
Sementara itu kapal anak buah Tuan Njun Liong sudah memasuki perairan Indonesia lewat pintu masuk secara ilegal.
“Benar kan yang aku katakan asal kita punya uang banyak kita bisa masuk ha... ha... ha...” ucap laki laki anak buah Tuan Njun Liong yang bertubuh tinggi dan kekar berkulit cokelat terang.
“Benar asal kita bayar mahal uangnya bisa untuk beli tanah atau mobil lumayan bagus pasti kita boleh masuk.” Ucap laki laki bertubuh besar dan tinggi berkulit hitam, sambil tersenyum lebar sebab nya kapalnya sudah bisa masuk ke perairan Indonesia .
“Hmmm.. meskipun para penjaga itu sudah mendapat gaji tinggi dengan segala tunjangan dan fasilitas hingga masuk di alam kubur. Tetap saja tergoda jika ada pemasukan liar ha.... ha....” ucap laki laki yang berkulit cokelat terang.
“Sama macam kita meskipun dapat bagian dari bos kita tetap menyembunyikan barang yang kita dapat agar dapat tambahan ha... ha...ha...” ucap laki laki berkulit hitam itu sambil tertawa terbahak bahak.
“Kalau ketahuan paling hanya diminta kembali oleh Bos. Dikeluarkan sementara lalu diajak kerja sama lagi kik... kik... kik...” ucapnya lagi sambil tertawa terkekeh kekeh.
Saat mereka berdua masih tertawa tawa, menertawakan petugas pintu masuk dan juga menertawakan dirinya sendiri dan Tuan Njun Liong. Tiba tiba hand phone di dalam saku bajunya berdering. Laki laki bertubuh besar dan tinggi berkulit hitam itu lalu segera mengambil hand phone dan tampak dia menatap layar hand phone nya.
“Yang kita omongin menelepon. “ ucap nya kemudian sambil menggeser tombol hijau. Tuan Njun Liong sedang menghubungi dirinya. Karena Tuan Njun Liong baru saja mentransfer uang dollar nya dengan nominal yang fantastis.
“Bagaimana?” suara Tuan Njun Liong di balik hand phone laki laki berkulit hitam itu.
“Beres Tuan, sudah on the way menuju pulau surga itu.” Jawab laki laki berkulit hitam itu.
“Syukurlah, uang untuk kunci masuk itu tidak seberapa dengan hasil yang kita dapat nanti ha... ha... ha....” suara Tuan Njun Liong dengan nada tawa bahagia.
“Okey. Lanjutkan kerja kalian dan terus beri informasi perkembangannya. Aku akan bersenang senang dulu dengan wanita wanita ku ha... ha... ha....” suara Tuan Njun Liong di balik hand phone laki laki berkulit hitam itu. Terdengar tawa Tuan Njun Liong terbahak bahak bahagia, lalu sambungan telepon itu terputus.
Setelah sambungan teleponnya dengan Tuan Njun Liong sudah terputus, laki laki berkulit hitam itu lalu menaruh lagi hand phone di dalam saku bajunya. Dia lalu bertepuk tangan sebanyak tiga kali. Seorang wanita yang duduk di depan meja bar yang ada di kapal itu menoleh. Laki laki berkulit hitam itu lalu melambaikan tangannya sebagai kode agar wanita itu datang mendekat.
Wanita cantik sexy dengan make up tebal dan baju minim itu pun segera datang mendekat. Saat sudah datang mendekat dia langsung mengalungkan tangannya pada leher laki laki berkulit hitam itu dengan tubuh sexy nya yang menempel pada tubuh kekar laki laki berkulit hitam itu.
“Kenapa kamu datang hanya membawa tubuhmu saja hmmm.” Ucap laki laki berkulit hitam itu sambil mencium bibir berlipstik tebal itu tidak lupa jari jari kekarnya meremas benda empuk menonjol yang menempel di dada wanita itu.
