
“Ini Nyonya.” Ucap Ibu kepala pelayan sambil menyerahkan ketiga map itu. Nyonya Jonathan pun segera membuka buka ketiga map itu, dan perhatian dia pada map yang berisi profil calon sopir seorang perempuan dan foto perempuan itu pun tampak seorang perempuan yang sederhana.
“Hmmm seperti nya ini cocok, tampaknya orang nya sabar untuk melayani cucu cucu ku.” Gumam Nyonya Jonathan, lalu Ibu kepala pelayan pun menceritakan tentang pengalaman Atikah dan Atikah yang merupakan anak yatim piatu hidup dengan nenek nya. Dan akhirnya Nyonya Jonathan pun memutuskan Atikah yang menjadi sopir buat Valexa dan Deondria.
“Kalau dia dari desa biarlah dia tinggal di Mansion beri dia kamar.” Ucap Nyonya Jonathan. Ibu kepala pelayan pun mengangguk kepalanya lalu dia pamit dan akan segera memberi informasi pada ketiga calon sopir itu tentang hasil keputusan final nya agar mereka bertiga tidak gelisah menunggu nunggu.
Sementara itu di lain tempat Valexa dan Deondria kini sedang bersama Vadeo. Mereka berdua sedang diajak oleh Vadeo untuk menemui psikolog anak yang ahli dalam mendampingi anak anak indigo atau yang memiliki indera ke enam.
“Nona Valexa dan Nona Deondria apa sering mimpi buruk?” tanya psikolog wanita yang cantik itu. Valexa dan Deondria pun menjawab dengan menggeleng gelengkan kepala nya.
“Coba sebutkan siapa teman baik kalian.” Ucap sang psikolog dengan nada ramah dan lembut
“Papa tan Mama. (Papa dan Mama)..” Jawab mereka berdua secara bersamaan.
“Siapa lagi...?” tanya sang psikolog sambil tersenyum menatap Valexa dan Deondria
“Om Yicado.. Ante Pin.(Om Ricardo.. Uncle Vin)..” jawab Valexa dan Deondria
“Enti Icoya, Enti Deayopa,... (Aunty Ixora, aunty Dealova).” ucap Valexa dan Deondria lagi dan tampak mereka berdua mengingat ingat siapa teman baik nya.
“Auwel... (Aurel)” ucap Valexa dan Deondria selanjutnya
“Siapa dia?” tanya sang psikolog karena Valexa dan Deondria hanya menyebut nama saja, sang psikolog khawatir itu adalah teman halusinasi nya seperti anak anak lain yang datang berkonsultasi pada nya.
“Teman cetoyah.. (teman sekolah).” jawab mereka berdua. Lalu mereka berdua pun menyebutkan nama nama teman nya dan mereka bisa menjelaskan nama nama yang disebutkannya.
“Siapa lagi?” tanya sang psikolog
“Banak..... capek... (banyak...capek).” ucap mereka berdua sambil bibirnya cemberut.
Sang Psikolog pun tersenyum tampak tangannya terulur membuka laci meja kerja nya dan mengambil dua bungkus coklat lalu diberikan pada Valexa dan Deondria. Dua bocah itu pun menerima dengan senang hati dan tidak lupa mengucapkan terimakasih.
“Tuan, saya rasa untuk konsultasi cukup dulu. Dari hasil wawancara tadi mereka tidak diganggu oleh roh roh yang dikhawatirkan oleh Tuan.” Ucap sang psikolog sambil menatap Vadeo.
“Semua teman yang mereka sebutkan ada di alam nyata. Beda dengan anak anak yang memiliki halusinasi atau yang dikelilingi oleh roh roh gentayangan.” Ucap nya lagi dan Vadeo tampak lega.
“Yang terpenting biarkan mereka bisa mengungkapkan apa yang mereka rasakan agar tidak gelisah.” Ucap sang psikolog selanjutnya sambil menatap wajah Valexa dan Deondria yang tampak masih mengamat amati coklat pemberiannya. Sepertinya mereka sedang membandingkan dengan pemberian Opa Dokter.
“Sepertinya saat ini mereka gelisah. Karena melihat ada orang yang dia katakan jahat tetapi sepertinya mereka juga ingin mengenalnya karena penasaran dengan orang itu.” Ucap Vadeo dengan nada serius dan kedua bocah itu tampak mengangguk anggukan kepala nya.
