
Sementara itu Tuan Njun Liong yang sedang di dalam kamarnya, terlonjak kaget saat pintu kamar dibuka dengan kasar dan sosok Mamah Mimi sudah berdiri di depan pintu dengan berkacak pinggang. Tuan Njun Liong pun segera memutus sambungan panggilan suaranya dengan Nyonya Siu Lie.
“Tuan, jangan harap Anda bisa keluar dari kota ini!” suara Mamah Mimi dengan menatap tajam wajah Tuan Njun Liong yang masih melotot matanya dan kaget ekspresi wajahnya.
“Tapi Mamah Mimi tidak bisa menunjukkan pada saya tentang penyebab kapal utusan saya yang tenggelam itu. Saya curiga Mamah Mimi membohongi saya dan Siu Lie...” ucap Tuan Njun Liong dengan hati hati akan tetapi dia berusaha untuk mencari alasan agar bisa terlepas dari kerja sama yang dia rasa akan merugikan dirinya itu. Mendengar kalimat Tuan Njun Liong yang tidak keras itu akan tetapi sudah membuat Mamah Mimi naik pitam. Wajahnya memerah dan tampak urat suratnya menegang.
“Diam kamu!” teriak Mamah Mimi sambil membalikkan tubuhnya dan menutup pintu itu dengan keras. Mamah Mimi merasa tersinggung sudah diragukan dan tidak dipercaya kemampuannya, akan tetapi dia juga marah pada dirinya sendiri dan entah keadaan apa yang telah menyebabkan dirinya tidak bisa lagi melihat sosok dua bocah itu. Jangankan sosok dua bocah. Untuk melihat pulau Alexandria pun kini dia sudah tidak bisa.
Mamah Mimi berjalan dengan cepat menuju ke kamar mewahnya. Para pelayan pemuda tampan dan gagah yang melihat sudah merasa was was, sebab jika Mamah Mimi sudah masuk ke dalam kamar mewahnya harus bersiap siap menunggu panggilan untuk melayani keperluan ritualnya. Meskipun bukan di malam bulan purnama.
“Hmmm apa ilmuku sudah mulai berkurang.” Gumam Mamah Mimi sambil terus berjalan menuju ke kamar mewahnya.
Dan saat sampai di depan pintu kamar mewahnya. Ada dua pemuda tampan dan gagah yang duduk di kursi untuk menjaga kamar mewah Mama Mimi itu.
“Sediakan segala perlengkapan ritual. Dan bawa ke dalam kamarku tiga barang baru.” Ucap Mamah Mimi sambil membuka pintu kamarnya, Mamah Mimi menyebutkan barang baru pada pemuda tampan dan gagah yang baru pertama kali masuk ke rumah mewah itu dan belum dijamah oleh Mamah Mimi
“Dalam bulan ini tidak ada barang baru masuk Mamah.” Ucap salah satu dari pemuda tampan itu, yang memang dalam bulan ini tidak ada pemuda tampan dan gagah yang bisa dibawa oleh petugas Mamah Mimi.
“Hah? Bagaimana bisa dalam satu bulan tidak ada yang baru?” tanya Mamah Mimi tampak kaget dan masih berdiri di tengah pintu sambil menatap wajah dua pemuda tampan dan gagah itu secara bergantian.
“Belum cukup umur Mah...” jawab salah satu dari pemuda tampan itu sambil menundukkan kepalanya.
“Bodoh! Cari di luar kota katakan ada lowongan pekerjaan sebagai karyawan hotel berbintang.” Ucap Mamah Mimi lalu segera masuk ke dalam kamarnya.
“Baik Mah..” ucap kedua pemuda itu lalu pergi meninggalkan pintu kamar Mamah Mimi untuk mencari bahan bahan untuk ritual Mamah Mimi.
