
Sementara itu di pulau Alexandria, tepatnya di bangunan istana kerajaan Asasta yang berada di bawah pohon asam. Tampak Vadeo dan Bang Bule Vincent serius membicarakan apa yang baru saja diperintahkan oleh Valexa dan Deondria. Bang Bule Vincent tampak mengusap usap layar hand phone nya untuk mencari anak buahnya di pulau jawa yang paling tampan.
“Ante ceyain paying tampan duda ayus loyal, cetiya pada tita.. (Uncle selain paling tampan juga harus loyal, setia pada kita).” Ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan sambil menatap Bang Bule Vincent yang tampak masih serius mengusap usap layar hand phone nya. Bang Bule Vincent menganggukkan kepalanya dan masih terus mengusap usap layar hand phone nya untuk melihat data data anak buah nya. Dan sesaat kemudian dia mendapatkan satu buah foto anak buahnya yang wajah dan postur tubuhnya sebelas dua belas dengan Richardo, akan tetapi masih junior.
“Ca, Ya... lihat ini..” ucap Bang Bule Vincent sambil menunjukkan satu buah foto yang ada di layar hand phone nya. Tampak wajah mungil Valexa dan Deondria menatap layar hand phone milik Bang Bule Vincent itu. Vadeo pun juga penasaran ingin melihatnya.
“Boyeh... (Boleh).” Ucap Valexa dan Deondria dengan nada serius.
“Hmmm kamu masih kecil sudah tahu wajah tampan laki laki ya...” ucap Vadeo sambil menatap wajah kedua anaknya dan dua bocah itu hanya tertawa terkekeh kekeh.
“Tetapi masalahnya dia masih junior aku belum bisa menjamin tingkat loyalitasnya. Beda dengan Richardo.” Gumam Bang Bule Vincent lalu dia mengusap usap layar hand phone lagi.
“Tan tidak anya diya Ante.. cayi yadi .. (Kan tidak hanya dia Uncle.. cari lagi).” Ucap Valexa dengan nada serius.
“Hmmm di luar perkiraan aku, akan melakukan serangan macam begini. Aku pikir kita hanya melindungi pulau Alexandria dengan dengan menaruh kekuatan di pulau ini.” Gumam Bang Bule Vincent tampak masih serius memilih milih anak buahnya. Sebab anak buahnya sudah banyak yang dikirim ke pulau Alexandria.
“Bul, aku punya ide bagaimana kalau ditambah dengan mengambil pengawal keluarga Jonathan dan keluarga William.” Ucap Vadeo sambil menepuk pundak Bang Bule Vincent dengan keras.
“Coba kamu cari.” Ucap Bang Bule Vincent. Dan Vadeo pun kini juga sibuk mengusap usap layar hand phone nya.
Dan singkat cerita, meskipun dengan perdebatan yang alot akhirnya mereka pun sudah mendapatkan empat orang pemuda yang tampan dan gagah yang akan di kirim untuk menuju ke kota tempat Mamah Mimi berada. Sebab di antara ke empat pemuda itu ada salah satu yang merupakan pengawal pribadi Dealova William.
Valexa dan Deondria tampak tertawa terkekeh kekeh saat mendengar lewat telepon sang Papa, aunty nya itu marah marah karena pengawal pribadinya diserobot. Akan tetapi Dealova tidak bisa berbuat apa apa karena Tuan William sudah mengizinkan. Dan akan menggantikan pengawal Dealova dengan pengawal lainnya.
“Okey Bro sudah cukup empat orang itu. Aku suruh Eveline juga untuk turut ke sana agar mengawasi mereka.” Ucap Bang Bule Vincent dan tampak Valexa dan Deondria mengangguk anggukkan kepalanya.
“Sayang apa kita masih harus sembunyi di sini, sampai kapan Sayang?” tanya Vadeo dengan nada dan wajah memelas.
