Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 120.


Beberapa menit kemudian mereka semua sudah selesai acara makannya.


“Segera katakan Lie aku tahu kamu pasti akan meminta permata permata langka yang ada di dalam pulau harta karun itu.” Ucap Tuan Njun Liong sambil menyingkirkan piring kotornya di depannya dia geser ke samping ke depan sang pengawalnya. Lalu sang pengawal itu secara pengertian mengambil piring piring kotor itu dan ditaruhnya pada meja dorong yang ada di pojok ruang makan makan itu.


“Ha... ha... tentu saja. Kamu kan sudah tahu kalau aku spesialis pemburu permata langka. Selain aku sendiri suka, konsumenku juga khusus barang itu.” Ucap Nyonya Siu Lie sambil tertawa.


“Liong, aku sudah mendapatkan berita jika pemilik pulau itu juga memiliki sepasang cincin dengan permata langka, aku yakin itu pasti didapat dari pulau itu.” Ucap Nyonya Siu Lie dengan nada serius sambil menatap Tuan Njun Liong.


“Hmmm makanya kamu juga ikut bersaing dalam hal ini.” Gumam Tuan Njun Liong


“Liong, apa kamu tahu kenapa ada badai yang tiba tiba menghantam kapal kamu itu. Di mana cuaca sebelumnya cerah.” Ucap Nyonya Siu Lie sambil menatap tajam Tuan Njun Liong.


“Itu hal yang biasa terjadi di jaman sekarang karena efek perubahan iklim.” Jawab Tuan Njun Liong santai.


“Ha... ha... ha... Liong Liong kamu itu terlalu naif karena terlalu lama hidup di atas kapal. Tidak tahu informasi di daratan ha... ha... ha....” suara Nyonya Siu Lie sambil tertawa terbahak bahak, tampak Tuan Njun Liong dan Richie saling pandang tampak heran dan penasaran dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Nyonya Siu Lie


“Apa maksudmu Lie?” tanya Tuan Njun Liong.


“Liong, aku punya teman orang asli pulau di dekat pulau harta karun itu. Dia mengatakan jika cerita rakyat yang beredar Raja dan Ratu yang dulu menguasai pulau itu masih hidup dan menjelma menjadi ular dan pohon asam yang sangat besar.” Ucap Nyonya Siu Lie dengan nada serius. Tampak Tuan Njun Liong dan Richie kaget hingga mata mereka berdua melotot besar.


“Mana mungkin Lie, di jaman modern masih ada hal seperti itu.” Ucap Tuan Njun Liong selanjutnya berusaha untuk berpikir logis dan tidak mempercayai apa yang diomongkan oleh Nyonya Siu Lie.


“Benar Nyonya, itu hanya cerita rakyat belum tentu benar. Cuaca berubah mendadak itu adalah hal yang biasa terjadi di jaman sekarang karena perubahan iklim global.” Ucap Richie yang juga berusaha untuk tidak percaya pada cerita rakyat yang beredar.


“Hmmm aku awalnya juga seperti itu, kalau kalian tidak percaya mari kita temui temanku itu. Dia memiliki kemampuan khusus, istilahnya para normal.” Ucap Nyonya Siu Lie dengan nada serius sambil menatap wajah Tuan Njun Liong dan Richie secara bergantian sedangkan Sang pengawal yang sibuk membersihkan meja makan sedang mendorong meja dibawa ke dekat pintu.


“Okey, di mana temanmu itu?” ucap Tuan Njun Liong karena dia pun akhir nya juga penasaran dan ingin tahu kebenarannya.


“Di Indonesia tinggal di pulau yang tidak jauh dari pulau harta karun itu. Kalau kamu setuju, besok pagi kita ke sana. Sekarang kita pesan tiket pesawat tidak ada penerbangan langsung ke sana harus transit.” Ucap Nyonya Siu Lie. Dan Tuan Njun Liong pun setuju.


