Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 176.


Pesawat semakin menurun dan berputar putar untuk mencari jalan yang aman sesuai yang tampak di layar navigasi. Nyonya Jonathan dan Nyonya William terlihat mata mereka terpejam dan mulut komat kamit berdoa mohon keselamatan.


Dan akhirnya pesawat bisa mendarat di pantai Alexandria. Nyonya Jonathan dan Nyonya William tampak lega. Akan tetapi terdengar informasi dari kru pesawat agar penumpang tetap berada di dalam pesawat. Dari dalam pesawat terdengar suara tembakan di luar.


“Tenyata mengerikan juga.” Gumam Nyonya Jonathan sambil melihat ke arah luar tidak seperti biasanya karyawan karyawan menyambut mereka. Sekarang ini di luar pesawat tampak sepi. Tidak ada satu orang karyawan pun terlihat dan tidak ada mobil penjemput.


“Bagaimana kalau musuh itu masuk ke dalam pesawat dan pesawat ini dibajak.” Ucap Nyonya William tampak mulai panik.


“Kita hubungi Bule Vincent dan Vadeo.” Ucap Nyonya Jonathan selanjutnya. Nyonya Jonathan dan Nyonya William terlihat mengambil hand phone dari dalam tas tangannya.


Sementara itu di rumah Vadeo dan Alexandria. Vadeo masih tidur dengan nyenyak demikian juga Bang Bule Vincent juga masih tidur dengan nyenyak di kamar guest house bersama istri tercinta.


Alexandria yang baru saja mandi, masih memakai bath robe segera berjalan cepat menuju ke nakas untuk mengambil hand phone yang sedang berdering.


“Kak Deo nyenyak amat sih telepon berdering dering ga dengar.” Ucap Alexandria sambil meraih hand phone yang ada di atas nakas.


“Mama...” gumam Alexa saat melihat di layar hand phone milik Vadeo tertera nama kontak Mama Jo sedang melakukan panggilan video. Alexandria segera menggeser tombol hijau.


“Mama..” ucap Alexa tampak heran saat melihat Sang Mama Mertua masih duduk manis di dalam pesawat.


“Al, mana Deo aku sudah menyuruh dia menjaga keamanan kedatangan kami. Ini malah disambut dengan suara tembakan.” Suara Nyonya Jonathan dari balik hand phone yang dipegang oleh Alexandria.


“Tembakan bagaimana Ma? Kak Deo masih tidur tadi malam jaga sampai mau subuh.” Ucap Alexandria berkata sejujurnya dan melindungi suami nya dari amukan Sang Mama.


“Bangunkan sekarang dan suruh cari solusi agar aku dan Oma Kucing bisa segera sampai ke rumah dan segera ke bukit tempat permata langka itu.” Suara Nyonya Jonathan dengan tidak sabar.


“Mama tunggu saja di villa. Alexa mau jemput Mama.” Ucap Alexandria yang masih ingin pergi ke pantai .


“Al, kondisi di sini tidak aman kamu jangan ke pantai dulu. Apa kamu tidak mendengar suara tembakan tembakan itu.” Suara Nyonya Jonathan dengan nada tinggi, di luar pesawat masih terdengar suara suara tembakan.


“Sudah kamu bangunkan Deo.” Suara Nyonya Jonathan selanjutnya dan sambungan panggilan video itu pun segera diputus oleh Nyonya Jonathan.


“Deo masih tidur.” Ucap Nyonya Jonathan selanjutnya sambil menoleh ke arah besan perempuannya.


“Mending diterima oleh Alexa. Lha ini Bule dan Ixora hand phone mereka tidak aktif semua. Orang tua jauh jauh datang malah tidur semua.” Ucap Nyonya William dengan nada kesal dan bibirnya langsung cemberut.


Nyonya Jonathan yang sudah tidak sabar lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke ruang awak pesawat.


“Pak Pilot sampai kapan kita diam begini di dalam pesawat?” tanya Nyonya Jonathan dengan nada tinggi dan ekspresi wajah menegang.


“Sabar Nyonya kita tunggu informasi dan perintah dari petugas di pos jaga. Takutnya tembakan tiba tiba diarahkan ke sini. Mereka memakai senjata jarang jauh. Tunggu sampai mereka bisa ditangkap atau dihalau Nyonya.” Jawab Pak Pilot dengan santun.


“Nyonya bisa istirahat ada kamar Tuan Vadeo dan Nyonya Alexa.” Ucap Pak Pilot selanjutnya memberi usulan agar Sang Nyonya bisa sedikit rileks.