“Tita pate bebeyapa cetategi Papa.. tita tiyim pemuda pemuda tampan itu untuk memecah toncentasi peyempuan tuwa itu. Atu tan Aca duda mau ceyang diya dayi cini.. (Kita pakai beberapa strategi Papa.. Kita kirim pemuda pemuda tampan itu untuk memecah konsentrasi perempuan tua itu. Aku dan Aya juga mau serang dia dari sini).” Ucap Deondria dengan nada serius juga. Vadeo dan Bang Bule Vincent tampak mengusap wajahnya dengan kasar, sebab benar benar di luar perhitungannya jika musuh akan melakukan penyerangan dengan cara main santet.
Tiba tiba Vadeo ekspresi wajahnya tampak sangat khawatir.
“Sayang bagaimana dengan Mama dan adik kalian. Mereka masih berada di rumah. Di atas tanah bagaimana jika mereka yang ganti diserang?” Tanya Vadeo dengan ekspresi dan wajah yang sangat khawatir.
“Isteri aku juga Bro masih di sana.” Saut Bang Bule Vincent yang juga mengkhawatirkan Ixora isteri nya. Tampak Valexa dan Deondria ekspresi wajahnya serius dan pandangan matanya seperti melihat dengan serius yang jauh di sana.
“Cementaya aman Papa.. (sementara aman Papa..).” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan.
“Bagaimana dengan Aunty Ixora, sayang...?” tanya Bang Bule Vincent.
“Aman Ante...” ucap Valexa dan Deondria. Tampak Vadeo dan Bang Bule Vincent sedikit lega.
Sementara itu di tempat lain, di rumah praktek Mamah Mimi. Setelah dia beristirahat, Mamah Mimi kembali berjalan menuju ke ruang prakteknya.. Setelah masuk ke dalam ruang praktek nya yang tampak gelap, Mamah Mimi menyalakan lilin lilin yang akan digunakan untuk melakukan ritual dalam melaksanakan hajatnya. Setelah lilin lilin itu menyala. Mamak Mimi duduk bersila dengan mulut komat kamit mengucapkan mantera mantera. Tangannya pun mengusap usap usap permukaan bola kristalnya. Dengan serius dia mengusap usap permukaan bola kristal itu. Mata terpejam dengan mulut masih terus komat kamit mengucapkan mantera, hingga air liur dari mulutnya pun memercik keluar karena begitu seriusnya.
Dan sesaat kemudian. Mamah Mimi membuka matanya dan melihat bola kristal miliknya. Akan tetapi...
“Kurang ajar kenapa masih gelap gulita aku tidak bisa melihat apa apa. Kemana kedua bocah itu?” teriak Mamah Mimi dengan nada tinggi penuh emosi.
“Hmmm aku coba lagi, aku sekarang akan fokus untuk melihat pulau keramat itu dari sini. Untuk mencari ke mana dua bocah itu bersembunyi.” Gumam Mamah Mimi. Lalu dia kembali memejamkan matanya, mulutnya kembali komat kamit membaca mantera mantera. Dengan sangat serius Mamah Mimi membaca mantera mantera, dia rapalkan mantera mantera andalannya yang paling manjur, dan kini konsentrasinya tidak lagi tertuju pada sosok dua bocah yang dia cari akan tetapi konsentrasi pada pulau Alexandria yang dia sebut sebagai pulau keramat. Karena Mamah Mimi akan mencari tempat persembunyian dua bocah yang dicarinya.
Mamah Mimi terus memejamkan matanya dan mengusap usap lagi permukaan bola kristalnya.
“Tunjukkan pada aku ke mana dua bocah nakal itu bersembunyi.” Suara Mamah Mimi di antara mantera mantera nya. Mata Mamah Mimi masih terpejam dan mulut masih terus saja berkomat kamit, tangan terus mengusap usap permukaan bola kristal. Dan di saat sudah dirasa cukup Mamah Mimi membukakan matanya.