
Pak Sopir itu dalam mata terpejam merasakan ada perubahan di sekitarnya. Dalam mata terpejamnya kini dia merasakan jika di sekitarnya tidak lagi gelap gulita. Pak Sopir itu pun segera membukakan kelopak matanya, dengan pelan pelan....
“Hah kenapa tiba tiba menjadi terang benderang seperti ini. Apa Bang Bule Vincent memiliki senter super terang... Atau sinar apa ya? Apa ada hantu cahaya.... Hiiii..” gumam Pak Sopir yang masih kaget heran dan takut, lalu dia memejamkan lagi matanya karena takut jika ada makhluk bukan manusia ada di depannya. Pak Sopir masih memeluk kedua lututnya dengan erat erat.
Akan tetapi tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dan suara Nona Nona Kecil yang ingin Sang Papa dan Uncle nya berjalan lebih cepat.
“Papa tepat dayan na.. ( Papa cepat jalan nya..)” suara Valexa dengan imutnya.
“Ante Pin duda tepat! (Uncle Vin juga tepat)!” suara Deondria yang juga imut.
Mendengar suara suara yang sudah begitu akrab di telinganya, Pak Sopir itu tampak senang dan dia langsung membuka lagi kedua kelepak mata nya dan bangkit berdiri. Tidak lupa bibir tersenyum. Akan tetapi, sesaat kemudian mata Pak Sopir melihat ular yang sangat besar dengan kepala yang mengeluarkan sinar sangat terang benderang, tanpa berteriak pak sopir itu langsung...
BRUUKKK
Tubuh pak sopir yang sudah lemas sejak tadi karena ketakutan dan khawatir langsung terjatuh di tanah karena begitu ketakutan melihat ular besar yang mengeluarkan sinar terang di kepalanya.
Ular besar itu terus menggeserkan tubuhnya dengan lebih cepat dan mendekat ke pohon asam. Vadeo dan Bang Bule Vincent pun juga mempercepat langkah kaki nya. Tampak Vadeo selain menggendong Valexa tangannya juga membawa satu buah buku besar. Sedangkan Richardo berjalan paling belakang dan tangannya membawa keranjang yang terbuat dari anyaman pelepah pisang, isi di dalam keranjang itu ayam hutan bakar dan ubi bakar yang dia bawakan untuk Pak sopir. Sedangkan mereka semua sudah makan kenyang.
“Hmmm Pak Sopir pingsan. Do kamu gendong pak sopir itu. Makanannya biar di bawa Bang Bule.” Ucap Vadeo sambil menoleh ke arah Richardo.
“Bang bagaimana kalau aku yang menggendong Deondria saja.” Ucap Richardo sambil tersenyum menatap Bang Bule Vincent. Tampak Bang Bule Vincent menatap wajah Richardo dengan tajam. Dan tiba tiba...
“Atu dendong Om Yicado... (Aku gendong Om Richardo).” Ucap Deondria sambil mengulurkan tangannya ke arah Richardo. Richardo pun dengan senang hati menerima Deondria dan segera digendongnya sambil salah satu tangannya masih membawa kera yang pelepah pisang yang berisi makanan untuk Pak Sopir.
Bang Bule Vincent melotot ke arah Richardo akan tetapi mau tak mau dia melaksanakan perintah Vadeo. Bang Bule Vincent pun segera mengangkat tubuh Pak sopir dan dia gendong di belakang tubuhnya.
Bang Bule Vincent pun segera berjalan dengan cepat untuk turun dari bukit dia berjalan di barisan paling depan agar bisa segera selesai membawa bebannya. Sedangkan Sang ular besar kini berjalan di barisan paling belakang dengan kepala masih mengeluarkan cahaya. Beberapa ayam hutan pun terdengar sudah berbunyi kukkukruyuk mungkin mereka kira pagi sudah datang.
Hand phone mereka pun terdengar banyak notifikasi masuk. Akan tetapi karena kedua tangan mereka kesulitan untuk mengambil hand phone nya maka masih saja dibiarkan dan akan menunggu hingga sampai nanti di bawah baru dilihatnya. Akan tetapi tangan mungil Valexa mengambil hand phone yang berada di dalam saku kemeja Sang Papa. Valexa pun yang masih di dalam gendongan Sang Papa langsung melakukan panggilan suara pada Sang Mama.
