
Keesokan harinya baby Twins boy sudah dibawa ke kamar rawat Alexandria. Alexandria memberikan asi secara bergiliran pada Raja dan Asasta. Vadeo yang mendapat cuti untuk mendampingi Sang Istri terus saja setia berada di dekat Alexandria membantu apa pun yang dibutuhkan oleh Sang istri tercinta.
“Ma, nanti sore kita sudah boleh pulang.” Ucap Vadeo yang duduk di samping istrinya sambil memangku tubuh mungil Raja yang sudah selesai meminum asi. Sementara Alexandria masih memberikan asi pada Asasta.
“Mereka minumnya asi lebih kuat dari pada Aca dan Aya , Pa... “ ucap Alexandria sambil tersenyum menatap mulut mungil Asasta yang sedang meminum asi dengan kuat.
“Hmmm apa aku kalah kuat..” gumam Vadeo sambil melirik sang istri dan Alexandria pun hanya tertawa kecil.
“Ma, kalau nanti mereka sudah satu tahun aku akan mengajak mereka ke pulau Alexandria.” Ucap Vadeo sambil menatap Raja dan Asasta.
“Semoga saat mereka sudah berumur satu tahun. Mereka sudah bisa berjalan dan kita bisa segera memugar kerajaan bawah tanah itu.” Ucap Vadeo lagi dan masih menatap Raja yang dipangku nya dan Asasta yang masih meminum asi.
“Syarat dari ular besar itu saat Raja dan Asasta sudah bisa berjalan ya Pa.. “ ucap Alexandria sambil mengusap usap puncak kepala Asasta.
Dan tiba tiba kaki kaki mungil bayi merah itu bergerak gerak aktif bagai tahu akan keinginan orang tuanya agar mereka bisa segera berjalan.
“Papa dan Mama akan sabar menunggu kalian Sayang....” ucap Vadeo sambil tersenyum dan menepuk nepuk pelan kaki Raja yang masih aktif bergerak gerak.
Saat Vadeo dan Alexandria masih menimang nimang Raja dan Asasta. Pintu kamar rawat tempat Alexandria itu terdengar suara ketukan.
TOK TOK TOK
TOK TOK TOK
“Siapa Pa, Dokter atau Mama dan Papa?” tanya Alexandria sambil menatap Vadeo yang berjalan jalan di dalam kamar sambil menggendong Raja.
“Ayo kita lihat siapa yang datang ya Ja...” ucap Vadeo sambil melangkah menuju ke pintu.
Vadeo sambil masih menggendong Raja membuka daun pintu itu dan saat pintu terbuka tampak sosok Bang Bule Vincent.
“Kalian sudah akan pulang nanti sore ya..” ucap Bang Bule Vincent sambil langsung nyelonong masuk.
“Kamu tidak menggendong anakmu Bul?” tanya Vadeo sambil mengikuti langkah kaki Bang Bule Vincent yang berjalan menuju ke sofa.
“Belum boleh Bro, tadi aku mengantar Ixora ke ruang bayi untuk memberi asi. Masih ditaruh pada inkubator anakku.” Ucap Bang Bule Vincent dengan sedih sambil mendudukkan pantangan di sofa . Vadeo menatap tajam wajah Bang Bule Vincent yang tampak sedih.
“Jangan sedih Bul, itu kan demi kesehatan Ado.” Ucap Vadeo selanjutnya lalu dia pun mendudukkan pantatnya tidak jauh dari Bang Bule Vincent.
“Bro, aku sedang galau nih..” ucap Bang Bule Vincent masih dengan nada dan ekspresi sedih.
“Sudah dibilang itu demi kebaikan anakmu.” Ucap Vadeo lagi.
“Bukan masalah itu Bro.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menatap wajah Vadeo dengan serius.
“Apa kamu kesulitan biaya...” bisik Vadeo sambil tersenyum. Raja yang dipangku oleh Vadeo pun ikut tersenyum dan dua kaki mungilnya kembali aktif lagi.
“Sebentar Ja, nanti jalan jalan lagi sekarang kita temui Uncle Vin yang sedang galau...” ucap Vadeo sambil mengusap usap kaki mungil Raja.
“Hmmm apalagi itu, meskipun kekayaanku jauh dari kamu tetapi aku dan istriku tidak kesulitan untuk biaya rumah sakit Bro. Apalagi Ixora bekerja di sini dapat fasilitas lebih.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menepuk pundak Vadeo.
“Lha terus apa? Masalah puasa selama empat puluh hari he... he.... gampang Bul, pakai alternatif lain yang penting tetap setia pada istri. Awas kalau kamu macem macem. Burung mu itu bisa disetrum Papa William dan ditembak senjata rahasia Ixora.” Ucap Vadeo sambil menatap tajam Bang Bule Vincent.
“Setelah empat puluh hari puasa... rasanya uwenak... banget Bul.. istri juga merem melek keenakan.. makanya rasa sakit saat melahirkan sudah lupa.” Ucap Vadeo dengan suara berbisik agar tidak didengar oleh Alexandria.
“Aku tidak mungkin berpaling dari Ixora, Bro. Bukan karena takut disetrum atau gatal gatal akibat senjata rahasia, tetapi karena aku sangat mencintai Ixora.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada serius.
“Terus masalah apa?” tanya Vadeo.
“Aku harus menemui Marcellino Hanson. Dia sedang mendapat masalah. Tepatnya calon istrinya mendapat ancaman pembunuhan.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada serius.
“Marcellino Hanson yang masih muda sudah menjadi duda itu?” tanya Vadeo yang juga satu alumni dengan Marcel namun tidak begitu kenal sebab Vadeo dulu melanjutkan sekolah ke luar negeri.
“Iya sekarang dia sudah mendapat kekasih, perawat anaknya. Namun mendapat ancaman pembunuhan. Marcel minta tolong kepadaku.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya.
“Ya sudah tolong saja, kasihan istri meninggal punya pacar juga akan dibunuh orang.” Ucap Vadeo dengan nada serius.
“Masalahnya Ixora masih baru saja melahirkan. Anak ku juga masih diinkubasi.” Ucap Bang Bule Vincent
.....
Reader tersayang author ucapkan terima kasih atas hadir dan dukungannya hingga bab ini... yyukkk main main ke novel Alamanda perawat untuk anakku.. ikuti kisah Marcellino Hanson dan Alamanda, nanti Bang Bule Vincent dan Twins girl juga akan berkunjung ke sana...
Terimakasih ♥️♥️♥️🥰🥰🥰🙏🙏🙏