Sementara itu di pulau Alexandria. Valexa dan Deondria setelah makan terlihat mulai gelisah lagi. Sedangkan Vadeo terlihat sibuk untuk menghubungi orang orangnya untuk menjaga semua fasilitas penyediaan logistik. Dia pun juga memerintahkan orang orangnya di luar pulau Alexandria untuk mengirim persediaan pangan dan segala peralatan yang dibutuhkan untuk segera dibawa ke pulau Alexandria.


“Tapi bukan kapal selam seperti ini kan Deo?” ucap Bang Bule Vincent sambil mencomot kapal selam empek empek di meja makan. Bang Bule Vincent yang baru bangun itu tampak baru saja ikut gabung duduk di kursi makan. Vadeo tampak tidak memedulikan ucapan Bang Bule Vincent, dia masih serius berkomunikasi dengan orang di balik hand phone nya.


Dan sesaat kemudian.


“Sayang kalian tidak usah gelisah. Kita semua akan aman tidak akan kelaparan seperti cerita di manuskrip itu. Papa sudah menyuruh orang datang membawa logistik dan segala peralatan.” Ucap Vadeo sambil menatap wajah kedua anaknya yang tampak masih gelisah.


“Pa.. atu dan Aya ayus cembunyi duyu di bawah tanah. (Pa aku dan Aya harus sembunyi dulu di bawah tanah).” Ucap Valexa dengan nada serius sambil menatap wajah Sang Papa.


“Di bawah tanah mana Ca?” tanya Alexandria dan Vadeo secara bersamaan, sedangkan Bang Bule Vincent yang baru menikmati makanannya mendadak terhenti dan menatap wajah Valexa.


“Di bawah tanah di bawah butit acam itu. Meyeta atan menyeyang atu dan Aya denan caya mitis (Di bawah tanah di bawah bukit asam itu. Mereka akan menyerang aku dan Aya dengan cara mistis).” Ucap Valexa dengan nada serius dengan Deondria terlihat wajahnya khawatir akan tetapi juga ada ekspresi berpikir serius.


“Papa tepat antal atu dan Aca te butit pohong acam (Pa cepat antar aku dan Aca ke bukit pohon asam).” Ucap Deondria selanjutnya.


“Sayang tetapi tempat itu masih kotor, biar Om Richardo dan anak buah Uncle Vin membersihkan lebih dahulu.” Ucap Vadeo yang tidak tega jika kedua anaknya tinggal di bawah tanah.


“Cetayang Papa (Sekarang Papa)!” teriak mereka berdua. Dan meminta pengasuh mereka untuk menurunkan mereka dari tempat duduknya. Semua orang dewasa di dalam ruang makan itu tampak bingung. Dan Richardo pun kini sedang tidur di dalam kamarnya karena kini yang bertugas memantau keadaan adalah Ixora.


“Sayang tunggu Om Richardo bangun ya.. “ ucap Vadeo sambil menatap kedua anaknya yang kini sudah turun dari tempat duduknya.


“Tidak ucah denan Om Yicado.. (Tidak usah dengan Om Richardo).” Ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan


“Denan Ante Pin aja.. (Dengan Uncle Vin saja).” Ucap mereka berdua selanjutnya dan terus melangkah meninggalkan ruang makan.


Mau tak mau Vadeo dan Bang Bule Vincent pun mengikuti langkah kaki Valexa dan Deondria. Alexandria sesungguhnya juga ingin mengikuti dan mengantar kedua anaknya itu ke bukit pohon asam. Akan tetapi dilarang oleh Vadeo dan juga oleh Si Kembar.


“Mama di rumah saja jaga baby yang ada di perut baik baik. Mama tolong buat alat agar kamu bisa tetap berkomunikasi di bawah tanah. Richardo suruh antar kalau dia sudah bangun.” Ucap Vadeo sambil mengecup puncak kepala Alexandria saat mereka sudah sampai di dekat mobil.


...