Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 162.


Vadeo dan Bang Bule Vincent yang dibangunkan oleh asisten pilot tampak kaget. Apalagi melihat kru pesawat sudah memakai alat pelindung dan tampak sedang sibuk menyiapkan alat alat pelindung sambil membangunkan para penumpang. Vadeo masih dengan ekspresi terkaget kaget langsung memakai alat pelindung diri dan berjalan menuju ke tempat tidur kedua anaknya. Tampak dua bocah itu masih tidur dengan pulas sambil memeluk guling mereka. Vadeo segera menggendong Valexa lalu mengambil tubuh Deondria. Kedua bocah itu tampak sudah masih saja tertidur kepala mereka berdua terkulai pada kedua pundak Vadeo.


Bang Bule Vincent yang tidak kalah kaget juga sedang memakai alat pelindung. Vadeo kini sudah duduk kembali sambil memangku kedua anaknya. Tampak dua kru pesawat datang mendekati tempat duduk Vadeo sambil membawa alat pelindung khusus anak anak, lalu memberikan dua alat pelindung anak anak itu pada Vadeo. Kedua kru pesawat itu juga menawarkan diri untuk memakaikan alat pelindung pada Valexa dan Deondria.


“Bul, kamu bawa salah satu anakku.” Ucap Vadeo sambil menoleh ke arah Bang Bule Vincent yang sudah selesai memakai baju pelindungnya. Bang Bule Vincent pun segera mengambil tubuh Deondria dan mengambil satu alat pelindung khusus anak anak dari tangan Vadeo. Bang Bule Vincent dan Vadeo pun sambil memangku kedua bocah itu memakaikan alat pelindung anak anak buat mereka berdua.


“Hmmmmmhhhhh....” gumam mereka berdua karena merasa terganggu dari tidurnya.


“Sayang... ayo bangun situasi dan kondisi bahaya. Kapal besar itu melepaskan tembakan ke atas. Mereka akan menembak pesawat yang kita naiki ini.” Ucap Vadeo sambil terus memakaikan baju pelindung pada anak anaknya.


“Pesawat akan turun di lautan yang aman. Karena bahan bakar tidak cukup menuju ke bandara selain di pantai Alexandria.” Ucap Vadeo selanjutnya. Dan Valexa yang berada di dalam pangkuannya pun lalu membukakan matanya. Deondria pun juga mulai membukakan matanya.


Sementara itu kapal besar yang pelayarannya dipimpin oleh Tuan Lim Neo pun terus bergerak menuju ke pulau Alexandria. Akan tetapi kini Tuan Lim Neo tidak lagi tersenyum bibirnya akan tetapi mulai marah marah.


“Sial! Gara gara kamu melepaskan tembakan pada burung itu. Mereka pasti tahu sedang dalam bahaya dan memberi tahu pada pesawat itu dan pesawat itu menjauh.” Ucap Tuan Lim Neo dengan nada tinggi. Ekspresi wajahnya kini tampak menegang karena emosi.


“Maaf Tuan saya tadi hanya mengetes senjata dan tingkat kefokusan tembak saya. Maklum sudah lama berlayar tidak latihan.” Ucap anak buah kapal yang tadi melepaskan tembakannya pada seekor burung besar yang sedang terbang.


“Tuan tidak masalah pesawat itu pergi menjauh kita bisa terus menuju ke pulau harta karun itu dan menguasai pulau itu.” Ucap anak buah kapal yang lainnya untuk menenangkan hati Tuan Lim Neo yang sedang panas karena kecewa.


“Iya, tetapi kalau kita bisa menembak pesawat itu kita sudah dengan pasti memusnahkan pemilik pulau itu. Dan lebih mudah kita dalam menguasai pulau harta karun itu.” Ucap Tuan Lim Neo itu lagi masih dengan nada tinggi.


Sementara itu Richardo yang berada di ruang kerja Vadeo. Baru saja mendapat kabar dari petugas di pantai Alexandria tempat pesawat mendarat, jika pesawat milik Vadeo tidak jadi mendarat di pantai. Demi keamanan pesawat akan mendarat di lautan yang aman.


