus melangkah menuruni bukit menuju ke tempat mobil terparkir.


Beberapa menit kemudian mereka bertiga sudah sampai di dekat batu besar dan tampak Nyonya William berdiri sambil melihat lihat sekitaran, mungkin masih mencari tukang kebun yang dibilang Vadeo. Sedangkan Vadeo terlihat sedang berdiri sambil memegang hand phone nya dan sedang melakukan panggilan video dengan Alexandria untuk mengabarkan kalau mereka akan segera pulang.


“Hah .. kalian sudah datang dan ternyata tidak jadi hujan. Awan awan tadi hanya menipu ku saja.” Ucap Nyonya William dengan nada kesal, saat melihat kedua cucu nya sudah datang dengan Richardo yang tangannya membawa keranjang berisi buah buah an yang aroma nya tercium harum lezat.


“Ayo, cepat masuk ke dalam mobil. Mama dan Oma Jo sudah menunggu kalian.” Ucap Vadeo sambil menaruh lagi hand phone nya di saku kemeja karena sudah mengakhiri panggilan video nya dengan sang isteri.


Richardo lalu tampak berjalan ke arah belakang mobil untuk menaruh keranjang buah itu di dalam bagasi mobil.


“Oma duduk di depan aja.. atu mau dipangku Om Yicado tan duduk detat Aca.. (Oma duduk di depan aja.. Aku mau dipangku Om Richardo dan duduk dekat Aya...).” ucap Deondria sambil menarik tangan Nyonya William agar masuk di pintu depan dan duduk di jok depan di samping kemudi.


“Okey aku mau tidur saja.” Ucap Nyonya William sambil membuka pintu mobil bagian depan dan langsung masuk ke dalam mobil.


Vadeo terlihat membuka pintu bagian belakang dan menggendong kedua anak nya dan memasukkan keduanya di dalam mobil. Tampak Richardo pun sudah selesai menutup pintu bagasi mobil.


“Ma, jendela dibuka sedikit, kita ga pakai AC. Bisa mabok kita kalau pakai AC karena ada durian di dalam mobil.” Ucap Vadeo mengingat kan sang Mama Mertua dan dia pun mendudukkan pantatnya di jok di belakang Sang Mama Mertua dan juga membuka sedikit jendela kaca mobil di sampingnya. Valexa pun segera minta dipangku oleh Sang Papa.


Tidak lama kemudian Richardo pun juga sudah masuk ke dalam mobil dan dia pun segera memangku Deondria. Setelah semua sudah duduk dan pintu tertutup rapat dengan jendela kaca yang terbuka sebagian. Pak Sopir pun mulai menyalakan mesin mobil nya dan mobil berjalan pelan pelan meninggalkan tempat itu.


Mobil terus melaju menuju ke rumah. Dan baru beberapa menit perjalanan tampak mata Nyonya William sudah terpejam dan kepala Nyonya William yang sudah bersandar terlihat terkulai ke samping kanan sebagai pertanda dia sudah tidur dengan nyenyak.


Tampak Valexa dan Deondria menoleh saling pandang dengan mulut tetap diam. Mereka terlihat saling tatap dengan serius beberapa saat dan selanjutnya kedua tampak mengangguk anggukkan kepalanya.


Vadeo dan Richardo pun saling pandang, selanjutnya Vadeo mengangkat kedua bahunya karena tidak tahu kedua anak nya itu sedang membuat rencana apa.


Tiba tiba tangan mungil Deondria terulur ke bawah dan membuka kancing saku celana cargo Richardo lalu mengambil kotak perhiasan itu dan selanjutnya diberikan nya kotak perhiasan kecil itu pada saudara kembarnya.


“Apa itu?” tanya Vadeo karena melihat tangan Deondria mengambil sesuatu dari kantong celana cargo Richardo dan memberikan barang itu pada Valexa.


“Sttttttt.” Desis Deondria sambil jari telunjuk mungilnya ditempelkan diujung mulut nya sambil menghadap ke arah sang Papa. Sebagai isyarat agar Sang Papa diam, tidak berbicara.


“Pa, ini hadiyah uyang taun penikahahaan dayi ulal becal... ( Pa, ini hadiah ulang tahun pernikahan dari ular besar..).” bisik lirih suara Valexa di telinga Vadeo sambil memasukkan kotak perhiasan itu di saku kemeja Sang Papa.


“Yiat di yumah.. danan campe Oma tau cekayang... (Lihat di rumah ... jangan sampai Oma tahu sekarang..).” bisik suara Valexa lagi saat tangan Vadeo terulur menuju ke saku kemeja nya, dia penasaran dengan apa yang sudah di taruh di saku kemejanya.


