Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Ben. 56. Digeledah


“Kamu.” Suara Atikah dengan nada kaget sekaligus kesal karena pelayan bagian logistik membuka pintu mobil dengan sangat keras sehingga membuat jantungnya berdetak lebih kencang.


“Kamu beli apa itu?” tanya pelayan bagian logistik sambil menatap bungkusan tas plastik hitam yang masih dipegang oleh Atikah.


“Coklat blok.” Jawab Atikah sambil menaruh lagi bungkusan tas plastik hitam itu di belakang punggungnya. Dia pun siap akan menyalakan mesin mobil nya.


“Buat apa beli coklat blok banyak banyak begitu?” tanya pelayan bagian logistik sambil menutup pintu mobil. Karena semua belanjaan sudah selesai dan sudah di taruh di atas mobil box itu.


“Pesanan dari teman.” Jawab Atikah sambil menjalankan mobil pelan pelan keluar dari tempat parkir itu.


Mobil terus melaju meninggalkan pasar tradisional itu dan menuju ke mansion Jonathan. Atikah menjalankan mobil box itu dengan kecepatan sedang, sebab muatan di dalam box mobil lumayan berat. Dan dia pun tidak ingin lagi mendapatkan masalah di dalam perjalanan karena dia sedang membawa barang terlarang, yang bagi nya itu adalah barang yang sangat berharga.


Beberapa menit kemudian mobil sudah mendekati lokasi Mansion Jonathan. Jantung Atikah kembali berdebar debar.


“Hmmm barang sudah berada di dalam tanganku, tinggal mengeksekusi saja.” Gumam Atikah dalam hati sambil menjalankan mobil menuju ke pintu gerbang mansion Jonathan.


Akan tetapi sudah saat mobil sudah sampai di depan pintu gerbang. Petugas penjaga pintu gerbang itu tidak membukakan pintu buat Atikah.


“Kok pintu tidak dibuka?” ucap Atikah sambil melihat pos keamanan.


Dan sesaat kemudian dari pos keamanan itu keluar dua sosok orang laki laki, yang tidak lain adalah Bang Bule Vincent dan bapak petugas keamanan. Mereka terus melangkah mendekati mobil box itu.


“Vincent.” Gumam Atikah dalam hati , karena dia yang sesungguhnya adalah Amelia juga mengenal Bang Bule Vincent, akan tetapi dia tidak tahu jika Bang Bule Vincent bekerja sama dengan tim yang memberantas pengedaran barang terlarang.


“Turun!” perintah Bang Bule Vincent pada Atikah dan pelayan bagian logistik.


Atikah turun dari mobil dan meninggalkan barangnya di dalam jok mobil itu.


“Ada apa ini?” tanya pelayan bagian logistik dengan nada kaget. Sedangkan Atikah diam saja dan berusaha untuk tetap tenang sambil berharap barang nya tetap aman di dalam mobil.


“Tolong masuk ke dalam pos keamanan sebentar.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menatap Atikah dan pelayan bagian logistik.


Sesaat mereka berempat sudah di dalam ruang pos keamaman.


“Maaf baru saja ada perintah jika semua orang yang akan masuk ke dalam Mansion harus kami periksa.” Ucap Petugas keamanan itu.


“Tolong serahkan barang yang kalian bawa akan kami cek.” Ucap Bang Bule selanjutnya.


“Ooo silahkan.” Ucap Atikah sambil melepas tas yang dia slempangkan di pundaknya lalu diserahkan pada Bang Bule Vincent. Dia tampak tenang sebab semua pesan chat pada Zulfa sudah dihapus nya. Dan barang kiriman tidak dia taruh di dalam tas.


“Untung barangnya berat jadi tidak aku masukkan ke dalam tas.” Gumam Atikah dalam hati.


Sedangkan Bang Bule Vincent masih menggeledah isi tas milik Atikah itu.


“Kok tidak ada cokelat blok yang dimaksud Aca dan Aya ya... “ gumam Bang Bule dalam hati sambil masih membuka buka retsleting yang ada di dalam kantong kantong tas milik Atikah.