Richardo pun segera mengambil hand phone miliknya yang berada di atas meja dekat lap top lalu Richardo mengusap usap layar hand phone miliknya itu untuk mencari nomor Basarnas jaringan kerjanya. Richardo mengabarkan jika pesawat yang ditumpangi oleh Bang Bule dan keluarga Vadeo akan mendarat darurat di lautan. Dan Richardo meminta tim Basarnas menyiapkan bantuan.


Setelah Richardo selesai meminta bantuan pada Basarnas jaringan kerjanya. Lalu Vadeo menelepon hand phone milik Alexandria.


Sementara itu Alexandria yang masih sibuk di dapur menyiapkan bumbu ikan laut bakar dan saus madu, tampak kaget mendengar bunyi dering hand phone di saku celana kulotnya.


“Ix kamu lanjutkan!” perintah Alexandria pada Ixora agar Ixora melanjutkan untuk menghaluskan bumbu bumbu itu.


“Setelah halus kamu masukkan ke dalam kulkas dulu. Masak nya nanti setelah ikan datang.” Ucap Alexandria selanjutnya sambil melangkah menuju ke wastafel yang ada di dapur itu. Ibu pelayan yang sedang berada di dalam dapur sedang sibuk untuk memasak makan siang dalam menyambut kedatangan Vadeo dan rombongan.


“Richardo ada apa lagi.” Gumam Alexandria lalu segera menggeser tombol hijau.


“Nyonya pesawat tidak jadi mendarat di pantai. Pilot memutuskan untuk mendarat darurat di lautan yang jauh dari posisi kapal itu. Saya sudah menghubungi rekan Basarnas agar siap siap memberi bantuan pada penumpang pesawat yang mendarat darurat.” Suara Richardo dengan nada teramat sangat serius di balik hand phone milik Alexandria.


“Hah? Kenapa harus mendarat darurat kita sudah mengantisipasi kemungkinan terburuk dengan meledakkan kapal itu!” suara Alexandria dengan nada tinggi.


“Ada apa Kak?” tanya Ixora sambil menoleh ke arah Alexandria dengan ekspresi wajah panik.


“Pesawat akan mendarat di lautan yang jauh dari kapal. Itu keputusan pilot.” Jawab Alexandria yang sudah memutus sambungan teleponnya dengan Richardo.


“Kamu tahu kalau pesawat mendarat di lautan? Ikan pesanan ku tidak akan sampai ke sini.” Ucap Alexandria dengan nada kesal. Alexandria kini tampak sibuk mengusap usap layar hand phone miliknya.


“Nyonya apa mereka tidak jadi pulang siang ini?” tanya Ibu pelayan sambil menoleh menatap Ixora. Ixora hanya mengangkat kedua bahunya.


“Padahal saya sudah masak banyak sekali ini. Juga masak makanan kesukaan Nona Aca dan Nona Aya.” Ucap Ibu pelayan itu dengan nada sedih dan kecewa.


“Pesawat akan mendarat darurat di lautan yang jauh Bu.” Ucap Alexandria masih sibuk mengusap usap layar hand phone miliknya untuk mencari kontak nama petugas di pantai Alexandria yang bisa terhubung dengan Sang pilot.


“Kalau mereka mendarat darurat di lautan yang jauh bisa sekalian mengambil ikan ikan di laut.” Gumam Ibu pelayan dapur itu. Ixora dan Alexandria yang sedang panik tidak begitu mendengarkan gumaman ibu pelayan itu.


“Apa kamu masih bisa terhubung dengan Pak Pilot?” tanya Alexandria setelah sudah terhubung dengan petugas di pantai tempat pesawat milik Vadeo mendarat.


“Sudah agak sulit Nyonya.” Suara seorang laki laki dengan nada panik dibalik hand phone milik Alexandria.


“Kalau bisa terhubung lagi suruh dia tetap mendaratkan pesawat di pantai kita. Jangan mendarat darurat. Kita akan tetap memberi penjagaan pada pesawat itu sampai mendarat dengan selamat.” Suara Alexandria dengan lantang.


“Tetapi ada suara tembakan ke atas Nyonya, saya khawatir nanti juga akan menembak pesawat.” Suara laki laki di balik hand phone milik Alexandria itu lagi.


“Percayalah pada aku!” suara Alexandria lagi masih dengan lantang.