“Sayang cepat pulang ya.. Mama tunggu.. mana suara Papa dan suara Aya..” suara Alexandria
“Iya Sayang ini baru jalan turun dari bukit.” Suara Vadeo, dan selanjutnya tangan mungil Valexa yang masih memegang hand phone milik Sang Papa terulur ke belakang ke arah Deondria yang digendong Richardo yang berjalan di belakang nya.
“Hai... Mama atu didendong Om Yicado.. (Hai ... Mama aku digendong Om Richardo).” Teriak Deondria. Alexandria yang berada di rumah tampak lega karena sudah bisa mendengarkan suara dari orang orang tercintanya. Valexa pun lalu memutus sambungan teleponnya setelah memberi pesan pada Sang Mama agar makan banyak.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai du batu besar. Sang ular pun sudah tidak lagi mengeluarkan cahaya di kepalanya. Deondria menyalakan lampu senter yang ada di kepala Richardo, sedangkan Bang Bule Vincent tidak bisa menyalakan lampu senter di kepalanya karena kedua tangannya menyangga pantat pak sopir yang tubuh pak sopir terasa berat menempel di punggungnya.
“Ca, nyalakan senter hand phone Papa.. Uncle bisa jatuh kalau kaki tersandung batu.” teriak Bang Vincent yang masih berjalan di barisan paling depan, karena cahaya senter Richardo tidak sampai di jalan depan bagian bawah.
Sementara itu satu sopir lainnya yang datang menyusul karena mendengar suara Bang Bule Vincent langsung menyalakan lampu mobilnya. Tiga laki laki muda yang baru turun dari bukit itu tampak kaget. Namun hanya sesaat karena setelahnya dia tahu jika itu mobil milik Vadeo yang pasti atas suruhan Alexandria untuk menyusul.
“Bul, kamu ikut mobil dia. Biar Richardo yang bawa mobil satunya. Ambil kunci mobil yang dibawa pak sopir itu dulu.” Ucap Vadeo pada Bang Bule Vincent. Bang Bule Vincent yang sudah ingin segera menurunkan tubuh pak sopir itu pun segera berjalan menuju ke mobil yang menyala lampunya. Setelah menurunkan dan memasukkan tubuh pak sopir ke dalam mobil. Bang Bule Vincent mengambil kunci mobil dari saku baju pak sopir.
“Untung tidak ikut jatuh.” Gumam Bang Bule Vincent lalu berjalan dan menyerahkan kunci itu pada Richardo sambil meminta keranjang makanan.
Dua mobil itu pun lalu segera berjalan meninggalkan tempat itu untuk menuju ke rumah. Bang Bule Vincent duduk di jok depan di samping pak sopir. Dia yang sudah kangen dengan sang isteri segera mengambil hand phone dari saku celana cargo nya. Akan tetapi betapa kagetnya dia saat banyak notifikasi masuk, pesan dari anak buahnya di perbatasan yang mengabarkan dalam kondisi bahaya. Bang Bule Vincent mengusap wajahnya dengan kasar.
“Hah.. kenapa aku juga berada di mobil yang terpisah dengan Vadeo begini..” gumam Bang Bule Vincent dalam hati.
“Kamu tambah laju kecepatan agar bisa sampai ke rumah. Perjalanan kapal musuh tentu lebih cepat dari pada mobil kita ini. Aku ingin bicara dengan Vadeo.” Ucap Bang Bule Vincent pada pak sopir. Sedangkan mobil yang dikemudikan oleh Richardo sudah melaju dengan cepat meninggalkan mobil mereka.
Sesaat kemudian tampak hand phone Bang Bule Vincent menyala berkedip kedip dan terdengar suara dering. Di layar hand phone itu Vadeo melakukan panggilan video.
“Vadeo sudah tahu situasi bahaya apa mau bercerita tentang buku besar yang dia bawa tadi.” Gumam Bang Bule Vincent dalam hati, ekspresi wajah nya tampak menegang. Bang Bule Vincent pun segera menggeser tombol hijau...