Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 184.


Vadeo yang takut kena marah oleh Sang Papa lalu menggeser tombol hijau.


“Pa...” ucap Vadeo saat sudah menggeser tombol hijau. Sedangkan Bang Bule Vincent tampak pelan pelan berjalan menuju ke mobil yang tadi dia tumpangi dan segera masuk ke dalam mobil.


“Deo, kalian sedang di mana? Apa sedang menjemput Oma? Di mana Oma? Apa dia mabuk perjalanan? Aku ingin melihat Oma Jo...” suara Tuan Jonathan di balik hand phone milik Vadeo dan ekspresi wajah Tuan Jonathan tampak kuatir dengan pandangan mata mencari cari sosok Sang isteri.


“Deo mana Mamamu? Apa dia masih mual?” tanya Tuan Jonathan lagi


“Itu Pa... yang mual mual Mamanya Aca dan Aya...” ucap Vadeo dengan takut takut dan tersenyum datar.


“Terus di mana Mamamu?” tanya Tuan Jonathan dengan tidak sabar. Dan selanjutnya Vadeo pun menjelaskan semua kejadian yang baru saja terjadi yang dia dengar dari pak sopir dan juga pengawal pribadi Nyonya Jonathan.


“Tidak jelas semuanya.” Ucap Tuan Jonathan dengan nada tinggi lalu sambungan panggilan video terputus.


Sementara itu di tempat lain di mobil yang mogok sedang menunggu petugas pom bensin mengantar bensin. Nyonya Jonathan dan Nyonya William masih tidak sadarkan diri di dalam mobil.


Sesaat hand phone yang ada di saku jaket pengawal Nyonya Jonathan, berdering. Pengawal Nyonya Jonathan pun segera mengambil hand phone dari saku jaketnya. Ekspresi wajahnya tampak menegang saat di lihat di layar hand phone miliknya tertera nama kontak Tuan Jonathan sedang melakukan panggilan video. Dia tadi yang mematikan hand phone milik Nyonya Jonathan saat Tuan Jonathan menghubungi nomor hand phone Nyonya Jonathan. Dan kini mau tak mau dia menggeser tombol hijau.


“Di mana istriku?” suara Tuan Jonathan dengan nada tinggi dan panik menjadi satu. Sang pengawal Nyonya Jonathan yang sedang berdiri di luar mobil itu pun segera membuka pintu mobil dan mengarahkan kamera depan pada dua Nyonya yang sedang duduk terkulai di jok belakang kemudi karena pingsan. Tuan Jonathan memanggil manggil istrinya akan tetapi Nyonya Jonathan hanya diam yang masih terkulai lemas dengan mata terpejam. Terdengar Tuan Jonathan marah marah pada Sang pengawal Nyonya Jonathan dan juga sopir yang membawa mobil. Dan setelah puas marah marah sambungan teleponnya diputusnya.


Sesaat kemudian mobil yang mengantar bahan bakar sudah datang. Dan dengan segera petugas mengisi dengan penuh bahan bakar ke dalam tangki mobil yang di dalamnya ada Nyonya Jonathan dan Nyonya William yang belum juga tersadar. Agar tangki terisi penuh , Pak Sopir menggoyang goyangkan badan mobil, entah yang dilakukan ini adalah cara yang benar atau tidak, dia hanya ikut ikut teman teman sesama sopir saja. Akan tetapi tiba tiba...


“Pa.. jangan digoyang goyang sekarang.” Suara lirih Nyonya Jonathan dengan mata yang masih terpejam. Pak Sopir yang berada di luar mobil tidak mendengar suara lirih Nyonya Jonathan dan terus saja menggoyang goyang mobil. Dan Nyonya Jonathan mungkin yang tadi mendengar suara suaminya di balik hand phone milik pengawalnya dan hidungnya mencium aroma bensin , juga mobil yang terus bergoyang goyang, lama lama kesadarannya pulih. Dan Nyonya Jonathan pun membuka matanya pelan pelan.


Nyonya Jonathan mencoba mengingat ingat apa yang terjadi dan juga mimpinya saat dia tidak sadar tadi.


“Pa... “ suara Nyonya Jonathan selanjutnya karena saat dia tidak sadar tadi mendengar suara suaminya dan bermimpi Tuan Jonathan datang membantunya.


Sang pengawal Nyonya Jonathan yang mendengar suara sang Nyonya nya segera berjalan dan membuka pintu mobil.


