
“Ayo mandi terus makan. Om Richardo sudah menunggu Papa, alarm masih berwarna kuning.” Ucap Vadeo sambil akan meraih tubuh anaknya untuk digendong akan dibawa ke kamar mandi.
“Papa peyempuan itu pate caya mitis.. ( Papa perempuan itu pakai cara mistis..).” teriak Valexa dan Deondria ambil menolehkan kepala menatap Sang Papa. Sedang tubuh mungil mereka berdua masih menempel pada tubuh Sang Mama di samping kiri dan kanannya.
“Mitis? Mistis?” tanya Vadeo sambil menatap tajam kedua anaknya yang masih menempel si tubuh Alexandria itu, dan kini menempelkan juga kepala keduanya pada tubuh Alexandria sepertinya mereka berdua masih mengantuk atau mungkin juga masih merasa capek. Keduanya tampak menganggukkan kepala. Vadeo dan Alexandria ekspresinya wajahnya tampak kaget dan khawatir sambil menatap wajah kedua anaknya.
“Sekarang mandi air hangat dan setelahnya makan. Baru nanti kita bicarakan lagi saat tubuh kita sudah segar.” Ucap Alexandria selanjutnya sambil mengusap usap kepala kedua anaknya itu.
“Ma.. mandi air anget ditacih dayam.. (Ma.. mandi air anget dikasih garam)” pinta mereka berdua. Alexandria pun menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan kedua anaknya. Di kamar mandi pun sudah tersedia garam epsom atau garam mandi, karena mandi dengan air garam bisa mengurangi rasa capek, meredakan nyeri dan kaku otot juga bisa meredakan rasa khawatir maka Alexandria sudah menyediakan garam itu di kamar mandi, dan juga beberapa macam minyak esensial untuk therapi.
Saat Alexandria akan menggendong salah satu dari anak nya itu. Dilarang oleh Vadeo, dan kedua anak itu pun digendong oleh Vadeo menuju ke kamar mandi.
“Kenapa minta mandi dengan air garam hmmm? Biar ga dimakan setan ya?” ucap Vadeo sambil terus berjalan dan tiba tiba...
“Aduh!” teriak Vadeo karena pundak dan lengannya digigit oleh Valexa dan Deondria Sementara Alexandria sudah berjalan lebih dulu untuk menyiapkan bath up yang diisi dengan air hangat dan diberi garam mandi dan minyak esensial, agar kedua anaknya tubuhnya kembali segar.
Waktu pun terus berlalu sementara itu di sebuah Bandara internasional Changi, Singapore. Tuan Njun Liong dan Richie sudah turun dari pesawat terbang. Pengawal Tuan Njun Liong berjalan di belakang mereka berdua. Mereka bertiga berjalan dengan langkah lebarnya.
Setelah melalui semua prosedur yang berlaku di dalam bandara itu. Mereka bertiga kini sudah berada di ruang kedatangan. Tampak Tuan Njun Liong mengusap usap layar hand phone nya sedangkan Sang pengawalnya kedua tangannya menarik koper yang besar besar. Sementara Richie menarik koper kecilnya dan berjalan terpincang pincang di samping Tuan Njun Liong.
“Hmmm Siu Lie sudah menunggu di hotelnya. Kita langsung ke hotel saja.” Ucap Tuan Njun Liong yang baru saja memberi kabar pada Nyonya Siu Lie .
Tuan Njun Liong lalu mengusap usap lagi layar hand phone nya untuk menghubungi pihak hotel agar mobil hotel menjemput mereka bertiga.
Beberapa saat kemudian mobil hotel bintang lima yang dipesan oleh Tuan Njun Liong pun sudah tiba di bandara. Setelah mobil penjemput itu berhenti. Tuan Njun Liong, Richie dan pengawal Tuan Njun Liong segera berjalan mendekat ke arah mobil itu.
Mobil terus melaju. Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman hotel bintang lima. Sesaat hand phone di dalam saku jas Tuan Njun Liong berdering saat Tuan Njun Liong sudah mengambil hand phone nya tampak di layar hand phone nya tertera nama Siu Lie, dengan segera Tuan Njun Liong menggeser tombol hijau.
“Aku tunggu kamu di ruang makan VIP. Kamu langsung saja menuju ke tempat itu.” Suara Nyonya Siu Lie di balik hand phone Tuan Njun Liong.
“Aku bawa dua orang, satu orang pengawal dan satu orang yang bisa melindungi data hand phone ku. Apa boleh mereka berdua ikut?” tanya Tuan Njun Liong. Dan Nyonya Siu Lie pun mengizinkan nya. Richie tampak tersenyum senang, dia pun penasaran seperti apa wujud perempuan pemburu harta karun itu.
Setelah mobil berhenti di depan pintu hotel, mereka bertiga langsung turun dan berjalan menuju ke resepsionis. Tuan Njun Liong pun menyuruh pihak hotel untuk memasukkan koper mereka bertiga ke dalam kamar mereka. Sementara itu mereka bertiga berjalan menuju ke ruang makan ViP yang sudah dipesan oleh Nyonya Siu Lie.
Beberapa saat kemudian mereka bertiga sudah sampai di depan pintu ruang makan VIP. Tampak di depan pintu ada petugas hotel berdiri di depan pintu yang tertutup itu. Setelah yakin tiga orang itu yang ditunggu oleh petugas hotel itu membuka pintu dan mempersilahkan ketiga orang itu masuk dan selanjutnya pintu ditutupnya lagi, dan petugas hotel itu tetap berdiri di luar di depan pintu.
“Selamat datang Liong, akhirnya kamu membutuhkan aku juga.” Suara seorang wanita di dalam ruang makan VIP yang tertutup rapat itu. Ruang makan yang di design elegan dan suhu dingin karena hembusan udara dari AC. Richie pandangan matanya menatap ke arah suara itu. Tampak seorang perempuan setengah baya sedang duduk di kursi makan di depan nya menu makan sudah tersaji di meja dengan lengkap tampak lezat di lidah Richie yang sudah lapar perutnya. Perempuan setengah baya itu masih terlihat cantik dengan balutan gaun yang elegan, kulit kuning putih mata sipit rambut hitam kecoklatan mungkin efek dari pewarna rambut. Tampak di leher agak bawah asesoris berkilau gemerlap indah.
“Hmmm mungkin itu permata langka koleksinya.” Gumam Richie dalam hati sambil terus melangkah dengan kaki terpincang pincang di belakang Tuan Njun Liong.
“Gara gara cuaca jelek yang tiba tiba datang menghantam kapalku, membuat semua rencana ku gagal berantakan.” Ucap Tuan Njun Liong lalu berjabat tangan dengan Nyonya Siu Lie.
“Ha.... ha.... ha..... “ tawa Nyonya Siu Lie memenuhi ruang makan VIP itu.
“Ayo kita makan dulu, nanti kita bicarakan rencana kita.” Ucap Nyonya Siu Lie mempersilah ketiga orang itu duduk di kursi makan untuk menikmati jamuannya.
Tidak ada pelayan dan karyawan hotel yang berada di dalam ruang makan itu. Nyonya Siu Lie memang melarang mereka semua untuk masuk ke dalam ruang itu. Karena Nyonya Siu Lie akan mengadakan pembicaraan rahasia bersama koleganya itu, yang tidak lain adalah Tuan Njun Liong. Tampak Richie makan dengan cepat cepat karena sudah sangat penasaran dengan rencana apa yang akan disampaikan oleh Nyonya Siu Lie.
.....