
“Hah? Kenapa yang muncul di bola kristalku malah rumahku sendiri?” teriak Mamah Mimi saat membuka kedua matanya karena yang ada di dalam bola kristal di depannya itu malah penampakan rumah mewahnya. Mata Mamah Mimi tampak melotot lebar, wajahnya pun menegang. Apalagi dia melihat sosok dua tamunya baru saja masuk ke dalam pintu gerbangnya dengan berjalan kaki tanpa didampingi oleh orang orangnya.
“Kurang ajar. Kenapa kepalaku tiba tiba pusing? Aku tidak bisa melihat pulau keramat itu dan malah melihat dua orang tamu itu dari luar tanpa didampingi. Cari apa mereka?.” Gumam Mamah Mimi tampak ekspresi wajahnya berpikir pikir. Dia khawatir jika tamunya itu mengetahui rahasianya. Dan pergi tidak lagi mau bekerja sama.
“Aku harus ke sana sekarang. Aku harus bisa mempertahankan orang itu dulu, dia modalnya masih banyak. Aku hanya punya kekuatan tapi tidak cukup modal untuk mengambil harta karun itu dan menjadikan banyak uang.” Gumam Mamah Mimi lalu dia segera mematikan lilin lilinnya. Mamah Mimi pun segera bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruang prakteknya. Masih dengan pakaian hitam hitamnya Mamah Mimi segera keluar dari pintu rumahnya. Tanpa dikunci pun orang orang tidak ada yang berani masuk ke dalam rumah praktek Mamah Mimi itu, sebab mereka percaya jika rumah praktek Mamah Mimi itu dijaga oleh roh roh leluhur Mamah Mimi juga roh roh tawanan Mamah Mimi.
Mamah Mimi segera berjalan menuju ke tempat garasi mobil yang mana Pak Sopir setia menunggu di sana.
“Antar aku ke rumah gedung.” Ucap Mamah Mimi saat sudah di depan pak sopir yang sedang duduk di kursi depan sambil mendengarkan radio. Mamah Mimi memberikan istilah rumah gedung buat menyebut rumah mewahnya.
“Bukannya malam nanti belum malam bulan purnama Mah.” Ucap Pak Sopir sambil menatap heran Mamah Mimi lalu mematikan suara radio yang dia pangku tadi.
“Aku ada perlu penting.” Ucap Mamah Mimi sambil berjalan menuju ke mobilnya.
“Sepertinya belum lama Mamah Mimi menengok anak anaknya itu. Apa iya dia mau gituan dengan tamu tamunya tadi. Kalau dilihat tamu tamu laki laki tadi bukan selera Mamah Mimi. Yang satu sudah setengah baya perut gendut, yang satu gagah perkasa tetapi kulit hitam, dan yang satu bule keren tapi pincang he... he....he...” gumam Pak Sopir dalam hati sambil berjalan menuju ke mobilnya. Pak Sopir juga sudah tahu kebiasaan dan kesukaan Mamah Mimi.
Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil. Pak Sopir segera menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan mobil milik Mamah Mimi itu menuju ke rumah mewah milik Mamah Mimi.
Sementara itu di rumah mewah milik Mamah Mimi. Di dalam salah satu kamar tempat Nyonya Siu Lie berada. Tampak Nyonya Siu Lie keluar dari kamar mandi, tubuhnya hanya dililit oleh handuk di batas dada ke bawah sampai di pahanya. Wajahnya tampak bahagia meskipun ada gurat gurat kelelahan. Dan tidak lama kemudian muncul sosok pemuda tampan dan gagah yang baru saja selesai melayani gairah Nyonya Siu Lie, pemuda itu keluar dari kamar mandi hanya mengenakan G string saja tampak tubuh kekar dada bidang dan perut kotak kotaknya, bagian sensitif yang tertutup oleh G string pun tampak menonjol besar dan panjang.
“Terima kasih yang Beb.. Aku sudah transfer ke dalam rekening kamu. Kamu bisa cek sekarang Beb.” Ucap Nyonya Siu Lie yang sudah duduk di sofa sambil mengusap usap layar hand phone miliknya. Dia baru saja selesai mentransfer sejumlah uang yang banyak pada rekening pemuda yang baru saja melayaninya itu.
“Terima kasih Nyonya jika Nyonya memerlukan lagi bisa hubungi saya.” Ucap pemuda itu sambil memakai bajunya. Bagi pemuda itu karena sudah terlanjur masuk di dalam sarang Mamah Mimi, yang penting keluarganya aman dan dia dapat banyak uang untuk dikirim pada keluarganya, tidak apa apa dia yang dijadikan korban. Asal keluarganya selamat dan sejahtera.
Dan sesaat kemudian Nyonya Siu Lie mengusap usap hand phonenya lagi karena tadi dia melihat ada nama kontak Tuan Njun Liong melakukan banyak panggilan tidak terjawab.
“Ada apa Liong menghubungi aku. Tidak tahu kalau aku sedang bersenang senang.” Gumam Nyonya Siu Lie sambil melakukan panggilan balik pada Tuan Njun Liong. Sementara Nyonya Siu Lie masih mengusap usap layar hand phone nya, pemuda tampan dan gagah yang sudah memuaskan gairahnya pamit pergi meninggalkan kamar Nyonya Siu Lie.
“Ada apa Liong kamu menghubungi aku. Lebih baik kamu istirahat saja menunggu kerja Mamah Mimi. Kalau kedua bocah itu sudah mati kita segera pergi ke pulau harta karun itu. Karena mereka yang menguasai pulau itu dalam kesedihan mendalam jadi lebih mudah kita kuasai pulau itu.” Ucap Nyonya Siu Lie setelah Tuan Njun Liong menerima panggilan suaranya.
“Lie, bagaimana kalau aku mundur saja dari kerja sama ini.” Suara Tuan Njun Liong di balik hand phone Nyonya Siu Lie. Karena setelah dari warung kopi Tuan Njun Liong berniat akan mengakhiri saja kerja samanya dengan Nyonya Siu Lie. Tampak Nyonya Siu Lie kaget mendengar ucapan Tuan Njun Liong.
“Liong kamu tidak bisa masuk ke pulau harta karun itu kalau dua bocah itu masih hidup.” Suara Nyonya Siu Lie dengan nada tinggi.
“Aku akan mencari cara lain Lie untuk membunuh dua bocah itu. Aku pikir bisa dilakukan dengan cara yang lebih logis tidak memakai cara mistis Mamah Mimi itu.” Suara Tuan Njun Liong dengan nada serius di balik hand phone milik Nyonya Siu Lie.
“Ha... Ha... mau cara logis bagaimana Liong? Apa kamu lupa jika kapal kamu tenggelam gara gara hujan badai yang tiba tiba muncul.” Suara Nyonya Siu Lie dengan nada tinggi untuk mengingatkan kejadian tragedi tenggelamnya kapal dan anak buah Tuan Njun Liong.
“Hmmm Mamah Mimi tidak bisa melihat apa apa di bola kristalnya. Aku belum percaya.” Suara Tuan Njun Liong yang mencari alasan agar bisa memutus kerja sama dengan Nyonya Siu Lie.
“Itu karena kuatnya kuasa yang melindungi dua bocah itu Liong. Mamah Mimi saja tidak bisa melihat apalagi kamu yang akan menggunakan cara logis.” Ucap Nyonya Siu Lie lagi.. Akan tetapi tiba tiba di balik hand phone Nyonya Siu Lie ada suara dobrakan yang sangat keras.
BRAAKK
Dan sambungan telepon Nyonya Siu Lie dengan Tuan Njun Liong terputus.