
“Ayo Beb, aku tahu kamu pun sudah mau lagi...” ucap Richie yang semakin mempercepat gerakan jari jarinya sebab dia merasakan tubuh wanita penghibur itu sudah mulai bereaksi. Tangan wanita penghibur itu lalu juga mulai meraba raba tubuh Richie dan mencari cari bagian tubuh Richie yang sudah mulai menegang. Mulut wanita penghibur itu pun mulai bersuara mendesah karena menikmati gerakan gerakan yang dibuat oleh jari jari Richie atau pun lidah Richie.
Mendengar suara berisik dan tempat tidur bergerak gerak, wanita penghibur lainnya yang tidur pun mulai bangun. Dan mereka turut serta bergabung pada aksi dan reaksi di tempat tidur yang luas itu.
Kamar tempat Tuan Njun Liong pun sama seperti kamar tempat Richie. Tuan Njun Liong pun tidak mau rugi telah membayar wanita wanita penghibur itu. Bahkan Tuan Njun Liong rela hanya tidur setengah jam saja, lalu berlanjut lagi untuk menikmati para wanita yang sudah dibayarnya itu. Apalagi tadi siang Tuan Njun Liong sudah mempersiapkan pertempuran yang bakal digelar dia sudah tidur sesiang suntuk. Maksudnya sepanjang siang hari.
“Tuan saya sudah capek dan ngantuk.” Ucap salah satu wanita penghibur yang sudah selesai melayani Tuan Njun Liong. Lalu dia berjalan ke sofa yang ada di dalam kamar itu dan berbaring di sana agar tidak diganggu oleh Tuan Njun Liong lagi. Tuan Njun Liong tidak memedulikan sebab dia sedang sibuk dengan wanita penghibur lainnya. Hingga fajar tiba dan perut mereka pun sudah mulai merasakan lapar. Mereka semua pun kini sudah terkapar di tempat tidur yang luas itu.
“Terima kasih buat kalian semua. Aku tidak menyangka di kota kecil ini ada wanita wanita hebat seperti kalian semua. Suatu hari nanti aku akan datang lagi menemui kalian.” Ucap Tuan Njun Liong sambil tidur terlentang dengan nafas ngos ngosan.
Dan waktu pun terus berlalu hingga jam sarapan pagi pun tiba.
TOK TOK TOK
TOK TOK TOK TOK
Pintu kamar tempat Tuan Njun Liong terdengar suara ketukan. Salah satu wanita penghibur itu pun memakai bath robe sekenanya lalu berjalan menuju ke pintu kamar. Saat pintu kamar di buka tampak seorang petugas pantry hotel dengan tubuh yang gagah tangannya masih memegang meja dorong yang tampak di atas meja itu penuh dengan menu sarapan. Meja dorong itu dilapisi taplak kain satin berlipat lipat cantik menjuntai menutupi kolong meja dorong itu.
“Makan pagi sudah siap Nona.” Suara petugas pantry hotel itu, yang tidak lain itu adalah suara Vadeo.
“Terima kasih.” Ucap wanita penghibur itu lalu menarik meja dorong dibawa masuk ke dalam kamar. Pintu kamar pun segera ditutup.
“Kok berat sih. Beda dengan tadi malam.” Gumam wanita penghibur itu sambil terus menarik meja dorong itu.
Dan saat meja dorong itu sudah sampai di dekat tempat tidur. Tiba tiba taplak meja yang menjuntai berlipat lipat terbuka dan muncul satu sosok anak kecil yang tidak lain adalah Valexa. Valexa tangan mungilnya sudah siap menggenggam senjata dengan ukuran kecil pas di tangan mungilnya.
“Hei siapa kamu!” teriak wanita penghibur yang menarik meja dorong itu dengan kaget. Semua yang ada di dalam kamar itu pun juga kaget.
“Hai apa yang akan kamu lakukan di sini?” teriak Tuan Njun Liong dengan nada tinggi masih berada di atas tempat tidur dan dengan cepat dia menutupi tubuh bagian bawahnya dengan bantal. Wanita penghibur itu tidak berani mendekati Valexa sebab tangan Valexa mengarahkan senjata yang dia pegang pada orang yang akan mendekati dirinya.
