
Atikah segera mengusap usap layar hand phone nya. Dan saat melihat kontak nomor telepon yang mengirim pesan chat tampak Atikah wajah nya sangat kesal.
“Pasti mau menyuruh aku.” Ucap Atikah lalu membaca pesan chat yang masuk pesan chat dari pelayan bagian logistik.
“Cepat datang ke kios daging. Di sini tidak ada kuli yang mengangkat. Tidak banyak hanya 15 kg.”
“Aku mau belanja bahan lain.”
Dua pesan chat dari pelayan bagian logistik telah dibaca oleh Atikah.
“Cepat! Sekarang!”
Belum juga Atikah membalas dan beranjak dari tempat duduk nya sudah ada pesan chat masuk lagi dari pelayan bagian logistik. Atikah pun segera membalas dan bangkit dari jok mobil nya. Lalu dia pun turun dari mobil.
“Kalau Zulfa datang mencari aku bagai mana ya?” gumam Atikah bertanya pada diri nya sendiri.
“Ah aku ngabari Zulfa dulu.” Gumam Atikah lagi lalu dia mengambil hand phone dari dalam tas yang dia slempangkan di pundaknya. Atikah pun segera memberi kabar pada Zulfa agar menunggu di tempat parkir jika dirinya masih menjalankan tugas dari pelayan bagian logistik.
Sementara itu di lain tempat. Di salah satu museum kota, tampak bis rombongan tamu dari sebuah play group ternama sudah tiba.
Anak anak yang usianya sekitar tiga tahunan terlihat turun dari dalam bis pariwisata dibantu oleh para guru dan pengantar mereka. Valexa dan Deondria dibantu oleh Richardo dan Ibu Guru yang sedang tertarik hati nya pada Richardo.
“Bu Duyu.. atu tuh bica tuyun cendiyi ga ucah dibantuin... (Bu Guru.. aku tuh bisa turun sendiri ga usah dibantuin).” Ucap Valexa dengan suara lantang sebab dia tahu jika Ibu Guru nya itu sedang dalam usaha mendekati pengawal nya yang tampan dan rupawan.
“Biar aman tidak jatuh Sayang...” ucap Ibu Guru dengan suara lembut sambil masih menggandeng tangan Valexa.
Sesaat kemudian rombongan sudah sampai di depan pintu masuk. Salah satu Ibu Guru sedang menyerahkan tiket pada petugas museum.
“Anak anak tolong dengarkan Ibu Guru mau bicara sebentar ya..” suara Ibu Guru yang terdengar lebih keras sebab diperkeras dengan toa berukuran kecil yang dia bawa.
“Kalian semua harus selalu berada di dekat Ibu Guru atau pengantar kalian. Tidak boleh berjalan jalan sendiri ya..” ucap Ibu Guru lagi
Tiba tiba ada satu tangan imut diangkat ke atas dan Ibu Guru yang melihat pun lalu menatap pemilik tangan imut yang terangkat ke atas itu.
“Bu tayo atu bejayan jayan cama Payeca boyeh ndak... ( Bu kalau aku berjalan jalan sama Valexa boleh tidak)?” tanya Deondria dengan suara lantang tidak kalah kerasnya dengan suara Ibu Guru yang memakai toa.
“Tidak ya.. harus di kawal orang dewasa.” Jawab Ibu Guru sambil menatap Deondria.
“Ooo ditu dong deyas.. ( ooo gitu dong jelas).” Ucap Deondria lagi
“Kalian harus mendengarkan apa yang sudah petugas museum sampaikan. Besok kalian dapat tugas untuk bercerita.” Suara Ibu Guru selanjutnya.
Setelah Ibu Guru selesai memberikan arahan dan penjelasan, mereka semua mulai masuk ke dalam museum secara bergiliran. Valexa dan Deondria digandeng tangannya oleh Richardo kiri dan kanan.
Beberapa waktu kemudian, saat semua rombongan sudah masuk dan sampai di tempat pemberhentian pertama, mereka berkumpul untuk mendengarkan penjelasan dari petugas penjaga museum.
Tiba tiba tangan mungil Valexa mengambil hand phone milik Richardo yang ada di saku celana cargo yang dekat dengan diri nya.
