Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 78. Harta Karun di Bawah Laut


Vadeo segera melangkah keluar dari rumah Bang Bule Vincent. Karena dia sudah hafal tentang intuisi dan insting kedua anak nya maka dia menuruti jika kedua anaknya sudah mengatakan pokok nya.


Vadeo dengan cepat berjalan menuju ke tempat mobil nya terparkir, dengan cepat pula dia membuka pintu mobil nya. Setelah masuk ke dalam mobil, Vadeo segera menyalakan mesin mobil nya dan dia pun dengan segera menjalankan mobil nya keluar dari halaman rumah Bang Bule Vincent.


Vadeo menambah laju kecepatan mobil nya. Dia pun terus memasang modus waspada. Sesekali matanya melihat keadaan di belakang mobilnya lewat kaca spion depan. Senjata api kecil pun selalu ada di saku pakaian nya.


Meskipun dia dan Alexandria tidak mempublikasikan tentang cincin permata mewah nya, akan tetapi dia tetap waspada jika berita itu sampai juga di telinga orang jahat.


“Sepertinya aman tidak ada hal yang mencurigakan di belakang.” Gumam Vadeo dalam hati sambil terus melajukan mobilnya dan terus tetap waspada.


Sesaat mobil Vadeo sampai di persimpangan jalan dan lampu lalu lintas tampak masih berwarna hijau.. Vadeo mempercepat laju kecepatan mobil nya. Dan...


WEEEEEESSSSSS


Vadeo sukses melewati persimpangan jalan ini. Akan tetapi sesaat kemudian dari kaca spion Vadeo dia melihat ada mobil yang tertabrak di persimpangan jalan itu dan terjadilah kecelakaan beruntun.


“Hmmm apa itu sebabnya Aca dan Aya menyuruh aku cepat pulang. “ gumam Vadeo dalam hati.


“Terlambat sedikit mungkin aku terjebak macet atau ikut dalam kecelakaan beruntun itu.” Gumam Vadeo lagi dan dia terharu penuh syukur karena selamat. Vadeo terus melajukan mobil nya dan tetap dalam mode waspada.


Sementara di belahan bumi lain. Di lautan Atlantik utara kapal besar milik Tuan Njun Liong sudah berada di lokasi yang di tuju. Anak buah Tian Njun Liong sudah turun dari kapal dan berenang menyelam ke dalam dasar lautan. Sementara Tuan Njun Liong dan Richie tetap berada di atas kapal sambil ditemani wanita wanita penghibur.


“Tuan, bagaimana kalau mereka setelah mendapat harta karun itu tidak kembali ke kapal ini?” tanya Richie yang belum begitu paham tentang sistem kerja di kapal Tuan Njun Liong itu.


“Ha... ha... tidak mungkin Tuan. Mereka sudah dipasangi alat detektor.” Jawab Tuan Njun Liong sambil tertawa dan menaruh gelas wiski nya di atas meja, wanita penghibur yang ada di sampingnya lalu menuang lagi wiski ke dalam gelas Tuan Njun Liong yang sudah kosong.


“Aku juga memiliki ahli IT dalam pekerjaan saya ini. Aku dengar dari Patrick kalau anda juga memiliki keahlian ilmu itu.” Ucap Tuan Njun Liong selanjutnya sambil mengangkat lagi gelas wiski nya.


“Hmmm tidak begitu banyak Tuan hanya melindungi data saja agar tidak terlacak polisi.” Ucap Richie sambil tersenyum.


“Ohhh.” Gumam Tuan Njun Liong setelah menegak wiski dari gelas nya.


Sesaat kemudian tampak ada suara notifikasi masuk di hand phone Tuan Njun Liong. Tuan Njun Liong pun segera mengusap usap layar hand phone nya. Wajah Taun Njun Liong tampak tersenyum senang.


“Ini ada informasi masuk. Mereka sudah menemukan barang yang kita cari.” Ucap Tuan Njun Liong sambil menatap wajah Richie.