“Hmmmmm.” Gumam Sang Psikolog yang kini tampak bingung. Valexa dan Deondria pun saling pandang lalu...
“Pa, puyang yok. (Pa pulang yok)..” ucap Valexa dan Deondria sambil memegang telapak tangan Papa nya.
Mereka bertiga pun segera masuk ke dalam mobil. Seperti biasanya salah satu dari mereka duduk di jok depan menemani Sang Papa sedang yang satu nya duduk di jok belakang. Vadeo memang lebih senang mengantar sendiri tanpa sopir pribadi atau ditemani oleh Sang pengawal sebab biar kedua anak nya bisa bebas mengungkapkan apa yang dirasa dan diinginkan oleh mereka.
Mobil terus melaju meninggalkan gedung tempat konsultasi tadi menuju ke mansion Jonathan. Kedua bocah itu masih tampak lebih banyak diam meskipun Vadeo sudah memancing mancing agar mereka mau berceloteh dan bercanda.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki pintu gerbang Mansion Jonathan. Vadeo pun melajukan mobil nya pelan pelan menuju ke dekat pintu utama Mansion.
“Sayang nanti Papa kembali kerja ya.. kasian Opa Jo.” Ucap Vadeo sambil sekilas menoleh ke samping dan ke belakang. Valexa dan Deondria pun hanya diam saja.
Sesaat mobil sudah berhenti Vadeo pun lalu segera membuka pintu mobil kedua anaknya pun juga dengan cepat membuka pintu mobil dan segera berlari menuju ke pintu utama Mansion. Karena mereka tidak bisa menekan bel tamu karena letaknya yang tinggi mereka berdua pun menendang nendang pintu itu dengan kaki kaki mungil mereka dengan tekanan yang sudah mereka perhitungkan agar pintu yang kokoh dan kuat itu tidak roboh.
“Kenapa tidak sabar menunggu Papa.” Ucap Vadeo yang kini berada di belakang kedua anak nya lalu tangan nya memasukkan kunci yang ada di tangan nya lalu membuka pintu itu. Kedua anak itu pun segera berlari menuju ke ruang keluarga.
Saat di ruang keluarga tampak Nyonya Jonathan masih duduk di sofa sambil melihat siaran televisi yang terpasang di dinding ruang keluarga itu.
“Sayang kenapa berlari lari.” Ucap Sang Oma sambil menoleh ke arah cucu cucu nya yang berlarian menuju ke arah nya.
“Oma ada beyita apa (Oma ada berita apa)?” tanya mereka berdua lalu mendekat ke arah Oma Jo. Vadeo pun juga berjalan menuju ke ruang keluarga.
“Ooo ada berita bagus sudah mendapatkan sopir buat kalian berdua. Biar Papa tidak capek antar jemput kalian.” Ucap Oma Jo sambil mencium wajah ke dua cucu nya secara bergantian.
“Mana oyang na (mana orang nya)?” tanya mereka berdua.
“Belum datang, tapi ini berkas dia masih Oma bawa akan Oma tunjukkan pada Papa dan Opa.” Ucap Oma Jo meskipun urusan yang berhubungan dengan Mansion Jonathan berada di keputusan nya akan tetapi dia tetap menyampaikan hasil keputusannya pada suami dan anak nya. Nyonya Jonathan pun menyerahkan map itu pada Vadeo.
“Perempuan.” Ucap Vadeo saat membuka map itu. Valexa dan Deondria pun juga segera melihat isi di dalam map.
“Kok dia!” teriak Valexa dan Deondria Saat melihat ada foto di dalam map yang sama dengan orang yang dia lihat di depan pos keamanan Mansion Jonathan.
“Dia sudah lulus test Sayang.” Ucap Nyonya Jonathan sambil menatap kedua cucu nya.
“Tapi dia dahat... tapi.. (tapi dia jahat.. tapi...)” gumam mereka berdua yang tampak bingung.
“Dia orang baik, pengalaman kerja di yayasan sosial..” ucap Nyonya Jonathan.
“Oma beyum tenal tok biyang baik ....( Oma belum kenal kok bilang baik.).” ucap Deondria dengan lantang
“Iya.. beyum tenal tok biyang baik (iya belum kenal kok bilang baik).” Saut Valexa dengan lantang pula.
“Kalian belum kenal kok juga bilang jahat..” ucap Oma Jo sambil menatap kedua cucu nya...
...