“Syukurlah Nyonya sudah sadar.” Ucap Sang pengawal saat melihat Nyonya Jonathan sudah membuka matanya dan duduk dengan tegak tidak terkulai lagi.


“Di mana suamiku?” tanya Nyonya Jonathan agak keras sambil menoleh ke kanan dan ke kiri melihat luar mobil yang sudah tampak redup karena matahari sudah condong ke barat tanda sore telah tiba.


Nyonya William yang mendengar besan perempuannya bersuara dengan keras menyebut kata suami, kesadarannya pun pelan pelan pulih. Mungkin juga karena hidungnya mencium bensin dan mobil yang digoyang goyang.


“Kok kita di mobil.” Gumam Nyonya William saat membukakan matanya. Nyonya William pun menoleh ke kanan dan ke kiri sambil meraba raba tubuhnya sendiri.


Pak Sopir dan Pengawal Nyonya Jonathan pun segera masuk ke dalam mobil karena pengisian bahan bakar telah selesai, mereka berdua terlihat senang saat kedua Nyonya sudah tidak lagi terkulai di jok.


“Kok kita sudah di mobil bukannya tadi kita di atas bukit?” tanya Nyonya William yang tampak masih bingung.


“Kita ini masih hidup apa sudah mati karena di makan ular besar tadi? Hiiiiiii....” ucap Nyonya William yang masih meraba raba tubuhnya sebab dia khawatir sekarang ini dia sudah menjadi roh halus.


“Kita masih hidup Nyonya, bersyukur ular besar tadi tidak mengejar kita.” Ucap pengawal Nyonya William yang duduk di jok belakang Nyonya William.


“Terus kita mau ke mana ini?” tanya Nyonya Jonathan dan Nyonya William secara bersamaan


“Ke rumah sakit dulu. Memastikan Nyonya Nyonya sehat.” Ucap dua pengawal itu secara bersamaan pula.


“Aku baik baik saja. Langsung ke rumah saja. Dan jangan menghubungi Vadeo dan Alexa.” Ucap Nyonya Jonathan dengan nada tinggi.


“Iya jangan menghubungi Vadeo dan Alexa.” Ucap Nyonya William pula.


Dua pengawal dan pak sopir itu hanya diam saja. Dan mobil terus melaju menuju ke rumah sesuai dengan perintah Nyonya Jonathan dan Nyonya William.


Sedangkan dua mobil yang arah dari pantai pun terus melaju. Alexandria sudah tidak lagi mual mual tetapi posisi tempat duduk kini sudah berganti. Vadeo yang duduk sendirian di jok belakang. Sedangkan Valexa dan Deondria duduk di samping Alexandria tangan tangan mungil mereka berdua mengusap usap terus perut datar Alexandria dan sesekali mereka berdua menciumi perut datar Sang Mama. Bagai mengajak bercanda adik adiknya.


Vadeo berusaha menghubungi pengawal sang Mama akan tetapi panggilan nya tidak diterima, sebab saat akan diterima oleh Sang pengawal dilarang oleh Nyonya Jonathan dan Nyonya William.


“Kok pengawal Mama dihubungi tidak diterima ya...” gumam Vadeo masih terus berusaha menghubungi pengawal Nyonya Jonathan.


“Mungkin sedang sibuk mengurusi Oma Oma..” saut Alexandria sambil mengusap usap kepala Valexa dan Deondria.


“Tidak Mama... Oma Oma cudah cembuh... tita yancung te yumah aja.. (Tidak Mama.. Oma Oma sudah sembuh .. kita lansung ke rumah saja...).” ucap Valexa sambil mendongak ke arah Alexandria.


“Benar Oma Oma sudah baik? Sudah tidak pingsan lagi?” tanya Alexandria sambil menunduk menatap wajah Valexa dan Deondria. Kedua bocah itu mengangguk dengan mantap. Alexandria pun kini tampak tenang. Dan memberi tahu pada Vadeo agar tenang dan langsung menuju ke rumah saja tidak menuju ke rumah sakit. Akan tetapi..


“Kita tetap ke rumah sakit dulu, tidak ada salahnya kita mengecek di sana. Biar kita tidak disalahkan oleh Oma Oma dan Opa Opa.” Ucap Vadeo dan Vadeo pun memerintahkan pada Pak Sopir agar menjalankan mobil dengan tujuan ke rumah sakit.


“Macam Oma Oma caja...” bisik lirih Valexa pada Deondria..


“Dibiyangi neyel. ... (dibilangi ngeyel...).” bisik lirih Deondria pula dan kedua bocah itupun tertawa kecil.