Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 139.


Keempat pemuda itu berangkat menggunakan taxi menuju ke terminal bis antar kota yang jaraknya kira kira sepuluh kilo meter dari rumah penginapan mereka. Keempat pemuda itu hanya diam saja di dalam mobil taxi on line yang mereka tumpangi, sibuk dengan pikiran mereka masing masing. Sopir taxi on line pun juga diam saja tidak berani bertanya tanya.


Setelah beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di depan terminal bis antar kota.


“Mobil taxi hanya bisa mengantar sampai di sini.” Ucap sopir taxi sambil menghentikan mobilnya. Keempat pemuda itu pun segera turun dari dalam mobil. Salah satu dari mereka sudah membayar lewat dompet digital nya yang sudah diisi nominalnya oleh Eveline.


Ke empat pemuda tampan dan gagah itu berjalan masuk ke dalam terminal dengan hati yang berdebar debar. Salah satu dari mereka bertanya tentang bis yang menuju ke letak kota tempat tinggal Mamah Mimi. Setelah mendapat informasi keempatnya melangkah lebih cepat menuju ke jalur bis yang menuju ke kota Mamah Mimi.


Suasana di terminal bis antar kota itu tampak ramai banyak orang orang lalu lalang mencari bis yang akan ditumpangi juga teriakan para calo calo atau kru bis yang menawarkan bis bis mereka. Terlihat juga beberapa pemuda pemuda gagah dan tampan yang berjalan menuju ke jalur bis yang sama dengan yang dituju oleh keempat pemuda tampan utusan Bang Bule Vincent.


“Itu Bro, kita masuk ke bis yang paling depan agar cepat jalan tidak menunggu lama.” Ucap salah satu dari mereka sambil berjalan lebih cepat.


“Apa kamu sudah tidak sabar untuk menjalankan tugasmu.” Ucap salah satu lainnya yang berjalan di barisan paling belakang. Kedua pemuda lainnya hanya tersenyum datar dan terus melangkah menuju ke bis yang dituju.


“Ayo ayo yang mau melamar pekerjaan masuk ke bis paling depan sudah siap berangkat.” Teriakan salah seorang kru bis. Karena dia mendengar perbincangan para penumpangnya tentang lowongan pekerjaan di kota tempat Mamah Mimi tinggal.


Saat masuk ke dalam bis yang dituju, keempat pemuda itu tampak kaget sebab di dalam bis sudah ada banyak pemuda tampan dan gagah dengan wajah yang segar berseri seri duduk di dalam bis.


Keempat pemuda utusan Bang Bule Vincent itu akhirnya mendapatkan tempat duduk di bagian paling belakang. Dan tidak lama kemudian bis itu berjalan meninggalkan terminal menuju ke kota tujuan.


“Mau melamar pekerjaan juga ya dik?” tanya kru bis yang duduk di jok paling belakang di dekat pintu belakang bis, sambil menoleh ke arah empat pemuda utusan Bang Bule Vincent. Keempat pemuda itu menganggukkan kepalanya.


“Semoga lolos, sudah banyak yang mendaftar tapi mereka yang mendaftar pulang lagi katanya mau dihubungi kalau sudah mulai bekerja.” Ucap kru bis itu dengan keras untuk mengalahkan suara mesin bis dan suara klakson bis yang sedang dibunyikan oleh Pak Sopir.


“Dan siapkan uang pendaftaran lima ratus ribu rupiah. Kemarin banyak yang pulang lagi karena tidak membawa uang pendaftaran. Katanya untuk biaya pembelian seragam, baju dan sepatu.” Teriak kru bis itu lagi.


“Hah? Di dalam persyaratan tidak ada uang pendaftaran.” Ucap salah satu dari keempat pemuda utusan Bang Bule Vincent dengan suara berteriak pula.


