
“Hmmm semua tidur pulas mendengarkan cerita ku.. Benar benar aku berbakat menjadi pendongeng.” Gumam Vadeo dalam hati. Lalu dia mengecup lembut dahi kedua anak nya dan isterinya tercinta.
Vadeo akhirnya membaringkan di salah satu tempat tidur anak nya yang kosong itu. Sebab tempat tidur anaknya yang tidak luas itu akan tidak nyaman jika diri nya ikut tidur dengan ketiga orang tercinta nya itu.
Pagi hari nya Alexandria terbangun lebih dulu sebelum yang lainnya terbangun. Termasuk kedua pengasuh Valexa dan Deondria juga masih terlelap.
Setelah bangkit berdiri Alexandria tersenyum melihat suaminya yang ikut tertidur di kamar anak anak mereka.
“Pa.. jadi tidak?” bisik Alexandria sambil mencium pipi Vadeo dengan mesra.
Mendapat ciuman dan ajakan di pagi hari oleh Sang Istri, mata Vadeo langsung terbuka.
Mereka berdua segera melangkah menuju ke kamar tidur nya dengan hati hati agar orang orang yang masih terlelap tidak terbangun.
Sesampai di dalam kamar nya Alexandria tidak lupa mengunci pintu kaca penghubung dan menutup gorden tebal dengan rapat. Vadeo segera menggendong tubuh istrinya dan dengan langkah lebarnya dia bawa tubuh Alexandria ke tempat tidurnya.
Vadeo menaruh pelan pelan tubuh Alexandra di atas tempat tidur lalu dia pun ikut naik ke atas nya dan dia cumbui wajah Istri nya itu.
“Pa...” bisik Alexandria di saat Vadeo masih mencumbui wajahnya.
“Hmmm.” Gumam Vadeo dengan suara parau dan yerus mencumbui wajah Alexandria kini cumbuannya pun sudah sampai di leher jenjang Alexandria.
“Aca dan Aya kok kemarin bilang dulu ada penyerangan di pulau Alexandria ya..” ucap Alexandria dengan jari jari lembut nya yang membelai belai rambut belakang dan tekuk Vadeo.
“Jangan membahas itu dulu Sayang.. nanti malah mereka berdua bangun.” Suara Vadeo lalu memberi tanda cinta di leher jenjang Alexandria.
Alexandria pun diam dan menikmati setiap cumbuan Vadeo yang semakin turun ke bawah. Vadeo pun menikmati setiap sentuhan dari Alexandria. Dan akhirnya seluruh pakaian pasangan suami istri itu pun sudah terlepas dan mereka berdua melepaskan hasrat, memberikan kehangatan dan semangat di pagi hari.
Mereka melakukan pelepasan beberapa kali tanpa gangguan dari anak anaknya. Vadeo terlihat puas dan lega. Wajah nya pun terlihat berseri seri demikian juga dengan Alexandria.
Sementara itu di kamar Valexa dan Deondria pun tidak terjadi banyak masalah, kedua anak itu bisa tidur cukup dan bangun pagi tidak membuat kehebohan. Kini mereka berdua sudah dimandikan oleh kedua pengasuh nya dan juga sudah memakai baju seragam sekolah nya.
“Nanny tita yancung te yuang matan aja.. (Nanny kita lansung ke ruang makan saja...).” ucap Valexa saat Sang Nanny sudah selesai memasang hiasan rambut di kepala nya.
“Iya Nanny muntin Papa tan Mama cedang bitin adik.. (iya Nanny mungkin Papa dan Mama sedang bikin adik...).” ucap Deondria yang melihat gorden di pintu kaca penghubung masih tertutup rapat.
Ke dua Nanny itu pun tertawa kecil dan menuruti kedua Nona kecil nya. Mereka berempat lalu keluar dari kamar lewat pintu kamar nya tidak lewat pintu kaca penghubung yang masih terkunci, dan tertutup rapat gorden nya.
Saat di ruang makan, Tuan dan Nyonya Jonathan sudah berada di kursi makan nya. Nyonya Jonathan tampak sudah cantik dan memakai pakaian indah yang tampak juga siap akan pergi.
