
Mobil yang membawa Vadeo, Bang Bule Vincent dan Si Kembar terus melaju menuju ke hotel tempat Tuan Njun Liong dan Richie menginap. Bang Bule Vincent tahu di mana letak Tuan Njun Liong dan Richie berada. Karena Alexandria setelah menemukan pemilik akun palsu yang memposting di group emak emak pencinta permata, Alexandria bisa melacak nomor nomor orang yang dihubungi oleh Nyonya Siu Lie pemilik akun palsu itu. Dan Alexandria bisa membobol keamanan yang sudah dibuat oleh Richie pada data data nomor hand phone milinya dan nomor hand phone milik Tuan Njun Liong.
“Tepat Pak... (Cepat Pak).” Suara Valexa dan Deondria sudah tidak sabar karena waktu terus berlalu. Suara ayam jantan yang berkokok sudah mulai bersaut sautan, tanda pagi akan segera menjelang. Pak Sopir yang sudah paham kosa kata Aca dan Aya, menganggukkan kepalanya.
“Cepat Pak keburu pagi tiba!” ucap Vadeo yang juga mulai tidak sabar. Dia takut jika target sasaran akan pergi lagi. Dan semakin lama pekerjaan selesai. Vadeo ingin hari ini selesai semuanya dan bisa segera pulang ke pulau Alexandria.
“Ini sudah kecepatan full Tuan.” Jawab Pak Sopir itu dengan nada serius dan terus fokus pada kemudi mobilnya.
“Beda dengan mobil kamu Bro.” Suara Bang Bule Vincent lirih sambil menoleh menatap Vadeo yang duduk di sampingnya. Sementara Valexa dan Deondria dipangku oleh Vadeo dan Bang Bule Vincent. Pak Sopir terus melajukan mobil menuju ke sebuah hotel yang sudah disebutkan oleh Bang Bule Vincent dan Vadeo.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman hotel yang paling bagus di kota itu. Petugas pintu gerbang hotel membukakan pintu gerbang dengan senang hati sebab mengira mobil itu membawa orang orang yang akan menginap di hotel tersebut.
Vadeo dan Bang Bule Vincent sambil menggendong Si Kembar segera turun dari mobil. Saat turun dari mobil suara adzan sudah mulai berkumandang tanda pagi hari telah tiba. Beberapa orang sudah mulai terlihat berjalan di lokasi hotel itu. Mungkin karyawan hotel yang sudah mulai beraktivitas atau orang orang yang berjalan menuju ke mushola hotel.
Vadeo dan Bang Bule Vincent mempercepat langkah mereka menuju ke tempat resepsionis. Orang orang yang berjalan di lokasi hotel itu tidak curiga pada kedatangan Vadeo dan Bang Bule Vincent. Sama seperti petugas gerbang mereka mengira Vadeo dan Bang Bule Vincent tamu yang akan menginap, apalagi membawa dua anak kecil.
Sesampai di depan tempat resepsionis pun petugas resepsionis langsung menyambut mereka dengan ramah dan santun. Dua orang petugas resepsionis itu pun mengira Vadeo dan Bang Bule Vincent adalah tamu yang akan menginap. Akan tetapi Bang Bule Vincent segera menunjukkan kartu identitas miliknya dan menyampaikan maksud kedatangannya. Dua petugas resepsionis yang sudah mengenal Organisasi milik Bang Bule Vincent meskipun baru mengenal namanya. Ekspresi wajahnya tampak takut sebab tidak mengira di dalam hotel tempat dia bekerja ada tamu penjahat yang sedang dicari.
“Terus apa yang bisa kami bantu Tuan?” tanya salah satu petugas resepsionis itu.
“Kami akan menangkap mereka, izinkan kami menyamar untuk menjadi petugas hotel ini.” Jawab Vadeo dengan nada serius. Vadeo dan Bang Bule Vincent sudah mendapatkan ide itu dari Si Kembar.
