Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 77. Manuskrip Kuno


Waktu pun terus berlalu. Di suatu sore hari, di gedung Jonathan Co di ruang kerja Vadeo. Tampak setelah pekerjaan nya selesai Vadeo segera memberesi lap top nya.


“Pa, aku mau ke rumah Bang Bule lebih dulu ada masalah penting. Aku sudah mengabari Alexa dia sudah on the way menuju ke mansion.” Ucap Vadeo sambil bangkit berdiri dan menatap wajah Sang Papa Tuan Jonathan yang juga tampak sedang berkemas kemas.


“Hmmm jangan sampai malam kamu ngobrol dengan Bule. Kamu sudah bukan lagi perjaka yang tidak memiliki keluarga.” Ucap Tuan Jonathan mengingatkan pada anak laki laki nya.


Vadeo mengiyakan pesan dari Sang Papa lalu segera keluar dari ruang kerja nya. Vadeo berjalan dengan cepat menuju ke lift yang akan membawa dirinya menuju ke tempat mobil nya yang terparkir.


Beberapa saat kemudian lift sudah sampai di lantai dasar. Vadeo berjalan dengan langkah lebar nya menuju ke tempat parkir. Setelah sampai di tempat parkir dia segera membuka pintu mobilnya dan dia segera masuk ke dalam mobil nya. Dia memang lebih suka mengemudikan mobil nya seorang diri dan tanpa pengawal jika tidak pada kondisi kondisi khusus.


Vadeo menyalakan mesin mobilnya dengan segera, lalu menjalankan mobil nya dengan pelan pelan meninggalkan tempat parkir untuk menuju ke pintu gerbang gedung Jonathan Co. Setelah sampai di jalan raya Vadeo menambah laju kecepatan mobil nya. Vadeo ingin segera menanyakan langsung pada Bang Bule Vincent tentang usahanya dalam mencari ahli sejarah yang tahu tentang pulau Alexandria secara lengkap dan detail.


Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah Bang Bule Vincent. Tampak Bang Bule Vincent sedang berlari lari kecil dari belakang menuju ke tempat mobil Vadeo yang baru datang. Karena Bang Bule Vincent yang sedang di gedung belakang tadi sudah di hubungi oleh Vadeo kalau Vadeo sudah sampai.


Vadeo segera memarkirkan mobil nya di tempat biasa nya. Dan tidak lama kemudian Bang Bule Vincent pun sudah berdiri di dekat mobil Vadeo.


“Bul, bagaimana apa kamu sudah mendapatkan informasi sejarah pulau itu?” tanya Vadeo sambil membuka pintu mobil.


“Ayo masuk rumah dulu.” Jawab Bang Bule Vincent sambil melangkah menuju ke teras rumah nya. Vadeo pun setelah menutup pintu mobil nya juga melangkah mengikuti langkah kaki Bang Bule Vincent.


“Dari gelagat mu aku tahu, jika kamu belum mendapatkan nya.” Ucap Vadeo saat sudah masuk ke dalam rumah Bang Bule Vincent.


“Iya Bro, cuma baru dapat informasi memang jaman dulu ada penghuni nya.” Ucap Bang Bule Vincent sambil melangkah menuju ke ruang makan. Sedangkan Vadeo tampak melangkah menuju ke sofa yang berada di ruang keluarga dan selanjutnya mendudukkan pantatnya di salah satu sofa sambil melonggarkan dasi di lehernya.


Sesaat Bang Bule Vincent datang dengan membawa dua cangkir kopi dan di taruh di atas meja.


“Kamu tidak mencoba tanya pada Aca dan Aya, siapa tahu dia bisa melihat masa lalu pulau Alexandria itu.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya sambil mendudukkan pantatnya.


“Aku itu memberi tugas kepada kamu, kenapa juga harus anak anak ku lagi yang bekerja.” Ucap Vadeo sambil mengambil salah satu cangkir kopi. Bang Bule Vincent pun tampak tersenyum kecut karena malu belum berhasil menjalankan tugasnya dengan baik.