“Atu biyang tepada tamu danan dandu puyo Ayetandiya.. (Aku bilang kepada kamu jangan ganggu pulau Alexandria..).” Teriak Valexa sambil mengarahkan senjata ke sosok Tuan Njun Liong.
“Cepat kamu kunci pintu kamar itu!” perintah Tuan Njun Liong pada salah satu wanita penghibur . Wanita penghibur yang tadi menarik meja dorong pun segera berlari menuju ke pintu.
Akan tetapi dengan cepat Valexa menekan pelatuk senjata yang dipegang dan sebuah peluru senjata rahasia meluncur tepat mengenai kepala Tuan Njun Liong.
“Ha... Ha.... Ha... bocah kamu bermain main dengan aku, senjata api mainan kamu pakai... Ha... Ha.... Ha.. Lucu lucu sangat lucu kamu... maka Tuan Richie akan mengambil kamu.. Ha... Ha... Ha.... “ suara Tuan Njun Liong sambil tertawa terbahak bahak. Sedangkan Valexa segera berlari dan menarik dengan kuat pintu yang sudah terkunci itu. Semua yang ada di dalam kamar tampak bengong melihat anak kecil itu bisa keluar dari pintu yang sudah terkunci.
Tuan Njun Liong lebih bengong lagi sebab tiba tiba pandangan matanya berkabur, wajah dan tubuhnya mulai gatal gatal..
“Hah? Kenapa aku tidak bisa melihat sekarang!” teriak Tuan Njun Liong sambil menggaruk wajah dan tubuhnya.
Sementara itu setelah keluar dari pintu kamar Tuan Njun Liong, Valexa segera ditangkap oleh Vadeo dan digendongnya.
“Sayang kamu tidak apa apa?” tanya Vadeo sambil menggendong Valexa.
“Papa cudah teyepon badian keamanan (papa sudah telepon bagian keamanan)?” tanya Valexa dengan nada serius.
“Sudah Sayang, tuh mereka sudah datang.” Jawab Vadeo yang melihat beberapa petugas keamanan datang menuju ke kamar Tuan Njun Liong.
“Tita yiat Aya Pa, apa diya cudah ceyece.. (Kita lihat Aya Pa, apa dia sudah selesai).” Ucap Valexa selanjutnya. Vadeo pun mempercepat langkah kakinya untuk menuju ke kamar tempat Richie berada.
Vadeo terus melangkah dan mulai menaiki anak tangga sebab letak kamar Richie di lantai dua. Dan di hotel itu tidak ada lift nya. Saat kaki Vadeo sudah menginjak di lantai dua. Tampak Vadeo bingung akan melangkah ke kanan atau ke kiri.
“Te tiyi Pa (Ke kiri Pa).” Suara Valexa sebab dia tahu jika Sang Papa sedang bingung. Vadeo pun membelokkan langkah kakinya ke arah kiri seperti yang Valexa bilang. Vadeo terus melangkah.
Dan beberapa saat kemudian Vadeo dan Valexa melihat sosok laki laki gagah tinggi besar dengan memakai baju seragam karyawan bagian pantry yang bagian lengan baju dan celana bagian ujung tampak congkrang alias tidak sampai di mata kaki atau mata tangan. Laki laki itu tidak lain adalah Bang Bule Vincent. Tampak Bang Bule Vincent berjalan mondar mandir dengan gelisah di depan kamar yang ditempati oleh Richie. Vadeo pun segera mempercepat langkah kakinya. Saat Bang Bule Vincent melihat kedatangan Vadeo dan Valexa.
“Bro, bagaimana?” tanya Bang Bule Vincent yang menghentikan langkah mondar mandir nya.
“Harusnya aku yang bertanya. Bagaimana Deondria di dalam? Kenapa kamu malah mondar mandir di depan kamar?” ucap Vadeo balik bertanya.