“Aku tidak korupsi Pak, apa aku dicurigai menyembunyikan gratifikasi dari pedagang di pasar toh..” ucap pelayan bagian logistik yang tampak khawatir.


Bang Bule tampak berpikir keras saat tidak mendapatkan barang yang dia cari. Bang Bule Vincent lalu menatap sosok Atikah.


“Maaf aku akan cek saku baju kamu.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya dan tampak Atikah mempersilahkan. Dalam hati Atikah tersenyum.


Bang Bule Vincent pun lalu memeriksa saku pakaian Atikah. Bapak petugas keamanan pun juga memeriksa saku baju pelayan bagian logistik itu.


“Ambil itu!” perintah Bang Bule Vincent saat meraba ada barang di dalam saku celana panjang Atikah. Atikah pun lalu mengambil barang itu dan diserahkan pada Bang Bule Vincent. Bang Bule Vincent menerima barang itu yang tidak lain adalah dua buah anak kunci. Kunci kamar dan kunci lemari.


“Sekarang kalian berdua jalan menuju ke kantor kepala pelayan!” Perintah Bang Bule Vincent pada dua orang itu, Atikah dan pelayan bagian logistik.


“Sebenarnya ada apa toh Pak, Bang?” tanya pelayan bagian logistik yang masih tampak bingung.


“Demi keamanan.” Jawab petugas keamanan.


Atikah dan pelayan bagian logistik itu lalu berjalan lebih dulu keluar dari pos keamanan itu. Tas dan kunci nya masih dibawa oleh Bang Bule Vincent. Hati Atikah kini mulai tidak tenang, akan tetapi dia masih memiliki harapan akan barang kiriman nya aman di dalam mobil.


Saat Atikah akan membuka pintu mobil.


“Hei.. tinggalkan mobil, kalian jalan kaki menuju ke ruang kepala pelayan!” teriak Bang Bule Vincent yang masih di dalam pos keamanan.


“Hmmm alamat ada yang tidak beres nih. Aku harus amankan barang ku dulu.” Gumam Atikah dalam hati. Sedangkan pelayan bagian logistik segera berjalan dengan cepat masuk ke dalam halaman Mansion Jonathan, dia yang penasaran kenapa tiba tiba ada pemeriksaan akan segera menemui Ibu kepala pelayan. Wajah nya tampak khawatir sebab dia takut jika sudah membuat kesalahan yang tidak dia sadari.


Sedangkan Atikah masih berdiri mematung dan berpikir keras.


“Tapi bagaimana cara nya ya...” gumam Atikah lagi tampak berpikir pikir. Lalu dia menoleh pandangan dia pada taman yang berada di dekat situ, dia melihat ada tanaman tanaman perdu dan semak semak.


“Apa aku sembunyikan di situ dulu ya... pasti tidak ada orang yang tahu.” Gumam Atikah dalam hati.


Sesaat kemudian Atikah dengan cepat membuka pintu mobil itu. Dan di saat pintu sudah berhasil dibuka dan tangan nya sudah terulur untuk mengambil barang nya. Tiba tiba ada tangan kekar yang menarik pundaknya.


“Sudah dibilang disuruh meninggalkan mobil.” Suara Bang Bule Vincent dengan kesal sambil menarik salah satu pundak Atikah.


“Ehmmm maaf saya mau mengambil cokelat titipan teman, dia mau buat kue untuk jualan. Kasihan dia Tuan, dia pedagang kecil.” Ucap Atikah dengan ekspresi wajah memelas.


“Tolong ya Tuan, dia sudah titip uang kepada saya, dan dia sangat membutuhkan barang itu, untuk membuat pesanan kue pelanggannya yang akan diambil nanti sore. Kasihan dia Tuan.” Ucap Atikah lagi dengan mengiba iba.


“Tolong ya Tuan, beri kesempatan pada dia untuk mengambil cokelat blok titipan nya itu. Dan izin kan saya untuk menghubungi dia agar segera mengambil barang nya itu Tuan.” Ucap Atikah lagi sambil memandang wajah Bang Bule Vincent yang tampak berpikir pikir.


..