“Cucu cucu Oma cantik cantik dan pintar pintar.” Ucap Nyonya Jonathan saat melihat Valexa dan Deondria masuk ke dalam ruang makan tidak membuat kehebohan.
Tidak lama kemudian Vadeo dan Alexandria muncul. Kedua nya tersenyum dan wajah kedua nya tampak berseri seri sebab mereka berdua bisa enak enak tanpa diganggu oleh kehebohan dari kedua anak nya.
“Tidak.” Jawab Oma Jo sambil membantu menyiapkan sarapan buat cucu cucu nya.
“Oma mau te yumah Ante Pin (Oma mau ke rumah Uncle Vin).” Saut Valexa dan Deondria sambil tersenyum menatap Sang Oma.
“Kok kalian tahu?” tanya Oma Jo sambil memotong motong kan daging asap menjadi kecil kecil untuk cucu cucu nya.
“He... he....” Valexa dan Deondria hanya tertawa kecil.
Vadeo tampak mengeryitkan dahinya , sebab dia menduga maksud kedatangan Oma Jo ke rumah Bang Bule Vincent pasti akan terus menanyakan dari mana Tim misi mendapatkan cincin permata langka itu.
Acara makan pagi pun selesai dengan damai dan tidak ada keributan dan kehebohan yang berarti.
Saat semua sudah siap akan meninggalkan ruang makan. Tiba tiba terdengar bel tamu. Nyonya Jonathan segera pamit pada Tuan Jonathan.
“Oma jalan dulu.” Ucap Nyonya Jonathan sambil mengulurkan tangannya pada kedua cucu nya yang sudah menggendong tas mungil di punggung mereka. Kedua anak itu pun menerima telapak tangan Sang Oma lalu mencium punggung tangan Sang Oma.
Nyonya Jonathan melangkah dengan cepat menuju ke pintu utama Mansion sebelum sang pelayan berjalan untuk membukakan pintu.
Vadeo yang penasaran juga turut melangkah mengikuti langkah kaki Nyonya Jonathan dengan berjarak agar Sang Mama tidak melihat jika diikuti.
Saat Vadeo sudah sampai di dekat pintu dia mendengar suara Sang Mama Mertua sedang berbicara dengan Sang Mama nya.
“Haduh mereka berdua akan mendatangi Bang Bule. Pasti Mama mencari bantuan besan nya itu.” Gumam Vadeo dalam hati. Nyonya Jonathan dan Nyonya William pun sudah berjalan menuruni anak tangga menuju ke mobil yang tadi mengantar Nyonya William.
Vadeo lalu mengambil hand phone yang ada di dalam saku blazer nya. Dan di saat bersamaan kedua anaknya sudah berjalan bersama Alexandria dan Tuan Jonathan.
“Kalian berangkat lebih dulu. Hati hati ya..” ucap Vadeo sambil memberi salam kepada semua nya. Setelah mencium tangan Sang Papa , Valexa dan Deondria segera berlari menuju ke mobil yang akan mengantar nya , Richardo pun sudah siap berdiri di dekat mobil nya.
Sedangkan Vadeo masih berdiri di dekat pintu sambil mengusap usap layar hand phone nya.
“Bul, kedua Oma mau ke rumahmu. Sekarang juga ceoat kamu keluar dari rumah dan segera cari informasi tentang isi dari manuskrip itu. Kalau perlu kamu pulang ke Belanda sekarang dari pada kamu nanti seharian harus mengantar kedua Oma itu untuk pergi mencari perhiasan.” Suara Vadeo setelah Bang Bule Vincent menerima panggilan nya.
“Hah, pagi pagi mereka berdua sudah mau menyerangku.” Suara Bang Bule Vincent di balik hand phone Vadeo dengan nada kaget.
“Bro, padahal hari ini aku akan menghubungi orang yang katanya bisa membaca manuskrip itu.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya.
“Ya sudah kamu segera pergi ke tempat orang itu, sebelum Mama sampai di rumahmu.” Ucap Vadeo
“Lha rencana aku mau menghubungi lewat video call di rumah saja. Sudah janjian nanti jam sembilan ini.” Suara Bang Bule Vincent lagi.
...