Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 182.


Pak Sopir yang dulu pingsan di atas bukit pohon asam itu masih memegang hand phone miliknya yang sudah terputus sambungan teleponnya dengan ibu pelayan, terus berlari menuju ke pantai tempat di mana keluarga Vadeo dan Bang Bule Vincent sedang bersenang senang bermain main di pantai.


Saat sudah di dekat pantai tampak Vadeo dan Bang Bule Vincent sedang berenang di air laut yang ombaknya tidak berbahaya. Karena lokasi Villa menghadap pada pantai lautan yang tidak dalam. Mereka berdua sedang mengadakan lomba renang.


Sedangkan Alexandria dan Ixora terlihat hanya tiduran di atas pasir pantai yang terkadang ada air laut yang menyentuh bagian bawah tubuh mereka karena angin yang menyebabkan riak kecil gelombang ombak, yang membawa air laut itu.


Sementara Valexa dan Deondria tampak sibuk bermain main pasir di dekat Alexandria dan Ixora, dan ditemani oleh dua pengasuh mereka. Kedua bocah itu kadang kadang menutupi kaki mulus Alexandria dan Ixora dengan pasir dan kedua nya akan bahagia jika tiba tiba ada air yang membersihkan kaki kaki sang Mama dan sang Aunty.


“Nyonya... Nyonya... gawat.. gawat.. Nyonya..” teriak Pak Sopir sambil terus berlari mendekati pada mereka yang sedang bersantai santai di pantai. Alexandria dan Ixora pun spontan menoleh ke arah sumber suara dan selanjutnya mereka berdua bangkit dari tidurannya dan mendudukkan pantatnya. Kedua pengasuh si kembar itu juga menoleh ke arah Pak Sopir yang berlari lari mendekat. Sedangkan Valexa dan Deondria tampak tenang tenang saja masih bermain main dengan pasir.


“Ada apa Pak?” tanya Alexandria dan Ixora secara bersamaan saat Pak Sopir sudah berdiri di dekat mereka.


“Nyonya Jonathan dan Nyonya William pergi ke bukit pohon asam.” Jawab Pak Sopir masih dengan nada dan ekspresi wajah panik.


“Haduh Mama kenapa nekat begitu sih, disuruh istirahat baik baik kok malah pergi ke bukit.” Ucap Alexandria lalu dia bangkit berdiri dan melambai lambaikan tangannya ke arah Vadeo dan Bang Bule Vincent yang masih lomba berenang di laut. Vadeo yang melihat Sang istri tercinta sedang melambai lambaikan tangannya ke arahnya dia segera berenang lebih cepat ke arah Istri dan anak anaknya berada dan selanjutnya dia berdiri dan berlari menuju mendekati istrinya. Bang Bule Vincent yang melihat ada hal yang tampak mengkhawatirkan pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Vadeo.


“Ada apa Ma?” tanya Vadeo saat sudah berada di dekat Alexandria. Alexandria pun menceritakan jika dua Oma berangkat ke bukit pohon asam.


“Hmm pasti Mama akan mencari permata di sana. Bisa Gawat jika mereka menuju ke bangunan bawah tanah itu. Bisa bisa hilang atau dimakan binatang liar.” Ucap Vadeo tampak panik, Bang Bule Vincent yang mendengar pun juga tampak panik membayangkan jika Oma Oma itu menyusuri lorong lorong gelap menuju ke bangunan bawah tanah.


Sementara Valexa dan Deondria tampak masih asyik bermain main dengan pasir.


“Tenang Papa.. Oma Oma paying duda bayik puyang.. (Tenang Papa... Oma Oma paling juga balik pulang).” Ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan sambil menoleh dan mendongak menatap Sang Papa yang siap siap akan meninggalkan pantai menuju ke Villa. Mendengar kalimat yang diucapkan oleh kedua anaknya, Vadeo pun sedikit tenang.


“Apa Oma Oma baik baik saja Sayang?” tanya Vadeo sambil menatap kedua anak anaknya yang masih asyik bermain main dengan pasir. Semua orang yang berada di tempat itu pun tampak menatap Si Kembar menunggu jawaban dari Si Kembar. Valexa dan Deondria tampak saling pandang dan lalu mengangkat kedua pundak mereka dan bibir tersenyum.


