Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 175.


Sementara itu di pulau Alexandria, di rumah Vadeo dan Alexandria. Setelah acara makan malam. Richardo diizinkan istirahat dan Bang Bule Vincent dipanggil untuk menggantikan Richardo memantau keadaan. Vadeo dan Alexandria kembali ke kamar akan membujuk kedua Mamanya untuk menunda keberangkatan.


“Sayang kamu segera menghubungi Mama Jo.” Ucap Vadeo pada Alexandria saat mereka sudah masuk ke dalam kamar. Alexandria pun segera mengambil hand phone miliknya dan menghubungi Mama Mertuanya.


“Hallo Sayang... mana cucu cucuku aku sangat kangen dengan mereka.” Suara Nyonya Jonathan di balik hand phone milik Alexandria, wajah Nyonya Jonathan pun tampak tersenyum bahagia pada layar hand phone milik Alexandria, karena Alexandria melakukan panggilan video.


“Aca dan Aya sedang bersama Richardo Ma, padahal Richardo jam istirahat, tapi katanya Aca dan Aya kangen dengan Om Richardo demikian juga Richardo.” Ucap Alexandria sambil menatap layar hand phone miliknya. Sementara Vadeo yang duduk di sampingnya memeluk pundaknya dari samping dengan telapak tangan menepuk nepuk pelan sebagai kode agar isterinya itu segera menyampaikan maksudnya.


“Ma, kondisi di pulau belum seratus persen aman. Bagaimana kalau Mama tunda dulu sampai kondisi dan situasi benar benar aman. Alexa juga sangat ingin menjemput Mama di pantai. Nanti kita istirahat dulu di villa pantai.” Ucap Alexandria selanjutnya dengan nada serius.


“Tidak bisa Al. Aku dengar kondisi sudah aman. Bahkan beberapa teman temanku juga ingin ikut ke pulau Alexandria.” Suara Nyonya Jonathan di balik hand phone milik Alexandria.


“Aku dan Oma William juga sudah pesan ikan laut yang kamu inginkan itu. Bagaimana kalau ditunda bisa busuk itu ikan ikan laut yang berkontainer banyaknya. Aku tidak ingin cucu cucuku ngeces karena ingin ikan laut diberi ikan asin sama Papanya.” Ucap Nyonya Jonathan lagi sambil menatap wajah Vadeo yang juga tampak di layar hand phone miliknya.


“Sudahlah Al, paling orang orang di kapal itu sudah tidak berdaya. Tugas Vadeo dan Bule untuk menjaga kami agar sampai dengan selamat bertemu dengan kalian semua. Okey.... Sampai jumpa besok pagi....” ucap Nyonya Jonathan lalu sambungan panggilan video itu pun diputusnya. Alexandria berkali kali mencoba menghubungi lagi akan tetapi hand phone milik Sang Mama Mertua sudah tidak aktif lagi.


“Sudah tidak aktif Pa, hand phone Oma Jo.” Ucap Alexandria lalu mengusap usap layar hand phone miliknya lagi untuk menghubungi kontak nama Mama William.


“Hmmm Mama susah sekali diberi tahu. Ini gara gara dua pengawal yang mengatakan kondisi sudah aman.” Gumam Vadeo sambil menatap istrinya yang masih berusaha menghubungi Mama William.


“Mungkin maksud dua pengawal itu agar Papa Jo dan Papa William tenang hatinya.” Ucap Alexandria sambil terus berusaha menghubungi nomor hand phone Mama William.


“Saking tenangnya sampai Oma Oma nekat mau datang.” Gumam Vadeo lagi lalu dia bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kamar untuk menuju ke ruang kerjanya. Vadeo tampak wajahnya sangat kusut. Karena dia yakin Oma William pun sama tidak bisa dicegah keinginannya untuk datang ke pulau Alexandria.


Vadeo terus melangkah menuju ke ruang kerjanya.


“Bul, bagaimana?” tanya Vadeo saat membuka pintu ruang kerjanya.


“Masih ada kapal karet yang lolos dari pengejaran. Karena gelap kapal karet itu pun warna gelap, orang orang di dalam kapal melepas baju pelampung yang warna terang itu jadi orang orang kita kesulitan dalam pengejarannya.” Jawab Bang Bule Vincent masih terus memantau keadaan. Vadeo pun turut menemani di dekatnya, sambil dia membalas email email penting yang masuk.