“Ooo baiklah Tuan. Mari saya antar dan biar teman saya yang melaporkan hal ini pada pimpinan hotel.” Ucap salah satu petugas resepsionis lalu dia melangkah keluar dari dalam tempat dia berdiri bertugas yang tersekat oleh meja dengan tamu hotel.
Vadeo dan Bang Bule Vincent pun melangkah mengikuti petugas resepsionis itu.
“Te badian panti Nona.. (Ke bagian pantry Nona).” Suara lirih Valexa dan Deondria. Petugas resepsionis yang tidak paham kosa kata Si Kembar itu hanya menoleh sambil tersenyum. Sejak tadi di dalam hati dia bertanya tanya kenapa ada anak kecil jika akan menangkap penjahat. Tetapi dia tidak berani mengatakannya sebab tahu ada tamu penjahat saja dia sudah takut.
“Baik Tuan.” Ucap petugas resepsionis itu dan dia terus melangkah menuju ke ruangan bagian pantry.
Mereka pun segera masuk ke dalam ruang pantry. Tampak di dalam ruangan itu sudah mulai terlihat sibuk. Petugas resepsionis pun menyampaikan maksud kedatangan mereka pada pimpinan bagian pantry. Dan singkat cerita pimpinan pantry pun mempersilahkan demi keamanan dan keselamatan.
Vadeo dan Bang Bule Vincent yang masih menggendong Valexa dan Deondria diantar ke ruang ganti. Dan beberapa menit kemudian Vadeo dan Bang Bule Vincent sudah memakai seragam petugas bagian pantry dan mereka berdua memakai masker kain dengan warna yang sama dengan warna baju seragam. Kepalanya juga memakai penutup kepala seragam dengan petugas lainnya. Sudah persis sama dengan karyawan lainnya. Valexa dan Deondria yang kini sudah berdiri di atas lantai tampak tersenyum menatap Sang Papa dan Sang Uncle sambil memberikan ibu jarinya sebagai kode OKEY.
“Apa sudah mirip karyawan hotel Sayang?” tanya Vadeo pada kedua anaknya.
“Cudah Papa.. Mama pasti tidak tau talo ini Papa... (Sudah Papa.. Mama pasti tidak tau kalau ini Papa).” Ucap Valexa sambil meminta hand phone milik Vadeo lalu dia pun memotret Sang Papa dan Sang Uncle yang memakai seragam karyawan bagian pantry hotel itu.
“Ayo cepat.” Ucap Vadeo sambil meminta hand phone miliknya.
“Cabal Papa tita menundu waktu mengantal matan padi.. (Sabar Papa kita menunggu waktu mengantar makan pagi).” Ucap Deondria sambil menatap Sang Papa dengan bibir tersenyum.
Lalu Valexa dan Deondria menarik tangan Bang Bule Vincent dan Vadeo. Dua bocah kecil itu terus melangkah menuju ke suatu ruangan kecil yang ada di dalam ruangan bagian pantry hotel itu.
Sementara itu Richie di dalam kamar yang tadi baru sempat tidur satu jam terbangun lagi. Dia lalu menciumi salah satu wanita penghibur yang sedang tidur pulas di sampingnya.
“Beb... “ ucap Richie dengan suara parau tangannya pun mulai mengusap usap tubuh mulus wanita penghibur itu yang masih polos tanpa busana.
“Ehhhhmmm..” gumam wanita penghibur itu masih dengan mata terpejam. Jari jari tangan Richie terus bergerilya ke mana mana mencari area area yang dia suka. Richie tidak mau rugi sebab Tuan Njun Liong hanya memberi waktu pada dirinya sampai pagi saja. Dan setelah selesai makan pagi mereka akan segera pergi dari hotel itu.
“Tuan, saya masih ngantuk.” Ucap wanita penghibur itu dengan mata masih terpejam akan tetapi tubuhnya mulai bereaksi akibat aksi yang diberikan oleh Richie. Karena tidak hanya jari jari Richie yang memberikan aksi pada area area kesukaan Richie. Mulut Richie pun sudah mulai beraksi mencari area area favoritnya.