“Aku pernah mencoba bertanya pada mereka namun ekspresi wajah mereka berdua mendadak sedih. Aku tidak tega.” Ucap Vadeo selanjutnya setelah menyesap kopi buatan Bang Bule Vincent.


“Cuma mereka selalu berpesan agar aku menjaga pulau Alexandria dengan baik baik.” Ucap Vadeo lagi dengan nada serius.


“Hmmm apa ya yang terjadi dengan pulau itu jaman dulu nya.” Gumam Bang Bule Vincent.


Sesaat hand phone yang berada di dalam saku celana cargo Bang Bule Vincent terdengar ada suara notifikasi masuk. Bang Bule Vincent segera mengambil hand phone nya. Jari jari Bang Bule Vincent tampak mengusap usap layar hand phone nya, ekspresi wajah dan pandangan mata nya tampak serius menatap layar hand phone nya. Dan sesaat kemudian wajahnya tampak tersenyum dan sorot mata yang berbinar binar.


“Benarkah? Apa isi tentang manuskrip itu? Ayo kita ke sana sekarang, aku ingin segera melihat dan mengetahui isinya.” Ucap Vadeo dengan tidak sabar.


“Manuskrip itu di museum di negara Belanda.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya


“Heh ... kenapa ada di negara kamu?” Ucap Vadeo dengan nada kaget, kecewa dan kesal.


“Ha... ha.. mungkin di sini tidak peduli dengan barang barang macam begitu Bro, jadi negara lain yang merawat nya.. Jangan marah ya hanya bercanda he... he...” ucap Bang Bule Vincent sambil tertawa.


“Apa ada yang bisa menerjemahkan isi dari manuskrip itu Bul?” tanya Vadeo dengan nada serius


“Aku khawatir tidak ada orang yang bisa membaca isi manuskrip itu. Jadi sia sia saja.” Ucap Vadeo selanjutnya dengan nada khawatir.


“Aku coba tanya dulu. Apa sudah ada terjemahan dari isi di manuskrip itu. Karena memang huruf yang ada di dalam manuskrip itu huruf palawa kuno dan dalam bahasa sansekerta kuno.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menatap wajah Vadeo dengan serius.


“Bul, tolong usahakan agar bisa mendapat informasi yang lengkap dari isi manuskrip itu.” Ucap Vadeo selanjutnya.


“Iya Bro.” Jawab Bang Bule Vincent dengan lemah sebab dia pun khawatir tidak ada yang bisa menerjemahkan isi dari manuskrip itu.


Saat Vadeo dan Bang Bule Vincent masih terdiam sibuk dengan pikiran nya masing masing. Tiba tiba hand di dalam saku blazer Vadeo berdering. Vadeo pun segera meraih hand phone nya. Saat dilihat layar hand phone nya, nama kontak Sang istri sedang melakukan panggilan video. Vadeo segera menggeser tombol hijau. Tampak di layar wajah kedua anaknya yang terlihat cantik cantik.


“Papa... tepat puyang... (Papa cepat pulang).” Suara mereka berdua.


“Iya Sayang, sebentar Papa sedang ada pembicaraan hal penting dengan Uncle Vin.” Ucap Vadeo sambil menatap wajah kedua anak nya di layar hand phone nya.


“Potok na hayus puyang cekayang... (pokok nya harus pulang sekarang).” Ucap Valexa dan Deondria dengan lantang lalu sambungan panggilan video berputus.


Vadeo lalu menaruh hand phone nya lagi ke dalam saku blazer nya.


“Bul, aku pulang ya.. perasaan ku tak enak..” ucap Vadeo sambil bangkit berdiri.


“Ha... ha... kangen anak istri kamu Bro.. Aku juga sudah kangen istri. Sana pulang aku juga akan jemput Ixora, dia tugas siang tadi sebentar lagi waktu nya aku harus menjemput nya.” Ucap Bang Bule Vincent sambil tertawa.


...