Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 149. Waktunya Tiba


Laki laki paruh baya lalu tangan kanannya mengetuk ngetuk pintu kamar yang ditempati oleh keempat pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent. Sedangkan tangan kirinya memegang nampan yang berisi empat mangkok kecil kecil yang berisi darah ayam jago yang dipotong tadi. Tampak darah di dalam mangkok itu sudah mulai mengental.


TOK TOK TOK


TOK TOK TOK TOK


Laki laki paruh baya itu mengetuk ngetuk pintu lebih keras lagi. Sebab pintu juga belum terbuka. Sesaat kemudian pintu terbuka. Dan muncul salah satu sosok pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent.


“Mana empat pemuda yang mendapat tugas nanti malam?” tanya laki laki paruh baya itu dengan suara berat dan ekspresi wajah seramnya datar dan menakutkan.


Satu orang pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent yang membuka pintu dan masih memegang handel pintu itu tampak begidik ngeri mendengar pertanyaan dan juga melihat ada darah di dalam empat mangkok pada tangan laki laki di depan nya itu. Takut jika harus disuruh minum darah yang sudah mengental itu.


“Saya salah satunya ada perlu apa?” ucap salah satu pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent, memberaikan diri agar mendapatkan kejelasan.


“Mana yang tiga?” ucap laki laki paruh baya itu belum juga menyampaikan maksud kedatangannya mencari keempat pemuda utusan Bang Bule Vincent.


Tampak satu orang pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent yang masih memegang handel pintu itu menoleh ke dalam kamar sambil memanggil teman temannya. Lalu ketiga temannya pun mendekat ke arah pintu.


Daun pintu kamar itu lalu didorong dengan keras oleh laki laki paruh baya itu agar terbuka lebar. Dia pun lalu melangkah masuk. Keempat pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent itu tampak masih bertanya tanya dalam hati dan semua begidik ngeri melihat darah mengental yang ada di keempat mangkok. Meskipun mereka berempat sering melihat darah yang keluar dari tubuh manusia akan tetapi jika harus memasukkan darah ke dalam mulut dan lambung nya baru membayangkan saja lambung terasa mual.


Satu pemuda pelamar dari tetangga kota yang juga ada di dalam kamar itu pun tampak semakin bingung dengan apa yang dia lihat saat ini. Yang mana kejadian kejadian sebelumnya sudah membingungkan dirinya.


Laki laki paruh baya itu lalu mencocolkan telunjuk jari kanannya pada satu mangkok darah. Lalu darah yang ada di telunjuk jarinya itu dia oleskan pada daun telinga belakang salah satu pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent. Dan setelahnya dia mencocolkan lagi telunjuk jari kanannya pada mangkok darah lainnya, lalu dibolehkan pada daun telinga belakang pemuda kedua. Dan begitu seterusnya hingga ke empat pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent itu semua daun telinga belakang nya sudah diolesi oleh darah ayam yang tadi dipotong.


“Hmmm semoga acara nanti malam berjalan lancar.” Gumam laki laki paruh baya itu lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari kamar. Sedangkan keempat pemuda utusan Bang Bule Vincent itu langsung menghambur menuju ke kamar mandi untuk mandi membersihkan seluruh tubuhnya.


Di lain tempat di pulau Alexandria. Mobil yang ditumpangi oleh Valexa dan Deondria bersama Papa dan Uncle nya sudah sampai di pantai Alexandria. Setelah mereka beristirahat di villa yang ada di pantai Alexandria. Dan waktu pun terus berlalu hingga sore hari pun telah berlalu, sang mentari sudah kembali tenggelam di ufuk barat, dan gelap pun telah tiba tabur bintang bintang mulai gemerlapan di langit menemani Sang Bulan Purnama yang sudah ditunggu tunggu hadirnya oleh makhluk di bumi.


“Sayang apa ada yang harus dibawa lagi?” tanya Vadeo saat mereka sudah siap siap akan masuk ke dalam mobil yang akan mengantar ke pesawat. Tampak Valexa dan Deondria hanya menggelengkan kepalanya. Kedua bocah itu kini terlihat lebih banyak diam.


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil. Dan mobil segera berjalan menuju ke tempat pesawat terparkir. Di belakang mobil yang mereka tumpangi ada satu mobil yang berjalan mengikuti mereka, mobil yang ditumpangi oleh anak buah Bang Bule Vincent. Sebab demi keamanan mereka Vadeo minta empat orang anak buah Bang Bule Vincent ikut mengantar mereka.


Beberapa menit kemudian dua mobil itu sudah sampai di dekat pesawat jet pribadi milik Vadeo. Mereka yang berada di dalam dua mobil itu pun segera turun. Dan dengan langkah cepat mereka segera menaiki anak tangga pesawat satu persatu. Bang Bule Vincent pun sudah menghubungi Eveline agar segera bersiap siap untuk menjemput mereka dengan dua mobil.


Setelah semua masuk ke dalam pesawat jet pribadi Vadeo. Pintu pesawat pun tertutup dengan rapat. Tampak Valexa duduk dipangku oleh Vadeo dan Deondria dipangku oleh Bang Bule Vincent. Tangan Vadeo dan tangan Bang Bule Vincent selalu mengusap usap rambut kepala Valexa dan Deondria. Kedua bocah itu masih tampak lebih diam.


Sesaat pesawat sudah tinggal landas dan terus mengudara menuju ke bendahara kecil di kota Mamah Mimi berada.


“Berapa lama perjalanan Bro?” tanya Bang Bule Vincent memecah keheningan.


“Satu jam.” Jawab Vadeo singkat.


Sementara itu di rumah mewah Mamah Mimi, di malam hari sudah tampak heboh. Aroma pekat kemenyan yang dibakar semakin menguar di setiap sudut sudut ruangan dan lokasi. Mamah Mimi setelah makan malam langsung menuju ke ruang tengah. Di meja tampak sesaji untuk para leluhur Mamah Mimi sudah terhidang lengkap, empat ingkung ayam jago dengan segala macam perlengkapannya ada bunga mawar, daun daunan, rempah rempah yang ditumbuk di taruh dalam mangkok mangkok juga mangkok mangkok darah ayam tadi yang kini sudah benar benar menjadi padat tidak lagi mengental.


Melihat Mamah Mimi berjalan menuju ke tempat sesaji beberapa pemuda yang ada di rumah Mamah Mimi yang sudah mendapat tugas mengurusi sesaji itu langsung datang mendekati Mamah Mimi.


“Hmmm sudah lengkap. Sekarang kalian bawa ini semua ke rumah leluhur.” Perintah Mamah Mimi pada pemuda yang diberi tugas mengurus sesaji itu.


Para pemuda itu lalu mengangkat sesaji sesaji itu dan dibawa keluar dari ruang tengah itu.


“Jaga sampai fajar tiba!” perintah Mamah Mimi lagi dengan suara lantang sebab para pemuda itu sudah melangkah keluar dari ruang tengah dan terus berjalan keluar menuju ke halaman rumah mewah Mamah Mimi. Mobil Mamah Mimi pun sudah menunggu dan pemuda pemuda yang membawa sesaji sesaji itu masuk ke dalam mobil. Mobil pun berjalan keluar dari halaman rumah mewah Mamah Mimi menuju ke rumah praktek Mamah Mimi, yang dibilang oleh Mamah Mimi rumah leluhur.