Sementara itu di kamar Vadeo dan Alexandria.


“Pa, bangun Mama sudah sampai tapi masih di dalam pesawat ada baku tembak di sana.” Ucap Alexandria sambil menggoyang goyang kaki suaminya pelan pelan. Vadeo yang mendengar kata baku tembak langsung membuka matanya.


“Hah?” ucap Vadeo saat membukakan matanya lalu dia bangkit dari tidurnya dan melangkah meninggalkan tempat tidur namun tidak menuju ke kamar mandi, dia langsung menuju ke pintu kamar dan melangkah keluar dari kamar.


“Pa, mau kemana?” teriak Alexandria yang masih memakai bath robe dan melangkah mengikuti langkah suami nya. Vadeo yang merasa diikuti oleh istrinya lalu menoleh.


“Mama pakai baju yang benar dulu. Baru keluar kamar. Aku mau ke ruang kerja ada Richardo di sana.” Ucap Vadeo yang kini menghentikan langkahnya dan masih menoleh ke arah Istrinya. Alexandria pun lalu membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah menuju ke kamar untuk berganti pakaian. Sedangkan Vadeo terus melangkah menuju ke ruang kerjanya.


Vadeo segera membuka pintu ruang kerjanya itu. Tampak Richardo sedang serius berbicara sambil memegang hand phone miliknya.


Vadeo berjalan menuju ke sofa dan duduk di samping Richardo lalu Vadeo memegang lap top dan mengarahkan layar lap top ke pandangan wajahnya. Tampak di layar menampilkan satu titik merah yang berada tidak jauh dari bibir pantai. Wajah Vadeo tampak menegang .


“Bagaimana mungkin sudah berada di dekat pantai begini. Saat aku tinggal tadi tidak ada titik merah ini di sekitar perairan kita.” Ucap Vadeo sambil menatap Richardo yang sudah selesai berbicara dengan hand phone miliknya.


“Iya Tuan. Itu kapal karet yang lolos dari pengejaran tadi malam. Tiba tiba tadi pagi muncul lagi. Kemungkinan besar kapal itu selalu berlindung di balik kapal transportasi umum.” Ucap Richardo dengan nada serius.


“Kenapa bisa mendekat? Bagaimana petugas di sana?” tanya Vadeo sambil mengernyitkan keningnya.


“Sepertinya kapal itu masuk mencari celah waktu di saat pergantian waktu petugas jaga.” Ucap Richardo dengan nada serius dan penuh rasa penyesalan.


“Sudah terus dilakukan penyerangan Tuan.” Ucap Richardo selanjutnya.


Sementara itu di kamar si Kembar. Dua bocah itu baru saja bangun. Dan tiba tiba keduanya saling pandang dengan tatapan mata yang sangat serius.


“Non, mandi yuk.. sudah ditunggu Mama mau diajak ke pantai menjemput Oma Oma..” ucap Sang pengasuh pada Valexa dan Deondria. Dua pengasuh itu lalu berjalan mendekati tempat tidur Valexa dan Deondria. Akan tetapi dua bocah itu langsung meloncat turun dari tempat tidur dan berlari menuju ke balkon dan pintu balkon dikunci dari luar. Dua pengasuh itu hanya bisa geleng geleng kepala. Mereka berdua pun lalu keluar dari kamar untuk menemui Alexandria.


TOK TOK TOK


TOK TOK TOK


Dua pengasuh itu mengetuk ngetuk pintu kamar Alexandria dan Vadeo. Alexandria yang sedang duduk di kursi riasnya pun lalu bangkit berdiri. Dia lalu berjalan menuju ke pintu yang masih diketuk ketuk. Dengan cepat Alexandria membuka pintu yang tidak dikunci itu.


“Ada apa?” tanya Alexandria saat melihat dua pengasuh anaknya berdiri di depan pintu.


“Nyonya, Nona Valexa dan Nona Deondria sudah bangun tapi belum mau mandi malah berlari ke balkon dan balkon dikunci.” Ucap salah satu pengasuh itu.


“Ya sudah, kalian kembali ke kamar dan tunggu mereka.” Ucap Alexandria yang sudah paham dengan tingkah kedua anaknya jika tidak mau diganggu.


Alexandria yang sudah selesai berhias pun lalu melangkah ke luar kamar untuk menuju ke ruang kerja suaminya. Dia pun ingin tahu kondisi pantai dari aplikasi dan informasi dari Richardo.