Sementara itu Mamah Mimi terus masuk ke dalam kamarnya. Dia membuka tutup kepala hitam hitamnya, dan seketika terlihat rambut panjangnya yang sudah memutih sebagian. Dia pun juga membuka pakaian hitam hitamnya lalu dia mengenakan bath robe.
“Apa gara gara tidak ada barang baru aku jadi tidak bisa melihat pulau keramat itu.” Gumam Mamah Mimi sambil membuka buka lembar buku daftar itu. Dia pun akan memilih milih pemuda yang untuk melayani dirinya untuk pengganti barang baru yang belum ada.
Sesaat kemudian pintu kamar Mamah Mimi terdengar suara ketukan. Dan tidak lama kemudian pintu terbuka tanpa Mamah Mimi berjalan atau berucap. Karena yang mengetuk pintu itu membuka sendiri pintu kamar mewah Mamah Mimi yang tidak terkunci itu. Dan muncul dua pemuda yang tadi disuruh untuk menyiapkan bahan bahan untuk ritual. Dua pemuda itu membawa tiga keranjang besar bunga mawar tabur berwarna merah jambu, satu bungkus kemenyan dengan kualitas nomor satu dan satu botol minyak wangi dengan aroma pilihan Mamah Mimi.
“Kalian siapkan itu semua di kamar mandi.” Perintah Mamah Mimi yang sedang melihat lihat buku daftar pemuda untuk menyeleksi pemuda yang akan digunakan untuk ritualnya.
Dua pemuda itu terus melangkah menuju ke kamar mandi dengan hati yang berdebar debar khawatir jika mereka tidak boleh keluar lagi dari kamar itu karena harus melayani Mamah Mimi. Setelah masuk ke dalam kamar mandi. Dua pemuda itu mengisi air pada bath up dan setelahnya menaruh bunga mawar tabur itu ke dalam bath up.
Dan kini tampak seluruh permukaan air di dalam bath up itu sudah penuh dengan bunga mawar merah jambu, mereka pun menuangkan satu botol minyak wangi ke dalam bath up itu. Dan setelahnya dua pemuda itu membakar kemenyan di tempatnya, setelah kemenyan itu sudah mengasap dan keluar aromanya.
“Ayo cepat keluar.” Ucap salah satu dari pemuda itu.
“Iya semoga kita aman tidak dipakai untuk ritual..” jawab pemuda satunya lagi. Dan dua pemuda itu segera keluar dari kamar mandi dan berharap bisa aman keluar dari kamar mewah Mamah Mimi, bagi mereka lebih baik menjaga kamar mewah itu satu hari penuh dari pada melayani ritual Mamah Mimi.
“Mah, sudah selesai..” ucap salah satu pemuda itu melaporkan pada Mamah Mimi jika sudah selesai menjalankan tugasnya, dan Mamah Mimi sudah bisa melakukan ritual mandi kembangnya.
Dua pemuda itu terus berjalan menuju ke arah pintu masih dengan jantung yang berdebar debar, mereka berdua berharap langkah kakinya segera sampai di pintu dan segera keluar di saat Mamah Mimi masih sibuk memilih milih pemuda yang akan dipanggil untuk melayani. Dan nasib buruk terjadi pada kedua pemuda itu jika Mamah Mimi tidak mendapatkan yang cocok atau bingung untuk memilih akhirnya yang ada di depannya yang disuruh melayani.
Saat dua pemuda itu sudah sampai di depan pintu dengan cepat salah satu dari mereka memegang handel pintu dan memutar handel pintu itu lalu menarik dengan cepat pula, agar bisa segera keluar dari kamar itu. Akan tetapi tiba tiba...
“Hei!” teriak Mamah Mimi dengan lantang sambil menoleh ke arah dua pemuda itu. Dan tentu saja dua pemuda itu langsung merasa lemas di seluruh tubuhnya.
“Hei.. mau ke mana kalian?” teriak Mamah Mimi lagi sebab dua pemuda itu tidak menoleh ke arah Mamah Mimi dan masih berdiri sambil membuka daun pintu.