Waktu pun terus berlalu, dan pagi hari pun telah tiba. Nyonya Jonathan memberi kabar pada Alexandria jika mereka jadi berangkat ke pulau Alexandria.


“Pa.. “ ucap Alexandria sambil menggoyang goyang kaki Vadeo pelan pelan.


“Ma.. Nanti saja, jika pesawat sudah datang biar Oma Oma menunggu dulu di villa.” Ucap Vadeo masih dengan mata terpejam. Alexandria yang tidak tega melihat suaminya yang masih ngantuk berat pun akhirnya mengalah. Dia pun menghubungi lagi Mama Mertua agar menunggu dulu di Villa pantai.


Sementara itu di lain tempat di lapangan golf milik Tuan Jonathan. Nyonya Jonathan dan Nyonya William sudah berada di dalam mobil golf yang siap membawa mereka ke tempat pesawat terparkir. Tuan Jonathan dan Tuan William pun ada di sana untuk mengantar isteri isteri tercinta mereka.


Mobil golf yang membawa Tuan Nyonya Jonathan dan Tuan Nyonya William pun mulai berjalan menuju ke tempat pesawat. Semua barang barang bawaan juga sudah masuk ke dalam bagasi pesawat.


Di belakang mereka ada satu buah mobil golf yang juga berjalan mengikuti mobil golf yang mereka tumpangi itu. Di dalam mobil golf itu duduk dua orang pengawal dan satu anjing pelacak permata.


“Ma hati hati ya...” ucap Tuan Jonathan dan Tuan William secara bersamaan sambil menatap istri mereka masing masing saat mobil golf sudah berhenti di dekat tangga pesawat. Kedua pasangan suami istri itu pun turun dari mobil golf Tuan Jonathan dan Tuan William masih mengantar istri mereka masuk ke dalam pesawat. Kedua Opa Opa itu bagai tidak ingin melepas kepergian istri istri tercintanya.


“Sudah Opa Opa cepat turun. Pesawat sudah mau take off.” Ucap Nyonya William saat melihat dua pengawal dan anjing pelacak permata sudah masuk ke dalam pesawat.


“Mama harus nurut pada anak anak jangan ngeyel.” Ucap Tuan William sambil mengecup puncak kepala istrinya. Tuan Jonathan pun melakukan hal yang sama pada Istrinya.


“Hmmm istriku sekarang lebih ngeyel karena pengaruh besan perempuanku.” Gumam Tuan Jonathan dalam hati. Dua Opa Opa itu pun akhirnya turun dari dalam pesawat jet pribadi milik Vadeo.


Setelah kedua Opa itu sudah turun. Pintu pesawat tertutup dengan rapat. Dan pesawat pun mulai berjalan dan selanjutnya lepas landas mengudara menuju ke pulau Alexandria.


Setelah satu jam mengudara, pak pilot mulai mengurangi tingkat ketinggiannya. Akan tetapi tiba tiba di ruang awak pesawat. Terdengar informasi dari bawah tempat pesawat akan mendarat dalam kondisi waspada. Petugas di pos keamanan melihat kapal karet dan sedang dalam pengejaran.


“Bagaimana Bos?” tanya asisten Pilot yang juga mendengar informasi itu.


“Tetap turun. Kekuatan mereka hanya kecil saja. Berikan informasi pada penumpang agar tidak panik jika proses landing tidak seperti dalam kondisi normal.” Ucap Pak Pilot. Asisten pilot pun lalu pergi ke kabin penumpang ditemani oleh beberapa kru pesawat, untuk menyampaikan informasi itu.


“Oooo jadi benar yang dibilang Vadeo mereka masih berkeliaran di perairan.” Gumam Nyonya Jonathan yang kini tampak mulai panik.


“Tapi kan Asisten Pilot bilang kekuatan mereka kecil. Paling ibarat nyamuk nyamuk yang mengganggu. Sudah tenang saja berdoa agar selamat...” ucap Nyonya William memberi ketenangan pada besan perempuannya meskipun di dalam hatinya dia pun juga panik.