“Ambilkan minuman paling memabukkan aku akan bersenang senang sebelum masuk ke pulau itu.” Ucap laki laki berkulit hitam itu yang tidak mau kalah dengan Tuan Njun Liong. Sedangkan laki laki temannya menghisap cerutu nya dalam dalam sambil tersenyum dengan hanya satu sudut bibir nya saja yang terangkat.
Kapal terus melaju menuju ke pulau Alexandria.
Sementara itu di pulau Alexandria. Semua alarm tanda bahaya sudah diaktifkan. Para petugas keamanan mulai siap siaga. Terutama para petugas di perbatasan.
“Kak, lanjut makannya. Meskipun tidak ada selera makan kita tetap harus makan.” Ucap Ixora yang melanjutkan lagi mengambil menu makannya.
“Aku berharap mereka tidak menginap di bukit itu.” Gumam Alexandria sambil mengucapkan satu sendok nasi putih ke dalam mulutnya.
“Kak... ibu hamil harus makan menu bergizi.” Ucap Ixora mengingatkan kakaknya karena tampak di piring Alexandria hanya ada nasi putih dalam porsi kecil.
“Hah... sampai lupa pikiran ku kacau Ix...” gumam Alexandria lalu menyendok sayur di taruh ke dalam piring nya dan lauk pauk lainnya.
Sedangkan di bukit pohon asam. Pak Sopir yang tersesat sudah bisa menemukan kembali letak pohon asam. Dia duduk bersila di bawah kursi singga sana Valexa dan Deondria yang tampak bercahaya di malam hari. Pak Sopir itu mengisi perut nya dengan buah buah lezat yang tertinggal di situ. Sementara hand phone sudah tidak bisa digunakan lagi karena batere sudah benar benar habis.
“Sudah gelap begini kenapa mereka belum juga sampai di sini. Apa aku sudah ditinggal pulang.” Gumam Pak sopir yang mulai gelisah.
“Tapi pasti kalau Tuan Vadeo turun sampai bawah akan kembali lagi ke sini untuk mencari aku. Kunci mobil kan aku bawa.” Gumamnya lagi karena dia tidak tahu jika di bawah bukit ada mobil dan sopir lainnya.
“Hhiiii tapi ngeri juga.” Gumam Pak sopir itu lagi lalu memejamkan matanya agar tidak melihat gelap nya malam. Dia takut jika tiba tiba ada penampakan makhluk yang mengerikan. Suara suara binatang malam pun sudah mulai terdengar. Semakin membuat suasana mencekam.
Sesaat kemudian telinga pak sopir mendengar suara krusek krusek di semak semak yang tidak jauh dari tempat dia duduk bersila.
“Apa itu langkah kaki mereka ya..” gumam Pak Sopir lalu memberanikan diri membuka mata nya dengan pelan pelan. Akan tetapi pak sopir langsung memejamkan matanya lagi sambil kini memeluk lututnya dengan erat.
“Itu mata apa ya.. mata hantu apa mata macan.. hiii...” gumam Pak Sopir dalam hati tubuhnya gini sudah mulai gemetaran karena baru saja dia melihat sorot dua mata di balik semak semak. Dan beberapa saat kemudian..
“Meoooooong....” Dan hap.. Suara kucing hutan yang sudah sudah sukses menerkam satu ekor tikus.
Mendengar itu hati Pak Sopir sedikit tenang, akan tetapi jantung nya masih berdebar debar.
“Tuan Vadeo cepatlah datang.” Gumam Pak sopir dalam hati yang masih memejamkan matanya dan memeluk kedua lutut nya dengan erat.
“Nona Nona Kecil kenapa suka bermain main di tempat mengerikan seperti ini. Buah buah di sini memang enak enak, tapi kenapa sampai malam. Tadi Tuan Vadeo mengatakan baik baik saja hanya jaringan tidak ada. Tapi kenapa sampai malam begini belum kembali. Bagaimana kalau mereka tersesat seperti aku tadi atau hiiii...” gumam Pak Sopir lagi di dalam hati dia mengkhawatirkan jika kalau kalau ada yang diterkam binatang buas...
Dan tiba tiba.....