“Papa kepo.” Bisik Vadeo pula di telinga Valexa, Vadeo lalu terlihat mengintip apa yang ada di saku kemeja nya. Dan mata nya melotot kaget saat melihat apa yang dilihatnya.


“Kalau buah buah an dia bisa mengambil dari pohon pohonan atau dari buah matang yang jatuh dari pohon. Kalau perhiasan dari mana dia dapat nya.” Gumam Vadeo dalam hati lagi.


“Pak, tambah laju kecepatannya.” Perintah Vadeo pada pak sopir sebab dia sudah tidak sabar untuk melihat apa yang ada di dalam kotak perhiasan itu.


“Papa danan biyang Mama tayo yan nacih ulal becal... (Papa jangan bilang Mama kalau uang ngasih ular besar).” Bisik lirih Valexa lagi di telinga Sang Papa. Vadeo tampak menganggukkan kepala nya tanda paham, lalu dia mencium wajah imut Valexa. Sedangkan Deondria tampak menyandarkan kepala nya di dada bidang Richardo dengan santai.


Mobil terus melaju menuju ke rumah. Nyonya William masih tertidur dengan nyenyak. Setelah perjalanan satu jam lebih. Mobil sudah memasuki halaman rumah Vadeo dan Alexandria. Rumah yang tampak asri, kebun bunga di halaman depan tampak indah, bunga sedap malam tampak sedang berbunga dan di bagian bawah bunga bunga nya sudah mulai bermekaran siap memberikan aroma keharuman di sekitaran nya.


“Ayo Oma ditindal di dayam mobing.. (Ayo Oma ditinggal di dalam mobil..).” ajak Deondria pada Valexa, Sang Papa dan Sang pengawal nya.


“Hussst tidak boleh begitu.” Ucap Vadeo sambil tersenyum menoleh ke arah Deondria yang masih menatap Valexa dan dirinya.


Pak Sopir pun kini telah mematikan mesin mobil nya.


“Ayo Aya dan Aca bangunkan Oma.” Ucap Vadeo sambil membuka pintu mobil dan menurunkan Valexa dari pangkuannya. Dan Vadeo segera melangkah turun dari mobil dan segera melangkah menuju ke pintu rumah nya karena dia sangat ingin segera melihat isi di dalam kotak perhiasan itu.


Sedangkan Richardo terlihat melangkah keluar dari mobil yang juga setelah menurunkan Deondria dari pangkuannya. Richardo segera melangkah menuju ke belakang mobil untuk mengambil keranjang berisi buah buah oleh oleh untuk Alexandria.


“Ayo tita tindal Oma... (Ayo kita tinggal Oma...).” ucap Deondria pada Valexa tampak Valexa setuju, kedua bocah itu tampak mengendap endap keluar dari mobil dengan pelan pelan. Dan setelah agak jauh dari mobil kedua bocah itu berlari sambil tertawa senang.


Sementara itu Vadeo terus masuk ke dalam pintu rumah yang sudah tidak dikunci. Vadeo terus melangkah dengan cepat dan terus masuk masuk ke dalam. Tangan kiri nya memegang saku kemejanya agar tidak nampak barang menonjol di dada nya karena kotak perhiasan yang ada di dalam saku.


“Pa.. mana anak anak dan Oma?” tanya Alexandria yang sedang duduk di sofa ruang keluarga bersama Oma Jo, karena melihat Vadeo masuk ke dalam rumah seorang diri dan berjalan tergopoh gopoh dengan langkah lebar nya melewati mereka dan terus saja berjalan dengan cepat.


“Masih di luar.” Teriak Vadeo sambil terus berjalan dan terus menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar nya. Dia ingin segera melihat kotak perhiasan dan isi di dalam nya tanpa diketahui levih dulu oleh Sang istri dan apalagi Sang Mama Jo yang sangat tergila gila dengan perhiasan.


“Bisa bahaya jika Mama Jo melihat barang ini.” Gumam Vadeo dalam hati sambil terus melangkah menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar nya.


Sementara itu Alexandria dan Nyonya Jonathan tampak saling pandang.


“Hmmm dia mungkin sedang belet kencing.” Gumam Oma Jo.


“Tapi kenapa dia tadi pegang dada kiri nya apa dada nya sakit?” gumam Oma Jo lagi sambil bangkit berdiri karena khawatir jika anak laki laki satu satu nya itu sedang sakit. Alexandria pun yang mendengar ucapan sang Mama Mertua juga menjadi ikut khawatir dia pun ikut bangkit berdiri.


.....