“Benarkah Tuan, itu berita bagus. Saya sudah tidak sabar.” Ucap Richie dengan mata yang berbinar binar.


Mereka setelah keluar dari ruangan mewah di dalam kapal itu terus melangkah dan menuruni anak tangga untuk menuju ke lantai bawah tempat para penyelam tiba.


Mereka semua tidak sabar menunggu kedatangan para penyelam yang sudah berhasil membawa barang yang dicari nya.


Dan waktu yang dinanti pun tiba para penyelam sudah datang dan pakaian selam nya sudah mereka lepas. Salah satu dari mereka membawa satu koper terbuat dari bahan logam yang tampak sudah ditumbuhi lumut air yang tebal. Koper tua itu tampak berat.


Richie tersenyum dan dia sangat penasaran dengan isi di dalam koper tua yang tampak berat itu.


“Cepat kamu buka koper itu!” Perintah Tuan Njun Liong pada anak buah nya.


Tampak salah satu anak buah Tjun Liong yang tadi juga ikut menunggu di atas kapal mengeluarkan gergaji baja kecil dari saku celana nya. Lalu dia menggergaji gembok yang sudah berlumut dan sedikit berkarat sebab meskipun gembok dari baja kuat karena sudah lama berada di dalam air laut tetap berkarat juga.


Tuan Njun Liong dan Richie segera berjalan mendekat ke arah anak buah nya yang sedang berjongkok menggergaji gembok koper tua lumutan itu.


Dan beberapa kemudian gembok koper sudah berhasil di gergaji. Akan tetapi masih juga susah untuk membuka nya. Akhirnya anak buah itu menggergaji gembok itu lagi agar lebih mudah dilepas dari koper tua itu. Dan beberapa menit kemudian gembok tua itu sudah berhasil lepas dari koper itu. Semua orang yang menunggu terlihat lega.


“Berikan pada ku koper itu!” perintah Tuan Njun Liong. Dan anak buah Tuan Njun Liong itu pun segera menyerahkan koper tua nan berat itu kepada Tuan Njun Liong.


Richie yang berada di dekat Tuan Njun Liong turut membantu membawakan koper tua yang berat itu. Dan dengan segera Tuan Njun Liong membuka koper tua itu. Meskipun sudah tidak ada gembok nya, akan tetapi tetap saja susah dibuka.


“Bersusah susah sekarang bersenang senang kemudian ha... ha....” ucap Tuan Njun Liong menyemangati diri nya sendiri sambil terus berusaha membuka koper tua itu. Richie pun terus memegangi koper itu bahkan dibantu oleh anak buah Tuan Njun Liong lain nya.


Dan beberapa menit kemudian koper tua itu sudah berhasil dibuka. Tuan Njun Liong tampak tersenyum puas namun berbeda dengan Richie yang ekspresi wajah nya tampak kecewa.


“Tuan kenapa hanya berisi kertas tua? Bukan perhiasan emas permata atau uang koin emas logam mulia?” tanya Richie dengan nada dan ekspresi wajah yang sangat kecewa. Karena dia sangat berharap koper tua itu berisi perhiasan emas permata yang bisa langsung dibagi.


“Ha... Ha... ini sangat berharga Tuan dari selembar kertas ini kita bisa mendapatkan emas permata lebih dari satu koper.” Ucap Tuan Njun Liong sambil mengambil dengan hati hati satu lembar kertas yang terlipat dan tampak kusam dan rapuh. Tuan Njun Liong pun lalu melangkah pergi meninggalkan mereka semua dan berjalan menaiki anak tangga dan akan kembali masuk ke dalam rumah mewah nya.


Sedangkan Richie masih berdiri bengong dan ekspresi wajahnya masih kecewa dan ditambah bingung.


“Itu kertas apa?” tanya Richie sambil menatap anak buah Tuan Njun Liong.


“Apa Tuan belum tahu?” jawab anak buah Tuan Njun Liong malah balik bertanya pada Richie, dan Richie hanya menggeleng gelengkan kepala.


....