
“Bro, kamu dengar tidak?” ucap Bang Bule Vincent selanjutnya saat melihat Vadeo tidak bereaksi malah memejamkan kedua matanya lagi.
“Bul, kamu jangan berisik! Anak anakku mau tidur.” Suara Vadeo masih tidak juga membuka matanya dia masih menepuk nepuk pantat kedua anaknya.
“Cama Papa duda mau tidul.. (Sama Papa juga mau tidur).” Saut Valexa yang berbaring memeluk Sang Papa dan di dalam posisi tidur di antara Sang Papa dan Bang Bule Vincent.
“Tuh .. Aca jadi belum tidur..” ucap Vadeo lalu tangannya mengambil tubuh mungil Valexa yang dia baringkan secara tengkurap di atas dadanya, agar tidak terhimpit oleh tubuh Bang Bang Bule Vincent. Vadeo pun menepuk nepuk lagi pantat kedua anaknya. Akan tetapi tiba tiba, gantian Deondria malah bangkit dari tidurnya dan sekarang posisi dia duduk di tempat tidur. Vadeo yang merasa Deondria bangun membuka matanya. Dia khawatir jika Deondria iri pada saudara kembarnya yang tidur tengkurap di atas tubuhnya.
“Aya...” Suara Vadeo sambil meraih kepala Deondria agar kembali berbaring.
“Ante danan yupa bawa obat penawal ya... bial Enti Epeyin yan membawa na.. (Uncle jangan lupa bawa obat penawar ya.. biar Aunty Eveline yang membawa nya).” Ucap Deondria lalu dia kembali membaringkan tubuh mungilnya di samping Vadeo, kepalanya berada di bawah ketiak Vadeo.
“Iya Sayang..” ucap Bang Bule Vincent lalu bangkit lagi dari tidurnya untuk mengambil hand phone nya dan mengingatkan pada Eveline agar membawa obat penawar.
“Yan banak Ante.. (Yang banyak Uncle..).” sambung Valexa namun kedua matanya terpejam kepalanya miring di atas dada bidang Vadeo, menghadap ke arah saudara kembarnya, yang juga sudah dalam posisi nyaman di bawah ketiak sang Papa.
“Kenapa Aca dan Aya menyuruh Eveline membawa obat penawar yang banyak, apa sangat mengerikan tugas mereka.” Gumam Bang Bule Vincent dalam hati sambil terus melanjutkan mengirim pesan chat kepada Eveline. Bang Bule Vincent yang sudah mendengar bisikan dari Aca dan Aya tentang perempuan perempuan tua yang masih suka dengan orang orang muda yang gagah dan tampan, bergidik ngeri membayangkannya. Bang Bule Vincent mengangkat kedua bahunya dan menggeleng gelengkan kepalanya dengan cepat dan berulang ulang.
Dan waktu pun terus berlalu. Hari mendebarkan buat kelima orang yang diutus oleh Bang Bule Vincent pun tiba. Keempat pemuda tampan gagah dan satu orang perempuan cantik berada di dalam mobil menuju ke bandara internasional Soekarno Hatta. Eveline perempuan cantik itu sudah membawa semua perlengkapannya.
“Jujur Nona Eveline, aku berdebar debar dengan tugas ini.” Ucap salah satu dari keempat pemuda tampan dan gagah itu.
“Begitulah dunia kita, para penjahat itu melakukan kejahatan yang komplek, kejahatan yang mereka lakukan tidak hanya satu jenis tetapi bermacam macam. Kejahatan penipuan, penggelapan, kekerasan,....” ucap Eveline dengan suara pelan dan belum berlanjut
“Kejahatan kelamin... he... he...” Saut salah satu dari keempat pemuda tampan itu.
“Hati hati kalian berempat jangan sampai kalian menjadi santapan perempuan perempuan tua itu.” Ucap salah satu anak buah Bang Bule Vincent yang mengemudikan mobil yang mengantar mereka ke bandara.