“Sttttt...” desis Valexa dari mulut mungil nya yang mengerucut, sebagai kode agar Richardo tidak berbicara. Valexa lalu terlihat mengusap usap layar hand phone milik Richardo. Saat ada kunci nya Valexa segera meminta Richardo membuka kunci itu. Dan setelahnya Valexa mencari aplikasi rekam dan mulai lah merekam apa yang sudah diucapkan oleh petugas museum itu.
Mereka semua tampak serius mendengarkan suara dari petugas museum yang sedangkan menjelaskan dengan gaya bahasa yang diusahakan agar mudah dimengerti oleh anak anak balita. Akan tetapi mungkin tetap saja para guru dan pengantarnya yang benar benar mendengarkannya.
Setelah beberapa menit kemudian mereka berpindah ke tempat berikutnya dan begitu seterusnya. Dan di saat akan menuju tempat ke lima. Valexa dan Deondria saling pandang dengan tatapan mata yang tampak serius. Dan selanjutnya tampak Deondria menganggukkan kepala nya.
Valexa yang masih memegang hand phone milik Richardo lalu tangan mungil satu nya menarik tangan kekar Richardo.
“Mau pipis ya?” tanya Richardo karena Valexa terus menarik tangan nya meninggalkan rombongan yang masih mendengarkan penjelasan dari petugas museum.
Saat Valexa sudah mendapatkan tempat yang agak sepi. Jari jari mungil Valexa terlihat mengusap usap layar hand phone Richardo. Valexa segera menekan aplikasi chatting lalu dia membuat pesan suara.
“Ante, coping bayu meyatutan tancakci di pacal. (Uncle , sopir baru melakukan transaksi di pasar).”
“Awasi teyus coping bayu itu, nanti yiat ici tas yan dibawa na.. (awasi terus sopir baru itu, nanti lihat isi tas yang dibawa nya ).”
“Cudah atu mo itut yombongan yadi tatut Aya ga tacih tau atu inpomaci dayi petugas moceyum... ( Sudah aku mau ikut rombongan lagi, takut Aya ga kasih tahu aku informasi dari petugas museum).”
Sementara itu Bang Bule yang sudah berada di mansion Jonathan dan berada di pos keamanan tampak kaget saat mendapat pesan suara dari Valexa.
“Hhhhh licik juga Amelia.” Ucap Bang Bule Vincent sambil mengusap wajah nya dengan kasar.
“Aku menyusul ke pasar atau menunggu di sini ya.” Gumam Bang Bule Vincent di dalam hati, dia tampak berpikir pikir.
Sementara itu di pasar tradisional Atikah tersenyum senang. Barang kiriman nya sudah sampai di tangannya dengan aman. Zulfa baru saja mengantarnya. Dan kini mereka berdua masih berada di dalam mobil yang berada di tempat parkir pasar.
“Hmmm berat dan besar ya.” Ucap Atikah sambil menerima satu kantong tas plastik berwarna hitam yang diikat rapat dari tangan Zulfa .
“Nanti aku transfer uang buat kamu ya Zul, hand phone yang ini zonk ga ada saldo nya he... he... “ ucap Atikah kemudian sambil tertawa kecil bahagia. Lalu dia menaruh barang itu di belakang punggungnya.
“Sudah kamu sekarang cepat pulang sebelum pelayan galak itu datang.” Ucap Atikah sambil menatap Zulfa yang masih duduk di jok mobil yang berhenti.
Zulfa pun segera turun dari mobil dan segera melangkah meninggalkan mobil box milik keluarga Jonathan itu.
Atikah yang penasaran dengan barang kirimannya lalu mengambil lagi tas plastik hitam yang tadi dia taruh di belakang punggung nya, mengintip isi di dalam tas plastik berwarna hitam itu.
“Owh... cerdas sekali, ini kan kemasan coklat asli dan sangat mirip seratus persen, tidak tampak jika ada barang mahal di dalam nya. Aku sudah tidak sabar untuk melihat isi di dalam nya.” Gumam Atikah dalam hati.
“Dan tentu saja segera menjual nya dan memasukkan nya pada masakan keluarga Jonathan.” Gumam Atikah dalam hati lagi sambil tersenyum dan menimang nimang juga mengintip intip barang kiriman nya.
Saat dia masih mengintip intip isi di dalam tas plastik hitam itu, tiba tiba terdengar suara pintu mobil dibuka keras...
....