
Mamah Mimi terus melangkah dengan cepat menuju ke ruang tempat pendaftaran. Di ruang itu masih ada beberapa pemuda tampan dan gagah yang baru datang. Mamah Mimi segera menerobos masuk tidak memedulikan lagi pemuda pemuda itu sebab pikiran dan hatinya tertuju pada keempat pemuda utusan Bang Bule Vincent.
Saat melihat Mamah Mimi masuk ke dalam ruangannya, laki laki suruhan Mamah Mimi yang bertugas merekrut itu tampak kaget. Amplop besar yang berisi uang pendaftaran segera dia sembunyikan di bawah pantat tempat duduknya.
“Mah, ada apa Mah?” tanya laki laki suruhan Mamah Mimi itu sambil menatap wajah Mamah Mimi.
“Apa pintu kamar mereka sudah kamu kunci?” tanya Mamah Mimi dengan suara lirih.
“Tidak Mah, kan mereka juga harus keluar untuk makan di ruang makan, juga biar saja mereka melihat lihat lokasi Mah.. biar mereka tambah seger Mah.. he... he...” jawab laki laki suruhan Mamah Mimi itu sambil tertawa dan mengerlingkan matanya menggoda Mamah Mimi.
“Mana kunci satu kamar itu. Biar makan mereka diantar saja ke dalam kamar.” Ucap Mamah Mimi sambil meminta kunci kamar yang berisi empat pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent.
“Yang mana Mah?” tanya laki laki suruhan Mamah Mimi itu sambil menatap Mamah Mimi dengan serius.
“Goblok! Ya yang kamu bawa ke aku tadi.” Ucap Mamah Mimi sambil mengulurkan tangannya menengadah minta kunci kamar. Laki laki suruhan Mamah Mimi itu pun segera memberikan satu buah kunci kamar. Setelah mendapatkan kunci kamar. Mamah Mimi segera keluar dari ruang pendaftaran itu.
Mamah Mimi segera berjalan lagi menuju ke dalam rumah utama, dan terus melangkah menuju ke kamar tempat keempat pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent berada. Saat sudah berada di pintu kamar itu. Tangan Mamah Mimi yang sudah membawa kunci segera memasukkan anak kunci pada lubangnya.
CEKREK CEKREK
Mamah Mimi memutar anak kunci dua kali.
“Hmmm aman, mereka tidak bisa keluar dari kamar. Nyonya Siu Lie tidak bisa melihat mereka. Biar aku saja yang melihatnya... Ha... Ha... Ha.... “ gumam Mamah Mimi dalam hati sambil tertawa senang dan tentunya tawanya juga di dalam hati.
Kelima pemuda yang berada di dalam kamar itu tampak kaget saat mendengar pintu dikunci dari luar. Salah satu pemuda utusan Bang Bule Vincent melangkah menuju ke pintu. Dia putar handel pintu dan dia tarik daun pintu. Pintu tetap kokoh tertutup.
“Sial! Kita dikurung di dalam kamar ini.” Ucapnya sambil kembali melangkah menuju ke tempat tidurnya. Teman lainnya pun juga berjalan menuju ke pintu untuk membuktikan. Dan benar mereka dikunci dari luar.
“Kak. Kita terus ngapain di dalam kamar ini. Kemarin katanya aku disuruh orientasi.” Ucap pemuda pendaftar dari kota tetangga itu dengan nada dan ekspresi wajah khawatir. Dia menyebut Kak lada keempat pemuda utusan Bang Bule Vincent karena setelah berbincang bincang memang usia dia yang paling muda.
“Entahlah kita tunggu saja.” Ucap salah satu dari keempat pemuda utusan Bang Bule Vincent, lalu dia mengambil hand phone miliknya dan mengusap usap layarnya untuk memberikan informasi terbaru pada Eveline.
Waktu pun terus berlalu di pulau Alexandria. Si Kembar, Vadeo dan Bang Bule Vincent sudah sampai dengan selamat. Mobil sudah memasuki halaman rumah Vadeo. Mendengar suara mobil datang Alexandria dan Ixora pun segera membukakan pintu.