Bis terus melaju, setelah perjalanan kira kira dua jam lebih bis sudah memasuki terminal kota tempat Mamah Mimi tinggal. Para penumpang yang sebagian besar pemuda pemuda tampan, gagah dengan wajah yang berseri seri penuh harapan untuk mendapatkan sumber penghidupan itu segera turun dari bis. Sementara keempat pemuda utusan Bang Bule Vincent masih duduk tenang meskipun pintu belakang bis sudah terbuka, akan tetapi tampak pintu itu juga berjubel karena penumpang berebut untuk turun.


Setelah seluruh isi penumpang habis keempat pemuda itu mulai bangkit berdiri dan turun dari bis. Tampak kru bis yang tadi bertanya berdiri di bawah pintu.


“Semoga sukses dik, kalian bisa menuju ke tempat hotel itu dengan memakai bis kota atau taxi on line.” Ucap kru bis itu sambil menatap keempat pemuda utusan Bang Bule Vincent.


“Terima kasih Bang.” Ucap keempat pemuda utusan Bang Bule Vincent. Keempatnya terus berjalan mengikuti penumpang lainnya menuju ke jalur bis kota.


“Kasihan mereka begitu berharap mendapatkan pekerjaan, dan hanya dimanfaatkan oleh orang orang jahat.” Ucap salah satu pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent. Dan ketiga temannya menganggukkan kepalanya.


Sementara itu di tempat lain, di pulau Alexandria. Valexa dan Deondria mengajak ke luar dari bantuan istana, setelah mereka berdua sudah sarapan makan roti dan minum susu kiriman dari Sang Mama.


“Ca, Ya.. Papa dan Uncle ingin buat kopi nich apa kalian tahu tempat peralatan dapur?” tanya Vadeo pada kedua anaknya.


“Di cana dauh di beyatang ada dapul tapi na ayat ayat na becal becal. Ambik di yuang matan ada teko teko kecing itu aja Pa.. bica buat macak ail.. (di sana jauh di belakang ada dapur tapi alat alat nya besar besar. Ambil di ruang makan ada teko teko kecil itu saja Pa.. bisa buat masak air).” Ucap Deondria . Lalu Deondria menarik telunjuk jari Sang Papa untuk ditunjukkan ke tempat ruang makan. Dan saat di ruang makan. Deondria menunjuk pada sebuah buffet kuno antik. Dari balik kaca buffet itu tampak di dalamnya peralatan makan dan diminum. Vadeo pelan pelan membuka pintu kaca buffet itu. Agar susah dia membukanya mungkin karena banyak debu menempel atau karena sudah begitu lama tidak dibuka.


“Sayang ini Oma Jo dan Oma William pasti sangat senang dengan barang barang ini. Pasti akan marah kalau teko ini kita panasi dengan api kayu bakar.” Ucap Vadeo saat melihat isi di dalam buffet itu. Karena dalam kondisi darurat akhirnya Vadeo mengambil satu teko kecil yang terbuat dari logam kuningan. Dan mengambil empat cangkir keramik antik.


Sementara Valexa sudah mengajak Bang Bule Vincent keluar dari istana sambil menyuruh Bang Bule Vincent membawa hand phonenya.


Bang Bule yang tadi mendengar Vadeo mencari alat dapur untuk memasak air, dia pun bersama Valexa menuju ke tempat mereka membakar daging kelinci kemarin untuk membuat api dari ranting ranting yang ada. Saat Bang Bule Vincent sedang mengatur ranting ranting. Terdengar suara dering di hand phone miliknya. Bang Bule Vincent pun segera mengambil hand phone dari saku celana cargonya.


“Aunty Eveline.” Gumam Bang Bule Vincent saat melihat di layar hand phone nya tertera nama kontak Eveline melakukan panggilan suara. Bang Bule Vincent pun segera menggeser tombol hijau. Tampak Valexa duduk jongkok sambil jari jari mungilnya menggantikan Bang Bule Vincent mengatur ranting ranting akan tetapi telinganya siap untuk ikut mendengarkan percakapan Bang Bule Vincent.