Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 105. Kawasan Istana


“Ix.. Kak Deo tidak bisa dihubungi..” suara Alexandria yang mulai panik.


“Tenang Kak ingat tensi Kakak loh.. coba nomor Bang Bule Vincent atau Richardo.” Ucap Ixora menenangkan Kakaknya. Alexandria pun lalu menghubungi nama kontak Bang Bule Vincent akan tetapi hasil nya sama tidak ada terdengar nada sambung. Dengan ekspresi wajah khawatir dan panik Alexandria beralih untuk menghubungi nama kontak Richardo dan hasil nya juga sama tidak terdengar nada sambung.


“Mungkin mereka di lokasi yng tidak ada jaringan.” Gumam Alexandria, lalu dia beralih untuk menghubungi kontak nama pak sopir yang menunggu di mobil yang terparkir di dekat batu batu besar.


Sesaat kemudian...


“Tolong kamu naik ke atas lihat dan cari mereka semua. Hand phone mereka tidak bisa dihubungi.” Perintah Alexandria pada pak sopir setelah panggilan suaranya diterima oleh pak sopir.


“Kakak tenang jangan panik. Nanti tensi kakak semakin tinggi.” Ucap Ixora dan terlihat Alexandria bangkit berdiri dan berjalan untuk mengambil air mineral.


Sementara itu di bukit pohon asam. Si Kembar dan rombongan sudah memasuki suatu tempat yang berupa lorong yang panjang. Jika tidak mendapat sinar dari kepala sang ular besar lorong itu pasti merupakan tempat yang sangat gelap gulita. Beberapa kali mereka melihat tikus tanah yang besar besar lari terbirit birit menjauh karena ada sinar terang.


Dan sesaat kemudian Valexa dan Deondria berteriak karena melihat sesuatu...


“Itu ada yan becembunyi di beyatang batu .. ( itu ada yang bersembunyi di belakang batu..).” Teriak mereka berdua saat melihat ada seekor tikus tanah yang sangat besar bersembunyi di balik batu di samping kanan jalan yang mereka lalui. Mungkin karena tubuhnya yang sangat besar sehingga susah berlari cepat maka dia berusaha melindungi diri dengan bersembunyi. Suara mereka berdua pun bergema. Kepala ular besar itu lalu menoleh ke arah batu dan sesaat kemudian...


HAP


Tubuh besar tikus tanah itu sudah masuk ke dalam tubuh ular besar itu. Mereka pun melanjutkan perjalanannya. Akan tetapi tiba tiba Vadeo bertanya pada kedua anak nya. Karena kini dalam hati dia khawatir akan keselamatan mereka semua. Karena tampak lorong masih jauh di depan mata, dan banyaknya hewan hewan liar di bawah tanah. Selain tikus besar, Vadeo juga melihat landak tanah, juga ular dan lain lainnya.


“Sayang apa masih jauh? Nafas Papa agak sesak nih.. Mungkin kurang oksigen.” Ucap Vadeo dengan suara terbata bata.


“Cebental Papa.. (Sebentar Papa).” ucap Valexa dan Deondria sambil terus melangkah di belakang Richardo. Bang Bule Vincent dan Richardo hanya diam tidak bersuara untuk menghemat energinya.


Dan beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan suatu pintu kayu yang sangat kokoh berukir ukir. Vadeo mengambil kunci dari saku bajunya, dia akan membuka pintu itu dengan kunci yang sudah diberikan oleh Sang ular besar. Sebab dia mengira pasti untuk membuka pintu itu dengan kunci emas yang dia bawa. Namun dugaannya ternyata keliru. Pintu itu dibuka oleh Sang ular besar dengan dorongan kepala nya.


“Bul apa kita masuk ke dunia lain ya?” gumam Vadeo yang berhasil melonggokkan kepalanya ke dalam pintu. Vadeo melihat di balik pintu itu suasana gelap akan tetapi tidak segelap di lorong panjang yang tadi mereka lalui. Saat Vadeo mendongak ke atas ada bertaburan sinar macam bintang bintang dan ada satu lingkaran besar yang juga memberi cahaya. Udara pun tidak lagi sepengap di dalam lorong tadi.


“Papa macuk caja.. (papa masuk saja..).” ucap Valexa dan Deondria. Bang Bule Vincent yang mendengar ucapan Valexa dan Deondria langsung mendorong tubuh Vadeo, dan dirinya pun segera masuk ke dalam pintu itu. Meskipun dengan sinar yang tidak terang karena Sang ular belum masuk. Vadeo dan Bang Bule Vincent bisa melihat kalau mereka berdua memasuki kawasan istana. Di depan tampak sebuah bangunan istana. Dan tidak jauh dari mereka bekas bangunan taman istana yang sudah tidak ada tanaman tanaman mungkin mati akibat racun jaman dahulu dan kini tidak bisa tumbuh karena kurang sinar matahari.


Richardo pun turut masuk sambil menggendong Valexa dan Deondria. Sang ular pun turut masuk lalu menutup kembali pintu. Bang Bule Vincent dan Vadeo melihat lihat suasana sekitarnya. Lalu mendongak ke atas.


“Bul, itu di atas kok macam atap atap kayu gelondongan bisa melindungi tempat ini tidak tertimbun oleh tanah atau material alam lain. Jadi istana itu masih kokoh berdiri. Apa itu ya Bul? Itu kayu kayu juga menjulur ke bawah jadi macam pagar.. semakin ke bawah diameter semakin kecil.” gumam Vadeo tampak heran. Bang Bule Vincent pun mengamati dan tidak menjawab karena juga heran dan kagum.


“Itu akal pohong acam Papa.. (itu akar pohon asam Papa).” Ucap Valexa yang masih berada di dalam gendongan Richardo.


“Ooo jadi yang bersinar di atas itu celah celah dari akar akar.. “” gumam Vadeo


“Iya Papa.. yang sinar becal itu yobang tayo ulal becal telual bica lancung te atas campe di pohong acam tadi. (Iya Papa.. yang sinar besar itu lobang kalau ular besar keluar bisa langsung ke atas sampai di.pohon asam tadi).” Ucap Deondria yang juga digendong oleh Richardo.


“Kita tidak bisa lewat lobang itu?” tanya Vadeo yang berharap bisa pulang dengan jalan pintas. Valexa dan Deondria hanya mengalah kedua bahunya sambil tersenyum.


Ular besar itu tampak menggeser tubuhnya dan menuju ke suatu tempat. Valexa dan Deondria memberi tahu agar meraka semua mengikuti Sang Ular besar itu lagi.


Akan tetapi tiba tiba terdengar bunyi suara notifikasi dari semua hand phone yang ada. Dan sesaat kemudian hand phone milik Vadeo berdering.


“Hmmm di sini ada spot spot jaringan.” Gumam Vadeo lalu mengambil hand phone dari saku kemejanya. Saat dilihat nama kontak Pak Sopir melakukan panggilan suara. Vadeo segera menggeser tombol hijau.


“Tuan di mana saya cari cari Tuan tidak ada, saya disuruh Nyonya Alexa menyusul ke atas bukit tapi saya tidak melihat Tuan. Saya bingung Tuan sepertinya saya tersesat.” Ucap Pak Sopir yang memang baru satu kali itu itu naik ke atas bukit, sebab biasa nya dia hanya menunggu di mobil.


...