“Mama......” teriak Valexa dan Deondria yang sudah turun dari mobil dan segera berlari untuk mendekati Sang Mama karena mereka sudah sangat kangen dengan Mamanya.
“Badaimana tabal Adik Adiktu Ma? Apa meyeta lewel? (Bagaimana kabar Adik Adikku Ma? Apa mereka rewel)?” tanya Valexa dan Deondria sambil mengusap usap perut Mamanya.
“Adik Adik? Mereka?” gumam Alexandria
“Iya Ma... tan Papa akan buatkan satu satu buat Atu tan Aya... (Iya Ma.. tan Papa atan buattan satu satu buat Aku tan Aya).” Ucap Valexa sambil tersenyum dan masih mengusap usap perut Sang Mama.
“Oooo...” gumam Alexandria lagi sambil tersenyum. Dan tidak lama kemudian Vadeo dan Bang Bule Vincent pun sudah sampai di dekat mereka. Setelah saling melepas rindu dengan peluk cium mereka pun segera masuk ke dalam rumah.
Di malam hari setelah makan malam. Valexa dan Deondria segera masuk ke dalam kamarnya. Vadeo pun segera masuk ke dalam kamarnya bersama dengan isteri tercinta. Vadeo menciumi perut datar Alexandria yang sedang duduk di sofa panjang.
“Kalian yang kuat di dalam perut Mama ya.. dan jaga Mama baik.. Papa dan Kakak Kakak akan pergi lagi.” Ucap Vadeo sambil mengusap usap perut datar Alexandria setelah puas menciumnya.
Alexandria yang mendengar tampak kaget, kaget karena Suaminya juga menyebut kalian pada janin di dalam perutnya, juga ucapannya yang mengatakan akan pergi lagi.
“Pa, akan ke mana lagi?” tanya Alexandria sambil menatap Vadeo yang kini sudah duduk tegak di sampingnya. Vadeo pun lalu mengatakan rencana Valexa dan Deondria yang akan mendatangi tempat perempuan perempuan tua itu.
“Pa, dan ada Richie di kota itu. Meskipun nomor barunya sudah dilindungi tapi sudah bisa aku lacak. Karena Richie ada jaringan dengan perempuan yang akun nya ikut anggota emak emak pencinta permata.
“Hati Hati Pa.. “ ucap Alexandria dengan nada dan ekspresi wajah serius
“Apa aku ikut ke sana Pa? Dia masih dendam kepada aku tetapi kenapa yang diserang anak anakku?” Ucap Alexandria masih dengan nada serius.
“Kamu dan Ixora di sini saja. Kalau Richie tahu kamu sedang hamil pasti juga akan menyerang kamu. Tujuan dia adalah untuk mengambil sesuatu yang sangat berharga bagi kita. Dia tahu anak anak kita adalah sesuatu yang sangat berharga itu.” Ucap Vadeo sambil kembali mengusap usap perut datar istrinya.
“Kita lupakan sejenak orang orang yang mengusik kebahagiaan kita, aku tahu pasti anak anakku di dalam ini sangat ingin aku kunjungi...” ucap Vadeo sambil kembali membungkuk menciumi perut datar Alexandria, dan ciumannya pun semakin lama tidak hanya pada perutnya tapi sudah menjalar ke mana mana, demikian pula dengan jari jari Vadeo. Alexandria pun jari jari tangannya mengusap usap rambut kepala Vadeo dan semakin lama juga menjalar pada tengkuk dan punggung Vadeo.
Dan di saat Vadeo akan melucuti pakaian Alexandria.
“Pa pintu sudah dikunci belum?” tanya Alexandria mengingatkan.
“Ahhh...” ucap Vadeo lalu menyunggar rambutnya dengan kasar dan berjalan menuju ke pintu kaca penghubung untuk memastikan kalau pintu sudah dikunci dan korden ditutup dengan rapat.