“Untung wajahku pas pasan jadi selamat dari tugas yang mengerikan bagiku ini ha... ha... ha... kadang memiliki wajah pas pasan itu memang lebih sedikit resiko nya ha... ha... ha....” ucap anak buah Bang Bule Vincent terus fokus mengemudikan mobilnya akan tetapi mulutnya masih tertawa bahagia. Dan membuat keempat pemuda tampan yang masih berdebar debar hatinya itu menjadi kesal dibuatnya.
“Jangan khawatir kalian berempat. Keluarga Vadeo akan tetap menjaga keselamatan kalian, dan setelah tugas kita selesai kita boleh berlibur di pulau Alexandria.” Ucap Eveline yang duduk du samping jok kemudi. Anak buah Bang Bule Vincent yang mengemudikan mobil pun langsung berhenti tawanya.
“Apa maksudnya Bang?” tanya salah satu dari keempat pemuda tampan itu.
“Ya... kalian memiliki nilai plus wajah tampan itu kan tanpa usaha kalian. Kalian lahir ceprot langsung ada bakat tampan, orang bilang sudah cetakannya.” Ucap anak buah Bang Bule Vincent. Dan saat mengatakan kosa kata ceprot, tangan kirinya melepas pegangan kemudi lalu terulur ke bawah dengan keras telapak tangan menengadah. Dan selanjutnya dia memegang lagi kemudi dengan kedua tangannya.
“Itulah yang namanya takdir harus kita terima dengan lapang dada segala plus minusnya.. ha.. ha... ha...” ucap anak buah Bang Bule Vincent itu sambil tertawa dan terus melajukan mobilnya menuju ke bandara.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman bandara internasional Soekarno hatta. Mobil terus melaju menuju ke tempat keberangkatan. Setelah mobil berhenti semua yang ada di dalam mobil keluar, termasuk anak buah Bang Bule Vincent yang mengemudikan mobil. Dia turut membantu mengeluarkan koper koper milik teman temannya itu.
“Kamu tenang saja Bang. Kalau tugas kita sudah selesai, aku usulkan kamu juga bisa berlibur di pulau Alexandria.” Ucap Eveline saat mereka sudah siap melangkah menarik kopernya. Anak buah Bang Bule Vincent yang mengantar mereka pun tampak mengangkat ibu jarinya, lalu berjalan menuju ke mobilnya.
Eveline sambil menarik koper miliknya berjalan di barisan paling depan. Sesungguhnya hati Eveline pun sekarang juga berdebar debar. Karena baru kali ini bertugas berhadapan dengan penjahat yang memiliki kekuatan mistik. Di tambah dengan kali ini dia melakukan penerbangan dengan membawa senjata rahasia. Dia khawatir jika senjata yang mereka bawa tidak lolos saat pemeriksaan di bandara.
Mereka berlima kini mulai masuk ke dalam ruang cek in. Kelima orang itu bisa masuk lolos dari alat sensor mesin X ray. Kini mereka menunggu barang barang mereka yang sedang antri masuk ke alat sensor. Eveline dan keempat pemuda itu tampak cemas menunggu.
Dan sesaat kemudian barang barang mereka pada gilirannya masuk ke dalam alat sensor. Koper pertama aman, koper ke dua aman, koper ketiga aman, koper ke empat aman.... dan koper kelima...
TUIT.... TUIT.... TUIT.....
Suara alarm di alat sensor itu. Dan seorang petugas bandara menarik koper terakhir mereka. Wajah Eveline tampak panik.
“Nona, ada barang yang tidak boleh dibawa.” Suara petugas bandara sambil membawa koper terakhir mereka.
“Tapi itu sangat penting buat kami Pak.” Ucap Eveline dengan nada serius.
“Saya hanya menjalankan tugas Nona, jika ada koper bawaan penumpang yang terdeteksi pada alat mesin X ray saya harus menyerahkan koper itu pada penumpang agar penumpang itu mengambil barang yang terdeteksi di alat kami. Dan barang itu ditinggalkan tidak dibawa di dalam penerbangan. Kami akan menyerahkan barang itu pada petugas terkait.” Ucap petugas bandara itu dengan nada serius.
....
bersambung