Vadeo mengernyitkan dahinya. Lalu dia menoleh ke arah Pak Sopir dan meminjam hand phone milik Pak sopir. Vadeo pun lalu melakukan panggilan video pada nama kontak Nyonya Jonathan dan Nyonya William. Akan tetapi panggilan itu tidak diterima.


“Apa mungkin karena nomor kamu jadi Oma Oma itu tidak menerimanya.” Gumam Vadeo yang masih tampak khawatir.


“Telepon pak sopir pantai saja Tuan.” Ucap Pak Sopir memberi saran. Dan Vadeo pun langsung mengusap usap layar hand phone milik pak sopir itu mencari nama kontak pak sopir pantai.


“Hei ada apa? Mengganggu orang tidur saja.” Suara laki laki di balik hand phone milik pak sopir yang sedang dibawa oleh Vadeo itu.


“Kamu enak enak tidur disuruh kerja! Di mana Mama Jo dan Mama William?” teriak Vadeo yang membuat pak sopir pantai di seberang sana kaget tidak terhingga karena tidak mengira yang menghubungi Tuan Vadeo.


“Tuan.... tapi itu Tuan ... maaf ... itu Tuan...” suara Pak sopir yang kini nada suara nya semakin ketakutan, karena di sebarang sana Pak Sopir melihat anjing turun lari terbirit birit dan di belakangnya tampak sosok sang pengawal menggotong tubuh sang Nyonya di belakang punggungnya.


“Ada apa?” tanya Vadeo dengan nada khawatir dan tidak sabar.


“Mereka sudah turun tapi ... tapi....” suara Pak sopir tampak panik sambil membuka pintu mobil dan dia keluar dari mobil. Sang anjing pelacak pun melihat ada celah pintu mobil dia langsung melompat masuk dan bersembunyi di kolong jok depan.


“Hai ada apa?” teriak Vadeo akan tetapi sambungan teleponnya terputus sebab pak sopir sibuk akan membantu sang pengawal yang tampak agak kesulitan membawa tubuh Nyonya Nyonya itu hingga tidak sengaja memutus sambungan telepon dengan Vadeo.


Vadeo pun melakukan panggilan ulang lagi karena dia masih penasaran dan mengkhawatirkan keadaan Mama Mamanya.


“Bagaimana Pa?” tanya Alexandria yang juga tidak kalah khawatir.


“Bagaimana Bro?” tanya Bang Bule Vincent yang juga khawatir. Vadeo tidak menjawab karena masih menunggu panggilan nya diterima.


Sesaat kemudian...


“Tuan... Nyonya Nyonya pingsan!” suara Pak sopir pantai di balik hand phone milik pak sopir yang sedang dibawa oleh Vadeo. Dan sambungan pun terputus kembali.


“Mama pingsan.” Ucap Vadeo selanjutnya sambil menyerahkan hand phone milik Pak Sopir.


“Kita sekarang pulang.” Ucap Vadeo sambil menatap isterinya, anak anaknya juga Bang Bule Vincent dan Ixora. Tampak ekspresi wajah Alexandria sangat kecewa.


“Kita lihat Oma Oma dulu, besok kita bisa datang lagi ke sini.” Ucap Vadeo sambil memeluk tubuh Alexandria dari samping dan mengusap usap perut datar Alexandria.


“Papa... Oma Oma cebental duda cembuh.. (Papa.. Oma Oma sebentar juga sembuh....)” ucap Valexa dan Deondria sambil menatap Sang Papa, karena kedua bocah itu melihat ekspresi wajah kecewa Sang Mama dan mereka juga tahu pingsan nya Sang Oma Oma seperti pingsan nya Sang Papa atau Sang sopir.


“Iya tapi kita harus melihat Oma Oma, nanti Opa Opa marah pada kita.. yuk Sayang.... koper kita biar di villa sini.” Ucap Vadeo sambil meraih tubuh salah satu anaknya lalu digendongnya dan yang satunya diambil oleh Bang Bule Vincent lalu digendong oleh Bang Bule Vincent.


“izin enak enak d sungai dicabut aku mau enak enak di laut tidak jadi dech..” gumam Bang Bule Vincent lirih di telinga Vadeo.


“Aku juga sudah membayangkan bersesi sesi gagal total.. sudahkah masih ada waktu dari pada kita dituduh sebagai anak dan menantu durhaka.” Gumam Vadeo yang juga lirih di kuping Bang Bule Vincent.