Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 188. Pesan Sang Ular Besar


Beberapa menit mereka menunggu, sang ular belum juga datang. Vadeo dan Bang Bule Vincent sudah terlihat sangat gelisah.


“Pa...” ucap Valexa dan Deondria mengagetkan Sang Papa.


“Apa Sayang?” Tanya Vadeo cepat cepat sebab dia sangat menunggu informasi dari kedua anaknya itu tentang keberadaan ular besar.


“Pa, ambiltan atu buwah acam... (Pa, ambilkan aku buah asam...)” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan sambil menatap wajah Sang Papa yang masih gelisah ditambah dengan permintaan si kembar tampak ekspresi wajah Vadeo sangat sulit diartikan.


“Sayang ibu pelayan sudah buat permen asam banyak, tidak usah lagi ambil buah asam ya..” ucap Vadeo dengan nada lembut sambil menatap wajah Valexa dan Deondria yang masih duduk manis di atas singga sana mereka berdua.


“Atu mau yan buwah di atas Pa.. ( Aku mau yang buah di atas Pa...)” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan sambil mendongak menatap buah asam di atas yang besar besar bergerombol.


“Do, kamu panjat pohon asam itu!” perintah Vadeo sambil menatap Richardo yang duduk bersila dengan kepala tertunduk menatap rumput yang tumbuh di atas tanah.


“Atu mau Papa yan ambiltan.. (Aku mau Papa yang ambilkan..).” ucap Valexa sambil menatap wajah Sang Papa.


“Atu mau Ante Pin yan ambiltan..( Aku mau Uncle Vin yang ambilkan).” Ucap Deondria sambil menatap Bang Bule Vincent yang masih duduk sambil pandangan matanya mencari cari sosok Sang ular besar.


Akhirnya mau tak mau Vadeo dan Bang Bule Vincent pun memanjat pohon asam yang tinggi dan sangat besar batangnya itu. Karena mereka berdua sudah tahu jika kedua bocah itu menginginkan sesuatu harus dipenuhi.


“Hmm tidak yang masih ada di perut tidak yang sudah di luar perut mintanya yang aneh aneh.. kalau tidak harus panjat panjat harus nyebur nyebur di air.” Gumam Vadeo dalam hati sambil mulai panjat pohon asam itu. Bang Bule Vincent pun juga mulai ikut memanjat pohon asam itu dari arah yang beda. Mereka berdua bagai berlomba untuk bisa mendapatkan lebih dulu dan setelahnya segera turun.


Saat Vadeo dan Bang Bule Vincent masih berada di atas pohon asam itu. Sang ular besar pun tampak sudah datang mendekati kursi singga sana si kembar. Tubuhnya tampak menggembung seperti biasanya jika membawa barang barang buat mereka.


Vadeo dan Bang Bule Vincent yang sedang di atas pun melihat ular besar itu sudah ada di bawah pohon asam itu.


“Aca, Aya itu ular besar sudah datang buah asamnya sudah ya...” teriak Vadeo dari atas pohon.


“Iya Papa.. “ jawab mereka dengan manis.


“Hmmm mungkin mereka menyuruh kita panjat panjat agar kita tidak gelisah menunggu ular besar itu.” Ucap Vadeo sambil turun ke bawah.


Saat Vadeo dan Bang Bule Vincent sudah sampai bawah tampak ular besar itu sudah mengeluarkan isi di dalam perutnya. Seperti biasanya dia membawakan buah buahan yang besar besar dan lezat lezat buat Valexa dan Deondria. Si Kembar itu pun sudah turun dari kursi singga sana nya dan memegang megang buah buah yang baru saja keluar dari tubuh ular besar itu. Ular besar itu tampak memandang wajah Valexa dan Deondria. Lalu kedua bocah itu pun juga menatap kepala sang ular besar. Tampak mereka sedang berkomunikasi.


“Pa, Papa mau biyang apa pada ulal becal.. (Pa, Papa mau bilang apa pada ular besar)” ucap Valexa sambil menatap sang Papa yang baru turun dari pohon asam. Buah buah asam yang dipetik sudah dijatuhkan ke tanah dan sedang diambil oleh Richardo.


Vadeo pun lalu mengutarakan maksud hatinya untuk merehab bangunan kerajaan di bawah tanah itu. Dengan detail Vadeo menyampaikan tujuannya dan rencana rencananya. Ular besar itu menatap Vadeo dan bagai mendengarkan dengan seksama apa yang sedang diucapkan oleh Vadeo.


Dua bocah itu pun tampak menatap Sang ular besar dengan serius. Valexa dan Deondria tampak wajah mereka berdua ekspresi nya sangat kecewa. Lalu kedua bocah itu masih serius menatap ular besar itu. Dan sesaat kemudian Valexa dan Deondria tampak mengangguk anggukkan kepalanya. Ular besar itu kini sudah menggeser tubuhnya lalu melingkar di dekat kursi singga sana si kembar.


Valexa dan Deondria pun kembali duduk di kursi singga sana mereka berdua dan pandangan matanya menatap ke arah Sang Papa yang sudah duduk bersila.


“Bagai mana Sayang?” tanya Vadeo yang sudah tidak sabar untuk mengerti arti percakapan kedua anaknya dengan sang ular besar. Bang Bule Vincent pun juga sama seperti Vadeo, dia pun menatap wajah kedua keponakan itu dengan ekspresi wajah serius siap mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh Si Kembar.


“Pa, boyeh diyehap tapi na nundu adik adik teyual dayi peyut Mama duyu.. (Pa boleh direhab tapi nya nunggu adik adik keluar dari perut Mama dulu...)” ucap Valexa sambil menatap wajah Sang Papa.


“Oooh sembilan bulan lagi...” gumam Vadeo sambil menatap kedua anaknya.


“Butan Pa, nundu yadi adik adik bica jayan kaki.. ( bukan Pa, nunggu lagi adik adik bisa jalan kaki)” ucap Deondria memperjelas pada Sang Papa.


“Hmmm dua tahun atau tiga tahun lagi...” gumam Vadeo dan Bang Bule Vincent secara bersamaan. Valexa dan Deondria pun tampak mengangguk anggukkan kepala nya.


“Potok na tundu aja tayo adik adik cudah bica bejayan.. (Pokoknya tunggu saja kalau adik adik sudah bisa berjalan..).” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan.


“Teyus.. tata ulal becal nama adik adik adayah Yaja Acasta... (Terus kaya ular besar nama adik adik adalah Raja Asasta).” Ucap Valexa selanjutnya sambil menatap Sang Papa lalu menatap saudara kembarnya, Deondria pun mengangguk anggukkan kepalanya.


Vadeo dan Bang Bule Vincent tampak saling pandang dan mereka berdua mengernyitkan dahinya.


“Sayang adik kalian kan dua? Kenapa namanya Cuma satu yang Ular besar itu berikan?” tanya Vadeo yang keningnya masih berkerut


“Itu tan dua Papa...” teriak Valexa dan Deondria secara bersamaan.


“Raja dan Asasta?” tanya Vadeo meminta kejelasan


“Iya Potok na yan catu Yaja tan yan catu Acasta.. (Iya pokok nya yang satu Raja dan yang satu Asasta..)” ucap Deondria dengan lantang.


“Oma Oma tan Opa Opa tidak usah cibuk cayi nama buwat Adik Adik ( Oma Oma dan Opa Opa tidak usah sibuk cari nama buat Adik Adik..).” Ucap Valexa sambil tersenyum lebar sebab tadi malam Oma Oma sudah menyiapkan banyak sekali nama termasuk juga Opa Opa juga sudah sibuk mencari nama buat cucu cucu yang masih ada di dalam perut Alexandria.


Mendengar nama yang diberikan oleh Sang ular besar dan mendapat izin dari Sang Ular besar untuk merehab bangunan bawah tanah setelah anak anak yang masih dikandung Alexa sudah berjalan. Vadeo dan Bang Bule Vincent saling pandang ekspresi wajah keduanya tampak penuh pertanyaan.


“Anak anakku selanjutnya seperti apa ya Bul?” tanya Vadeo dengan suara lirih.


“Mungkin mereka yang akan melanjutkan untuk menghidupkan kerajaan Asasta, Bro. Aca dan Aya kan harus melanjutkan Jonathan Co.” Gumam Bang Bule Vincent asal ngomong.